Friday, February 25, 2011

Ketika Pedagang Kelontong ''Dipaksa'' Menjual Sie Jie

Seribuan orang-orang mengepung Mapolsek. Seribuan nyawa berteriak bakar-bakar. Seribuan jiwa mengecam aparat. Seribuan manusia menanggalkan logika berfikir positif. Seribuan ini tersulut ruang emosinya karna tiga jiwa yang bertindak semena-mena.
   Desa Ranah Kecamatan Air Tiris Kabupaten Kampar Rabu (23/2) yang tenang menjadi riuh dalam kecekaman. Zulkifli (48) berdarah. Pedagang kelontong yang harus ''dipaksa'' menjual Sie Jie oleh orang-orang yang dalam kodrat keberadaanya harus menegakkan yang benar adalah benar. Bukan membalikkan yang benar adalah salah dan yang salah adalah benar. Dan jikapun sekalian Zulkifli adalah penjual Sie Jie, apakah membenarkan untuk dipukuli?.
  Muak. Benci. Jengkel. Gregetan dan nyebelin kata-kata yang bersemayam di lubuk hati ribuan masyarakat Air Tiris. Barangkali jutaan hati masyarakat Riau juga terluka, bila mencerna perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh oknum (kalau tak boleh dibilang aparat) terhadap kesemena-menaan.
   Dalam konteks mencari kebenaran, pertanyaan yang menyeruak, siapa yang salah? Mengapa ini bisa terjadi? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, sebenarnya mudah. Jika semua ketentuan dan aturan hukum ditempatkan pada tataran yang benar. Aparat penegak hukum bukan menjadi penebang hukum.
   Zulkifli adalah sebuah akumulasi dari ketidakmengertian penagak hukum dalam memandang fungsi dirinya. Arogansi, merasa paling benar, merasa paling berkuasa, paling hebat, dan rasa-rasa keakuan lain yang melekat di diri, telah membuat kita lupa sesungguhnya ada aturan yang harus dijalankan.  Jangan jadikan kesadaran hukum hanya untuk kepentingan sesat.
   Tidak ibakah mereka (aparat) jika Zulkifli itu adalah Ayahnya? Tidak bersedikah mereka seandainya Zulkifli itu adalah Abangnya? Tidak menderitakah mereka jika Zulkifli adalah Anaknya? Dan bagaimanakah perasaan mereka jika apa yang dialami Zulkifli dialami mereka?.
        

Sunday, February 13, 2011

Dari Rahim ke Liang Lahat


Aku tak menyalahkan siapa-siapa. Ketika di atas panggung sebuah kebohongan aku melihat puluhan ribu nyawa, tua muda, gadis, bujang belia, bernyayi, tertawa dibau keringat yang sama. 

Mereka seperti orang-orang yang kehilangan akan masa depan. Mereka terbujuk bait-bait kenistaan. Mereka terhanyut sejarah yang tak pernah kaya. 

Mereka seperti rumput, yang tak kuasa membelai angkasa. Mereka dibohongi dari rahim hingga tiang lahatnya.
Aku berada tepat di samping orang-orang yang menciptakan panggung itu.



Pasirpengaraian, Sabtu 12 Februari 2011

Sunday, February 6, 2011

12afg

Surat ini aku buat ketika aku tak lagi mampu membaca.
Kata-kata yang terangkai sedikitpun tak bisa membentuk makna-makna.
Segala tak terarah. Antara angka dan huruf-huruf menyatu membentuk sesuatu yang tak berujung.
Kepada siapa aku harus meminta tunjuk ajar. Jika setiap bulir-bulir pengajaran membunuh satu per satu kata-kata ku.
Menanti. Menantu..Menanti..Aku terpaku.

Saturday, February 5, 2011

Ini Tentang III

Ini tentang manusia...
Tentang hati yang tak lagi berbentuk
tentang jiwa hampa berjamur oleh waktu-waktu
tentang sakit yg tak lg perih
tentang rindu menghitam
tentang cinta merana
tentang bahagia tertindih dosa...

Ini tentang Aku...
Tentang ayah yg laknat
tentang suami yg khianat
tentang jantan yg tak insaf
tentang putra yg tak ingat..

Ini tentang Kita
tentang rupa yg tak berwajah
tentang buram yg temaram
tentang lupa yg tak ingat
tentang banyak yg tak sedikit
tentang apa yg diminta
tentang apa yang diberi...


Ini tentang manusia, Aku dan Kita
tentang sedih yang bisu
tentang tangis yg tak bermata
tentang ilmu yg tak bersatu
tentang satu antara dua
tentang tuhan dan berhala
tentang ayat dan sahwat

Ini tentang manusia, aku, dan kita
tentang kematian.
tentang hidup
tentang lalu mati...

Kehilangan

Ada teman berkata...
''knapa nasib mu beberapa tahun belakangan sial..selalu ditimpa kemalangan...selalu kehilangan...sering mendapatkan musibah...dan intinya ga ada baek2nyalah...
Aku sempat berpikir juga...
aku tak langsung menjawab pertanyaan ini...
krn meskipun aku menjawab..
ku yakini jawaban aku tidak bisa dimengerti dan akan sulit dicernanya..
aku sadar kemampuannya untuk menterjemahkan jawaban ku hanya sebatas antara ya dan tidak
tapi akhirnya jawaban ku itu aku berikan juga...

aku bilang...takdir, kematian, kesialan, kemalangan, adalah sesuatu yg abstrak....tidak berpola..apa lagi berpeta..
jadi ku anggap semua itu adalah sebuah lingkaran...yg suatu saat akan dirasakan oleh kita semua...tidak bupati..tidak gubernur..tidak wali kota, tidak presiden...dan apa lagi kita sebagai org2 yang menakdirkan diri sebagai bawahan..persoalannya kapan itu terjadi?...kebetulan saat ini terjadi pada ku...setidaknya aku telah dan sudah melalui saat2 itu...
Soal kehilangan...sesungguhnya jauh sebelum kita lahir..kita adalah mahluk2 yang penuh kehilangan..kita telah kehilangan akan nikmatnya berada dirahim..kita kehilangan saat2 dilhrkan..kita kehilangan masa bayi, balita, anak2, remaja,
bahkan kita kehilangan akan tuhan kita sendiri..

Tak Banyak

Dengar..
Lihat..
Tatap setiap sudut kengerian
Kita masih tetap diam
Bunyi-bunyi adalah mati
Dibunuh kesepian itu

Dengar..
Lihat..
Tawai percumbuan sepi
ketika tuhan menghitung azab
Dari puing-puing dosa
Perzinahan kita dimalam ini..

Dengar..
Lihat..
Tulang hati kita sudah rapuh
Seperti buih berjarak-jarak
Tak sanggup menantang ombak


Dengar..
Lihat
Tak banyak cinta yg kita bawa
Ketika kematian sepi telah memanggil
Kenikmatan persetubuhan kelamin
Menggunung menghimpit pahala yg tak pernah ada

Apa Lagi?

Apa lagi yang kau cari wahai pemimpin kami. Tidak cukupkah berabad-abad waktu yang telah kau habiskan untuk mencari jadi diri. Belum sempurnakah hari-hari pengabdian diri selama itu. Angka apa lagi yang belum kau raih. Dari satu sampai 10 telah kau miliki. Kenikmatan mana yang belum engkau sentuh. Sanjungan apa lagi yang belum tersemat dipundak dan dada mu. Arti apa yang terlewatkan untuk kau berikan nama sejak engkau menjadi pemimpin di negeri Lancang Kuning. Mimpi apa yang belum terwujud dalam setiap tidur-tidur empuk mu. Singgasana mana yang belum engkau hiasi.

Apa lagi yang kau cari wahai datuk kami. Tidakah engkau telah mampu merengkuh apa yang sebelumnya tak sanggup kami jemput. Lihatlah kebohongan-kebohongan yang engkau semai telah tumbuh menyerupai kebenaran. Tiang-tiang gedung alasan, telah menjulang menyentuh bibir megah. Adonan antara kepentingan pribadi, golongan, politik, ekonomi telah terpandang sempurna. Tidak percaya? Tengok jalan, jembatan, pasar, gedung, disudut-sudut perdaban sudah siap untuk dinjak oleh sakai, talang mamak, bonai, akit yang tak beralas kaki.

Apa lagi yang kau cari wahai bapak yang dipertuan agung. Belum habiskah ide-ide kreatif dalam menafsirkan kegagalan menjadi arti kesuksesan. Makna apa lagi yang tertinggal untuk diterjemahkan dalam ruangan keluarga dan sanak famili tuan. Permukaan bumi Melayu mana kaki tuan belum terjamah. Tual-tual kayu dari hutan mana yang belum menjadi arang untuk menghangatkan makan malam tuan di istana.

Apa lagi yang kau cari wahai orang yang kami tuakan. Puncak peradaban mana yang tak sempat tuan kunjungi. Mengertilah air mata buaya diempat sungai yang mengaliri lubuk hati kami telah pula engkau genangi. Ayat-ayat apa lagi yang teralpakan untuk menjadi pembenaran atas ambisi merengkuh simpati kami. Bulir-bulir sawit, batu bara, emas, hingga liang lahat kami telah berlabel nama tuan dan sanak famili.

Apa lagi yang kau cari wahai Ketua. Barat, utara, timur, selatan, tenggara, adalah puak-puak, bukankah nantinya akan menjadi milik tuan. Keinginan mana yang belum terpenuhi, sehingga tuan masih tersenyum ramah dalam penglihatan, disetiap sudut-sudut ketika kami menyusuri jalan di kampong ini.

Tentara Maafkan Daku!

Ada kejadian ya..dikatakan unik sih ga...sebab aku dimarahin sama tentara yang ada di salah satu sarangnya TNI di Pekanbaru. Seumur-umur baru kali ini aku diceramahin sama tu TNI..Saat itu aku mau ganti baju dan celana bola..setelah liat kiri kanan, muka dan belakang tak ada kaum hawa...lalu aku tanggalkan baju..setelah itu ku tanggalkan celana...entah dr mana tu tentara datang..lalu dia memarahin aku...

Tentara: ga boleh buka celana..kamu ga punya adab..kebiasaan dikampung jangan dibawa-bawa...
Aku : Ga boleh ya pak? (dengan jantung berdegub)
Lalu sitentara mulai mendekat
Tentara: Kamu ga sopan, memang kamu ga punya norma..
Aku: Ya udah pak aku minta maaf
Tentara: kelakuan kamu memang ga berbudaya
Aku: Ya saya ga tau (dalam hati ni tentara sok bget, org dah minta maaf)
Tentara: Kamu kalo macam-macam tak kamplang nanti

Orang-orang yang juga teman kantor yang ada disitu hanya diam, matanya tertuju ke aku...(dasar tak ada solidiritas) dari keheningan itu..mucul suara..''Udah pak suruh pus up aja...
Belum sempat Tentara itu membalas komen teman kantor..sekitar 20 org tentara laen yang berada di atas truk warna hijau lalu menyahut...hoiiiiii....hoiiii knapa kamu buka celana...

Pada saat bersamaan, celana yang aku pasang udah nyampe di tempat yang sebenarnya..

Trus si tentara yang marahin aku mulai mendekat...dalam hati ni kalo tentara melakukan tindakan kekerasan fisik pasti rame ni masalah...Bukan karena aku takut dihantam..aku takut tu si tentara akan babak belur..krn ilmu yang didapatkan dr kampung belum habis...namun untung tentara itu tersadarkan akan bahaya jika dia melakukan kekerasan...

Trus si tentara mendatangi aku dengan mencium tangan kembali berujar

Tentara: Mas kalo mau buka celana jangan dimuka umum ya..kan malu dilihat orang
Aku: ????!!!!!....????

Ternyata ilmu ku masih ampuh....

Semua Bohong

Dia Katakan Aku permata yg memberi banyak nilai dalam setiap sudut hidupnya
Bunga-bunga mengharum aroma wangi ditaman jiwa itu dari ku
Gelap yg menimbun terang cintanya telah terhapus..itupun krn adanya cintaku
Sunyi beriringan merenggut semua cinta yg dimilikinya kini jadi sempurna..aku menjadi penyebabnya


Dia katakan aku bintang menghiasi malam-malam kelam
Aku adalah cinta sejatinya yg telah memaknai semua sisa hidupnya
Aku seperti angin menghembus noda dijiwanya
Aku seperti air yg membasahi setiap percumbuan dosa

Dia katakan aku pencipta dari segala kesenangan dihidupnya
Seumpama hari aku adalah waktu-waktu yg terus menuntunnya
Sisa-sisa hidup yg tersis, dipersembahkan untuk ku
Bahkan seluruh jiwa raga dan harta dia juga serahkan bagi ku...

Masih Ada Waktu

Jika sesuatu dilandasi oleh niat yang tidak baik. Maka kemalangan akan terus menggelayut, mengikuti setiap perputaran waktu. Diantara siang dan malam, bulan dan tahun, bahkan abad ke abad nilai yang ditanamkan tetap tidak menghasilkan apa-apa. Tercela. Terhina.
Kekuasaan sebenarnya tidak abadi. Keabadian hanya milik pencipta. Karena keabadian bukan milik kita? Maka sudah sepantasnyalah hak itu jangan disia-siakan.
Ketika menjadi pemimpin rumah tangga. Bertanggungjawablah untuk menafkahi istri dan anak-anak dengan nafkah-nafkah yang baik. Disaat menjadi ketua RT/RW jadilah ketua yang merukuni bukan memecah. Ketua yang memberi bukan menerima apalagi meminta-minta.
Bila diberikan kekuasaan untuk memimpin sebuah desa/kelurahan, idealnya adalah kepala desa/lurah yang bermarwah bukan bermewah-mewah. Kepala Desa yang mampu menjadi pelita ketika warga dalam kegegelapan. Kepala desa yang benar-benar menjadi kepala beribu-ribu kepala-kepala.
Begitu juga ketika tuhan memberikan kesempatan untuk memimpin sebuah kecamatan. Jadilah camat yang cakap, bukan perangkap. Camat yang memberi solusi, bukan berkongsi. Camat yang memiliki integritas tidak camat yang bermental superioritas.
Disaat kita menjadi Wali Kota/bupati embanlah amanah untuk menjadi wako/bupati yang berempati, berorientasi, bukan mengantarkan peti mati untuk rakyat. Buatlah kebijakan yang mampu menjadi pelindung bukan pembeking. Kelolalah sumber-sumber kemakmuran masyarakat, bukan untuk kesejahteraan keluarga dan pejabat. Bangunlah infrastruktur yang kokoh bukan bangunan yang rapuh.
Rawat dan peliharalah hutan-hutan yang telah diwariskan oleh Talang Mamak, Sakai, Akit, Bonai untuk kesejahteraan rakyat. Bukan malahan menjadi penebang liar meluluhlantakkan kayu-kayu untuk mendapatkan nilai miliaran berbentuk rupiah.
Suatu ketika ada jutaan masyarakat memberikan kepercayaan untuk menjadi pemimpin disebuah Provinsi, maka peganglah amanah itu dengan tafakur. Bukan menjadi pemimpin yang munafik. Mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram.
Berikanlah seluruh kemampuan untuk membawa perubahan ke arah yang lebih baik bukan membawa ke arah yang lebih buruk. Buatlah program-program pembangunan yang benar-benar terlihat terbilang, cemerlang, dan gemilang. Bukan program pembangunan pincang, gemerlap, mercusuar tapi didalamnya kosong.
Rancang dan manfaatkan sumber pendapatan daerah untuk sesuatu yang benar-benar menjadi prioritas, dibutuhkan rakyat, berfaedah, tidak mubazir, dan minim kepentingan. Bukan pembangunan dengan orientasi mendapatkan sanjungan, penghargaan, dan gagah-gagahan, yang ujung-ujungnya keuntungan.
Rekrutlah bawahan yang memiliki kemampuan, integritas, intelektualitas, kualitas, untuk menterjemahkan program pembangunan secara baik. Bukan merekrut pembantu yang berlandaskan kebaikan sejarah, keluarga, daerah, dan balas jasa.
Sebuah keniscayaan jika sesuatu dimulai dengan kebaikan. Maka akhir dari itu akan lahir berjuta-juta kebaikan. Sebaliknya jika sesuatu itu dimulai dari niat yang tidak baik. Maka akhirnya akan tumbuh nilai-nilai yang berbentuk keburukan. Keburukan itu seperti virus atau kanker ganas yang terus menyebar dan akhirnya akan melumpuhkan kita. Sebab antara baik dan ketidakbaikan nilainya berbeda.
Bangunan dibuat dengan pondasi dan kerangka kebaikan akan berdiri bangunan-bunganan yang tidak saja kokoh, namun mampu memberi naungan dan perlindungan bagi banyak jiwa. Kekokohan ini akan bertahan berabad-abad lamanya.
Banyak contoh dan fakta jika sesuatu yang dimulai dengan niat yang baik akan menjadi investasi kebaikan yang terus memberikan keuntungan disepanjang masa dari dunia hingga di akhirat kelak.
Raja Ali Haji dikenang bukan karena dia mendapatkan banyak penghargaan. Tapi dia dikenal sebagai ulama, sejarawan, pujangga, dan terutama pencatat pertama dasar-dasar tata bahasa Melayu lewat buku Pedoman Bahasa; buku yang menjadi standar bahasa Melayu. Bahasa Melayu standar itulah yang dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 ditetapkan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia.
Sultan Syarif Kasim dikenang bukan karena kekayaannya dan bangunan mewah istananya. Sultan Syarif Kasim II merupakan seorang pendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tidak lama setelah proklamasi dia menyatakan Kesultanan Siak sebagai bagian wilayah Indonesia, dan dia menyumbang harta kekayaannya sejumlah 13 juta gulden untuk pemerintah republik. Bersama sultan Serdang dia juga berusaha membujuk raja-raja di Sumatera Timur lainnya untuk turut memihak republik.
Jenderal Sudirman menjadi pahlawan kemerdekaan bukan karena dia mampu mengusir penjajah. Tapi dikenang karena nilai-nilai patriotisme. Jenderal Sudirman merupakan salah satu tokoh besar di antara sedikit orang lainnya yang pernah dilahirkan oleh suatu revolusi.
Orang menghormati Soekarno-Hatta juga bukan karena dia proklamator kemerdekaan Indonesia. Namun orang mengagungkannya karena perjuangan untuk melepaskan belenggu Indonesia dari penjajahan.
Kita rindu akan kelahiran tokoh-tokoh di atas. Kita sebagai bangsa sudah tidak mampu lagi melahirkan pahlawan dan pemimpin yang memiliki jiwa untuk rakyatnya. Saat ini kita hanya mampu melahirkan para pahlawan bukan untuk daerah dan bangsa tapi pahlawan untuk kepentingannya.
Sehingga tidak usah aneh, heran, terkejut, dan tertegun jika seorang RT/RW, Kepala Desa/Lurah, Camat, Bupati/wali kota, Gubernur dan bahkan Presiden sekalipun di negeri junjungan ini diakhir-akhir masa jabatanya menuai bala. Menjadi tersangka. Stroke. Masuk penjara.
Jika hukuman akhirat dikesampingkan. Dalam sebuah episode hidup ketidakbaikan bagi pemimpin, inilah akhir yang harus ditanggung. Ada malu. Ada penyesalan. Ada pertobatan, meskipun datangnya kemudian.
Sejarah mencatat betapa perkasanya mantan presiden Soeharto dengan kekuasaan, harta, pengaruh, dan gurita politik, ekonomi, sosial, budayanya. Akhirnya lumpuh, tak berbekas. Hinaan dan cacian menjuntai-juntai dari ujung Aceh sampai Papua. Menutup, menindih, menyeliputi rapat-rapat titik-titik kebaikan yang terseret dalam keburukan Soeharto.
Seorang Panglima Besar Soeharto dengan deretan bintang lima dipundaknya, 32 tahun memimpin Indonesia, terkulai. Mati dalam celaan. Bagaimana dengan ketua RT/RW, Kepala Desa/Lurah, Bupati/Wali Kota, Gubernur? Yang mendapatkan jabatan hanya paling lama 10 tahun!.
Berangkat dari sejarah. Mumpung masih ada waktu. Penulis sebagai anak jati Riau,orang yang awam, tidak memiliki kekuasaan dan tidak mempunyai kepentingan apapaun hanya terus berharap kepada pemimpin di Negeri Lancang Kuning ini agar dapat membawa kebaikan. Tidak semu. Tidak tipu muslihat. Tidak hanya sekedar angan-angan. Tidak saja disaat-saat diberikan kepercayaan untuk menjadi pemimpin.
Kami rindu. Kami ingin. Di abad-abad yang lampau. Di peradaban yang akan datang. Anak cucu kami melihat batu nisan Disebuah pemakaman ditengah-tengah desa, kota kabupaten dan ibu kota Provinsi tertulis. ''Di sini mantan RT/RW, Kepala Desa/Lurah, Camat, Bupati/WaliKota, dan Gubernur telah dimakamkan seorang pejuang masyarakat Riau.
Bukan sebaliknya. Disebuah pemakaman yang tumbuh ilalang dan semak belukar dipinggiran rumah-rumah warga.''Di sini dimakamkan mantan seorang RT/RW, Kepala Desa/Lurah, Camat, Bupati/WaliKota, dan Gubernur yang masuk penjara karena korupsi. Sedih rasanya.
Akhirnya mengutip Gurindam 12 milik Raja Ali Haji ,’’Barang siapa khianat akan dirinya, apalagi kepada lainnya. Kepada dirinya ia aniaya, orang itu jangan engkau percaya. Hendaklah berjasa, kepada yang sebangsa. Hendaklah jadi kepala, buang perangai yang cela. Hendaklah memegang amanat, buanglah khianat.

Ini Tentang II

Ini tentang hidup...aku adalah bunyi yang sunyi, diantara riuh riau berjeruji.
Tenggelam di atas dangkalnya dasar hasrat untuk menjadikan diri ke jati.
Dan gelombang itu belum beriak..setiap saat hanya mampu mengombang-ambing, tak pernah menghayutkan, apalagi menolak jiwa untuk tiba di dermaga.

Sumpah ini tentang dosa...aku adalah neraka yang tak jahanam. Tak mampu memberi nilai atas perbuatan, bahkan pahala yang kupunya tak kuasa menindih gelapnya keingkaran. Detik-detik kebaikan sudah tak mampu melawan, lemah, terkulai, termalukan karna aku tak kuasa menentukan pilihan. Apakah harus menantang atau ditantang.

Kepada pembuat nyawa...ini tentang ketidakberdayaan..aku berada bukan di tengah, di samping, di dalam, di luar, atau di atas..aku ter awang-awang...bisa merasai namun tak cukup pandai untuk menggapai. Pernah aku mencoba untuk menjadi lebih ke dalam, tapi yang ada hanya penggal-penggal sepi berasosiasi membentuk mahluk-mahluk tak berwajah. Ku tak ingin seperti itu, meskipun surga menjadi tempat persinggahan.

Jangan ditanya tangis...Ini tentang sedih yang tak lagi air meleleh di mata..bukan aku tak bisa menyirami retak kesedihan itu.. Sungguh aku mampu..bahkan berjuta-juta tangis bisa aku ciptakan dibalik panggung sana..Aku hanya takut kesedihan itu menenggelamkan hati...ketakutan ku adalah ketika hati tak lagi bisa menjadi pembeda, mana kebaikan, keburukan, dosa, pahala, puji dan puja, neraka, surga. Aku tak mampu seperti mereka.


Ini tentang aku....tentang jiwa yang tak mampu melangkahi tembok yang tepat berada di bawah ke dua kaki ku....

Ini Tentang

ni tentang Islam...Ayat-ayat menjadi bisu dimulut-mulut umat
Jarak antara halal dan haram seperti angin menjelma udara
Petuah Nabi-nabi menjadi sunyi
Ditindih nafsu dunia yang berakhiran wi

Ini tentang Kristen...disaat Kegamangan Isa turun ke Bumi
Gembala-gembala tidak lagi berdiri disamping ''Domba-domba''

Ini tentang Hindu....tentang Budha..tentang Konghuchu,
tentang animisme,

Ini tentang keyakinan...ketika agama tak kuasa menopang dosa
Dan detik ke menit pertarungan ini, hanya dua corak yang konstan
antara hitam dan abu-abu...
Putih tak mampu melumuri abu-abu apalagi membersihkan hitam

Kekelan Waktu

Benda pengingat waktu masih berputar menuju angka-angka di bawah kaca bulat itu.
Seperti zaman-zaman yang lain,  batang besi kecil ini tak mengeluarkan banyak peluh, meskipun berjuta-juta kubik waktu sudah dititinya lingkaran. Ada yang berpusing lambat. Ada juga yang memutar cepat. Antara satu besi dengan jarum yang lain tak saling menyapa. Bersentuhan juga tidak. Bukan tak mau sekedar berbasi basa. Atau menyentuh membangkitkan keinginan agar beriringan. Tapi diantara mereka memiliki tugas dan tanggungjawab yang berbeda. Walaupun tujuannya tetap sama. Sama-sama menyeret besi yang lebih besar untuk bergerak menuju angka-angka waktu.

Entah sampai kapan perputaran itu tiba dipusaranya. Disaat detik menghamili menit yang genit. Disitulah menit yang sudah bunting melahirkan jam-jam. Hari, bulan, tahun, abad-abad adalah penistaan angka terhadap waktu.  Kenistaan ini tak mampu diterjemahkan oleh zaman.Tak terhingga jumlahnya. Seluruh angka-angka yang ada tak mampu memberi pembatas. Kelahiran-kelahiran waktu tetap seperti itu. Keabadian angka adalah kekelan waktu.

RAJA SINGA

Disaat pikiranku kosong menjelajah bebas ke sudut-sudut kampung halaman, aku melihat seorang putri raja duduk di kursi singgasana yang patah di tengah danau yang dulu digalinya, tepat dibibir aliran sungai Indragiri.     Dengan rangkaian daun-daun rengas, angsana, kasturi, kulim, ramin, akasia, sebagai penutup tubuhnya yang tak berbusana. Tidak ada mahkota dirambut hitam yang terurai menyentuh bibir. Diujung rambutnya, basah dengan air yang mencucur dari matanya.
    Ketika sadar akan pandanganku putri itu terkejut, terpaku dan heran melihat kehadiranku lalu dia bercakap-cakap,’’Jangan mendekat padaku. Aku adalah putri dari raja danau ini,’’. Dan akupun bertannya, Apakah engkau sudah lama tinggal di Danau yang sunyi ini? Jujurlah siapa engkau mengapa engakau terlihat sedih, hingga air matamu menjadikan banjir melanda kampungku?.
    Aku adalah putri dan disampingku ini adalah raja dari leluhurmu yang telah membangun danau ini. Menanami rengas, akasia, meranti, kulim, sungkai, rotan, batu bara, minyak, sampai mengaliri sungai Indragiri. Memahat jati diri indragiri.Aku putri yang kehilangan jiwa, kehilangan kesucian karena keturunanku telah mendustai perjuangan kami.
     Sebelum putri raja itu memajang kalimat-kalimat sedihnya akupun menjawab,’’Kesedihanmu, kegundahanmu wahai sang putri raja adalah kesedihan nyata yang tak terbilang dengan banyak kata. Kegelisahanmu sesuatu yang terlihat di depan mu saat ini. Kesedihan mendalam rakyat termasuk aku yang telah jauh meninggalkan kampung ini,’’.
     Tanah Indragiri ini, baik di hulu maupun di hilir tidak lagi subur disemai bagi rengas, akasia, kulim, meranti, sungkai, ramin, rotan, batu bara, minyak untuk tumbuh. Lihatlah daun-daun itu sudah mengering. Batang-batang dan akarnya telah hanyut menjadi buih-buih dan lalu hilang terbawa arus ke muara yang tak bernama.
     Hanya satu yang tersisa saat ini wahai tuan putri. Rakyatmu bernama Talang Mamak masih hidup dalam kesendiriannya. Masih mencari jati diri.  Mengais rezeki dibalik eskapator, traktor, sinso, pemilik keturunanmu. Di hutan-hutan yang tak lagi hijau oleh dedaunan.
     Hutan yang engkau warisi kini telah berubah fungsi. Liatlah asap yang membumbung dibalik bukit Tiga Puluh, itu adalah pabrik sawit, pabrik kayu, yang sedang membakar daun-daun rengas, akasia, sungkai, ramin, kulim, dan batu bara. Jangan kau berharap untuk melihat sialang-sialang yang berbuah madu di pohon yang engkau pelihara. Kini lebah itu telah beranjak ke negeri seberang. Terbang dengah membawa sejuta sedih.
    Jika kau membuka gulungan koran yang mengapung disela-sela kiambang ditempat engaku duduk itu. Bacalah. Isinya adalah tentang keturunan dan rakyatmu yang menyia-nyiakan amanat dari tuhan. Banyak yang bukan hak dijadikan miliknya. Tidak saja taman hutan yang kau tinggalkan sudah punah ranah. Bahkan lampu-lampu penerangan untuk menyinari jalan setapak di depan danau ini, juga menjadi sesuatu yang harus dimiliki.
     Tak terbilang dengan angka, tak tersebut dengan kata, tak berbekas dengan tanda, tak tampak dengan mata, bahkan hatipun tertutup dengan kabut keserakahan. Semua menjadi tampak sama. Antara yang hak dan yang bukan hak telah membaur menjadi satu dan diberi nama korupsi.
     Lihatlah jembatan itu. Tengoklah bangunan istana itu. Perhatikan turap dibibir sungai atau menolehlah dibalik gedung wakil rakyat dan gedung pemerintahan kerajaan yang kau tinggalkan itu. Ada banyak sekali tipu untuk melegalkan muslihat yang sedang dirancang oleh wakil-wakil yang kami pilih kemarin.
      Tuan putri raja yang cantik jelita, ada 23 miliar rengas, ramin, akasia, sungkai, punak, sawit, batu bara, minyak, yang dibagi-bagi merata oleh wakil-wakil kami itu. Itu belum seberapa tuan Putri raja, tanah disebarang sana yang kau gali dan bersihkan 200 tahun kemarin.  Kini sekitar 116 miliar kubik sudah menjadi pemilik pribadi dari segelintir hulubalang, penasehat kerajaan, bahkan penunggang kuda raja juga mendapatkan bagian. Dengan dalih untuk pinjaman. Tanah talang mamak yang kau serahkan untuknya kemarin, juga sudah hilang menjadi milik beberapa orang rakyatmu.
     Ironis. Itulah kata yang pantas untuk menggambarkan nasib rakyatmu kini sang putri. Ketika air mata emak dan abah kami dikampung menetes menahan perihnya hidup. Ditempat lain, pemimpin negeri ini tertawa dalam kemunafikan melihat dirinya sendiri. Meskipun mereka dihadapkan karma atas apa yang mereka perbuat.
     Kalaulah tuan putri menanyakan harapan atas apa yang menjadi keinginan sebagian besar rakyat yang kau tinggalkan? Bila melihat kondisi terkini, maka harapan-harapan untuk hidup sejahtera seperti zaman kerajaan yang tuan putri pimpin terdahulu, sepertinya hal itu jauh panggang dari api.
     Tuan putri bisa melihat rakyat yang ada di Rakit Kulim, kuala cinaku, kelayang, Kampung Boso, Rantau Mapesai, tambak, telok erong, teluk bagos, kauantan babu, pekan heran, talang jerinjing, siberida, dan hampir sebagian besar daerah kerajaan Indragiri hulu ini masih hidup dalam alam susah. Berharap kepada pemimpin, sama halnya harapan digantungkan kepada pungguk yang terus merindu bulan.
     Lihatlah pendayung becak yang melintasi danau ini. Setiap putaran rodanya adalah pedih yang tak tertahan menyusuri jalan-jalan yang tampak sama meskipun sudah beberapa dasawarsa kau tinggalkan.
      Dulu! Membaca Indragiri Hulu adalah kumpulan butiran-butiran sejarah masa silam. Tentang sejarah kekuasaan, singgasana, nasionalisme, kepahlawanan, hingga harapan kemakmuran. Melukis Indragiri sama halnya menggores garis-garis lurus yang didalamnya mengandung banyak benih perjuangan. Yang melahirkan pemikiran, kemenangan, bahkan telah menjadi lumbung pemimpin untuk negeri junjungan.
       Kini? Membaca Indragiri Hulu adalah membaca tentang korupsi, manipulasi, kolusi, dan pengembang biak-an faham feodalisme, se-saudara, se-kampong, se-marga, se-suku yang ujungnya menjadikan se-penjara.
       Lima sampai enam bulan ke depan, kerajaan tuan putri ini akan kembali melaksanakan pemilih ‘’raja’’ untuk menakhodai negeri ini lima tahun ke depan. Coba perhatikan baliho atau sepanduk yang membentang dari tiang listrik di depan danau, yang berwarna kuning, biru, merah, hijau itu. Tuan putri pasti bisa mencium aroma kebohongan. Wangi semerbak yang dihembuskan calon pemimpin itu hanya untuk menutupi bau busuk yang tersimpan.
     Celakanya tuan putri, rakyat kerajaan ini selalu terlena dengan wangi-wangi berbentuk bantuan rumah ibadah, baju kaos, sembako, kalender, dan sebagainya. Padahal wewangian yang disebar oleh calon pemimpin itu berasal dari ramin, akasia, batu bara, sawit, sungkai, dan minyak yang tuan raja semai terdahulu.
      Jadi jika tuan putri dan raja bersedih melihat apa yang terjadi terhadap bekas daerah kekuasaan kerajaan Indragiri ini, adalah kesedihan seluruh rakyat tuan putri. Kesedihan dimana tidak ada lagi bangga yang menyeruak, seperti kebanggaan raja menaklukkan congkaknya penjajahan tempo dulu. Bangga melihat hutan subur, sungai mengalir sampai batas muara, lenggak lenggok penari rentak bulian memecahkan  tandan mayang. Kebanggaan itu kini tinggal sejarah.
     Hari-hari hanya diisi tentang kabar ditangkapnya, ditahanya, dijadikanya tersangka mantan dan wakil rakyat kerajaan ini. Perhatikanlah headline koran itu. ‘’Mantan Bupati jadi Tersangka’’. Sakit rasanya tuan putri melihat itu.

Balada Adam vs Hawa

Hawa: Mas Adam. Mengapa mas tidak pernah melihat adek lagi di Surga...
Adam: Mas capek dek....
Hawa: Mas sudah tak sayang lagi ya sama adek!!!???
Adam: Bukan begitu!
Hawa: Lantas mengapa mas sekarang sombong. Jangankan berkunjung. kirim SMS aja Mas udah ga pernah
Adam: Sering koq mas telpon adek...tapi yang ngkat bukan adek. Trus mas SMS, jawabanya selalu ngaco..
Hawa: Memang Mas menghubungi adek dengan nomor yang mana?
Adam: Nomor yang adek berikan kemaren...08187874650
Hawa: Aduh...mas Adam..adek ga pake nomor itu lagi
Adam: Trus Nomor yang mana??
Hawa: itulah masalahnya mas..
Adam: Apa Masalahnya
Hawa: Di Surga ga ada Telkomsel, Indosat, XL, Telkom, 3, atau Bakrie Telekom
Adam: Jadi gimana donk Mas menghubungi Adek?
Hawa: Mas Adam Mati aja....
Adam: trus Kalo mas mati, yakin Adek, mas masuk surga
Hawa: Ga Sehh.. Tapi kalo mas di Neraka..setidaknya Adek bisa berkunjung..kita-kan jadi tetangaan
Adam:...Ha...Ha..ga mau..kita putus..
Hawa: Bener, mas Adam mau putusin hubungan kita
Adam: BenarHawa: Koq tega sekali mas sama adek
Adam: Ini persoalannya bukan tegaan dek
Hawa: lantas apa mas?
Adam: Ini menyangkut harga diri dan integritas Mas
Hawa: Emang harga diri dan integritas apa yang sudah adek injak2
Adam: Yalah. Masak adek menyuruh Mas mati. Sementara adek ga bisa memberikan jaminan mas masuk Surga
Hawa: Bagaimana Mas bisa masuk surga!
Adam: Koq adek ngomong seperti itu?
Hawa: Mas udah lupa ya?Adam: Lupa apaan?
Hawa: Dasar lelakiAdam: Benar..Mas ga ingat
Hawa: Mas..adek mati tau ga apa penyebabnya
Adam: Adek mati karena hamil
Hawa: Ya..tapikan hamil diluar nikah
Adam: Lantas..apa hubunganya Mas ga bisa masuk surga. Sementara adek masuk?
Hawa: Mas Adam..Mas Adam..
Adam: Apa???
Hawa: Perzinahan yang kita lakukan..jelas2 dosanya gede
Adam: Iya Seh..tapikan waktu itu kita menikmati banget
Hawa: Mas ya nikmat..adek sengsara.
Adam: Adek ga bisa ngomong seperti itu
Hawa: emang kenapa?
Adam: Saat kita melakukan, adek sudah ga virgin lagi
Hawa: Koq mas tau?

Bersambung.....

Diponegoro vs A Yani

Pemilihan langsung Kepala Daerah (Pemilukada) Kota Pekanbaru 2011, aroma dan nuansanya sudah terasa harum beberapa bulan belakangan. Ritual klise budaya politik praktis di Indonesia, dengan menyebar spanduk, baliho, memberikan bantuan, bakti so sial, mejeng di media masa setiap hari pasti dijumpai masyarakat kota.    Pemilukada kota Pekanbaru adalah satu dari enam agenda hajat pesta demokrasi di Provinsi Riau tahun 2011. Namun karena Pekan baru sebagai Ibu Kota Provinsi, tentu derajat dan intensitas pertarungan politiknya lebih menarik untuk disimak.     Bagi partai politik, kemenangan di Kota Pekanbaru menjadi barometer kesuksesan Pemilukada di Bumi Lancang Kuning. Pertarun gan Pemilukada Kota Pekanbaru semakin menarik karena adanya dua kekuatan politik yang akan bersaing yaitu antara Istri Gubernur Riau dan istri wali kota Pekanbaru. Sedangkan kelompok lainnya akan sangat bergantung dengan Septina dan Evi Meiroza.    Kelompok pertama adalah calon wali kota atau wakil wali kota Hj Septina Primawati Rusli. Sebagai istri dari Gubernur Riau HM Rusli Zainal SE MP, oleh beberapa kalangan Septina memiliki peluang besar untuk menang.    Menurut penulis ada beberapa kekuatan yang dimiliki Septina untuk memenangi pertarungan ini. Pertama, Septina diuntungkan dengan pengaruh HM Rusli Zainal SE MP sebagai gubernur. Aktivitas dan kekuasaan gubernur 80 persen berada di kota Pekanbaru. Seba gai orang nomor satu di Provinsi, Gubernur bisa mempengaruhi kalangan birokrasi. Minimal ditingkat birokrasi Pemerintah Pro vinsi Riau. Gubernur juga memiliki pengaruh besar dalam penentuan kebijakan penganggaran dalam APBD Riau. Sebagai salah seorang pengurus DPP Partai Golkar, Rusli Zainal juga memiliki pengaruh besar dari aspek politis.  Kedua; Septina diuntungkan dengan banyaknya organisasi kewani taan yang berada di bawah kendalinya. Mulai dari BKOW, PKK, Pramuka, Majelis Taklim, dan lainnya. Ketiga; secara finansial, Septina memiliki kemampuan untuk terus menerus melakukan kegiatan sosial di tengah masyarakat, bersosialisasi yang lebih intens, dan memanfaatkan media masa yang ada di Riau. Keempat; secara personal Septina memiliki kapasitas, karena yang bersangkutan merupakan tenaga pengajar disalah satu Universitas yang ada di Pekanbaru. Kelima; Septina sudah dikenal masyarakat dan keenam; Septina akan didukung oleh masyarakat Inhil dan Rohul yang berada di Kota Pekanbaru.    Meskipun memiliki keunggulan, Septina juga memiliki beberapa kelemahan. Pertama; resistensi sebagai istri gubernur (memperta hankan rezim) ditengah-tengah masyarakat harus diakui akan menja disalah satu pertimbangan dari masyarakat pemilih. Kedua; belum memiliki partai pendukung. Meskipun sang suami adalah pengurus DPP Partai Golkar. Ketiga; tidak memiliki sejarah keberhasilan dalam membangun kota Pekanbaru. Keempat; secara personal Septina tidak memiliki kedekatan dengan pemilih akar rumput. Sebab seba   ð 7   3                      Šgai istri gubernur, Septina selama ini fokus kegiatan mendamping suami diseluruh wilayah Riau.   Kelompok kedua yaitu Evi Meiroza Herman. Sebagai istri yang mendampingi Drs Herman Abdullah MM memimpin kota Pekanbaru selama dua periode, Evi memiliki beberapa kekuatan dan kelemahan.    Kekuatan Evi Meiroza menurut penulis terletak ditangan Herman Abdullah. Harus diakui dua periode memimpin kota Pekanbaru Herman Abdullah telah mampu membawa perubahan dan perkembangan pembangu nan yang dirasakan langsung oleh masyarakat bawah.    Kedua; Evi diuntungkan secara birokrasi. Ketiga; memiliki jaringan organisasi kewanitaan. Keempat; memiliki kedekatan secara pribadi dengan masyarakat kota Pekanbaru. Kelima; prestasi yang diraih oleh Herman Abdullah secara langsung berhubungan dengan masyarakat pemilih kota Pekanbaru. Keenam; dari sisi budaya, Evi akan didukung oleh masyarakat Sumatera Barat dan Kampar yang ada di Kota Pekanbaru. Ketujuh; memiliki kemampuan dari sisi finansial. Dan terakhir, kemungkinan besar Evi juga akan disokong oleh tokoh dan juga mantan Gubernur Riau H Saleh Djasit, yang harus diakui masih memiliki pengaruh besar di Riau dan kota Pekanbaru.    Sama halnya dengan Septina, Evi juga memiliki kelemahan-kele mahan. Diantaranya, satu; resistensi sebagai istri wali kota (mempertahankan rezim) ditengah-tengah masyarakat yang harus diakui akan menjadi salah satu pertimbangan dari masyarakat pemilih untuk menentukan pilihan. Kedua, secara personal Evi Meiroza belum memiliki pengalaman untuk memimpin jabatan politis. Ketiga; tidak memiliki partai politik. Keempat; kalau Evi meme nangi pertarungan Pemilukada ini, kecenderunganya akan lebih dominan pengaruh Herman Abdullah.   Kelompok ketiga adalah Erizal Muluk, Firdaus MT, Isjoni, Edi Satria, Ayat Cahyadi, Nasrun Efendi, Ide Bibra, Desmianto, dan calon-calon lainnya. Menurut penulis kelompok ketiga inilah yang sangat menentukan siapakah yang akan memenangi pertarungan antara kelompok pertama dengan kelompok kedua.    Dari ketiga kelompok ini, penulis mencoba memberikan penelaah secara logika politik sesuai dengan afiliasi masing-masing calon. Hj Septina Primawati Rusli kecenderungannya tidak akan berpasan gan dengan Evi Meiroza, Erizal Muluk, Firdaus MT, dan Nasrun Efendi. Pertanyaanya mengapa? karena secara geo politik calon-calon ini kecenderungannya masuk dalam lingkup kelompok Herman Abdullah cs.    Namun untuk Isjoni, Edi Satria, Ayat Cahyadi, Ide Bibra dan Rusli Efendi memiliki peluang untuk berpasangan dengan Hj Septina Primawati Rusli. Sebab mereka adalah calon-calon netral yang tidak berafiliasi dengan salah satu kelompok Diponegoro (Guber nur) dan kelompok Ahmad Yani (Wali Kota).   Sedangkan Evi Meiroza juga kecenderungannya tidak akan berpa sangan dengan Hj Septina, Nasrun Efendi, Ide Bibra, dan Edi Satria. Sementara Isjoni, Firdaus MT, Ayat Cahyadi, Rusli Efendi, dan Erizal Muluk besar kemungkinan salah satunya akan menjadi pasangan Evi Meiroza.   Dalam konteks pasangan calon, kelompok Diponegoro telah menas bihkan diri menjadi calon wali kota. Ini artinya Hj Septina tinggal mencari calon untuk posisi wakil wali kota, sehingga kecil peluang kelompok ketiga untuk bisa maju sebagai calon wali kota.    Sedangkan kelompok Ahmad Yani lebih bersikap realistis dan fleksibel, namun kecenderunganya Evi Meiroza akan diposisikan sebagai calon wakil wali kota. Dan peluang kelompok ketiga untuk menjadi calon wali kota berpasangan dengan Evi Meiroza cukup besar.     Jika kelompok Ahmad Yani dan Kelompok Diponegoro telah mene tapkan pasangan calonnya, siapakah yang akan memenangi Pilkada Kota Pekanbaru? Untuk menjawabnya akan dilihat dari berapa jumlah pasangan calon yang akan maju.         Dari head to head antara Septina dan Evi Meiroza terdapat kekuatan dan kelemahan yang hampir sama. Bahkan kecenderungan pemilih dari kaum hawa akan terpecah. Disinilah peran pasangan calon yang tepat untuk menjadi daya tarik tersendiri bagi suara pemilih perempuan sebagai penyeimbang masing-masing kekuatan.    Namun dari seluruh kekuatan dan kelemahan pasangan calon wali kota dan calon wakil wali kota, yang paling sangat menentukan pengaruh dari aspek politis adalah antara Drs H Herman Abdullah MM dan HM Rusli Zainal SE MP.    Dengan kenyataan ini, tentu dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa pertarungan Pemilukada Kota Pekanbaru adalah pertarungan antara Wali Kota Herman Abdullah dan Gubernur Riau HM Rusli Zainal SE MP. Apalagi untuk kalangan tertentu, rivalitas antara orang nomor satu di Riau dengan Wali Kota Pekanbaru sering tersu lut, terutama pasca Musda DPD I Partai Golkar Riau di Tembilahan beberapa waktu lalu.     Terakhir sebagai masyarakat kota Pekanbaru kita tentu berhar ap bahwa pemimpin kota Bertuah lima tahun ke depan mampu menjadi pemimpin yang amanah. Pemimpin yang bisa menjadi panutan, taula dan, dan bisa diandalkan untuk membawa masyarakat kota Pekanbaru semakin sejahtera. Bukan pemimpin yang memiliki tujuan untuk berkuasa, saling kalah mengalahkan, apalagi untuk mempertahankan rezim kekuasaan.*** 

AKU MUNAFIK?

.Berangkat dari hadist Rasulullah Shallahu Alaihi Wasallam, yang diriwayatkan Abdullah bin Umar dan Abu Hurairah RA, Muhammad SAW bersabda: Ada empat perkara yagn apabila terkumpul pada diri seseorang, maka ia adalah orang munafik asli. Dan barangsiapa yang hanya terkumpul salah satu darinya, maka ia telah memiliki tabiat orang munafik sampai ia dapat meninggalkannya. Yaitu, jika ia dipercaya, maka ia berkhianat, jika berbicara ia berdusta, jika berjanji ia akan ingkar janji, jika berseteru ia akan berbuat keji. Dari empat perkara orang munafik seperti yag disabdakan Rasullah itu, sekarang bertanyalah di dalam diri kita, apakah kita termasuk dalam golongan orang-orang munafik? Kemunafikan dijabarkan sebagai virus berbahaya bagi setiap individu kaum muslimin. Karena itu, mutlak harus menjauhi sifat-sifat munafik. Sebagai insan, sadar atau tanpa disadari penulis dan barangkali kita semua terlewat sering mendekati ruang-ruang kemunafikan itu. Bahkan terjerumus didalamnya. Sehingga kita tidak lagi mampu memberikan pembeda dan pembatas antara benar dan ketidakbenaran. Kita hanya mengetahui dari untung dan rugi. Kita menilai dari aspek apa yang diberi dan apa yang diminta. Sudah seberapa sering kita berkhianat atas apa yang diperintahkah Allah? Sudah seberapa banyak kedustaan-kedustaan yang meluncur dari mulut kita? Sudah seberapa besar janji-janji yang terucap tak ditepati? Sudahkah kita menyadari bahwa perseteruan dalam kehidupan telah menyampaikan kita pada titik perbuatan keji?. Aspek duniawi memang sering menghayutkan dan mengombang-ambingkan kita untuk terus tersadai didermaga-dermaga kemunafikan. Anehnya kita selalu mencari pembenaran-pembenaran atas apa yang benar itu adalah semestinya salah. Dan yang salah itu hakekatnya adalah benar. Kita tak mampu memberikan nilai kemunafikan dengan nilai yang sama seperti apa yang digariskan Allah. Kebaikan kita. Kejujuran kita. Kebahagian kita. Kekejian kita. Kelemahan kita. Keberpihakkan kita, seringkali tidak sama dengan nilai yang diberikan orang lain (begitu juga sebaliknya). Mengapa ini bisa terjadi? Karena orang lain dan diri kita sendiri menilainya dari sudut pandang yang lain. Tidak dari sudut dimana kita berasal dan siapa yang menciptakan kita. Tidak berlandaskan firman Allah dan hadist Nabi. Landasan berfikir inilah yang acap kali kita lupa. Sehingga kita banyak jumpai, ketika kita menjadi bawahan kita mengagungkan atasan. Meskipun tingkah pola atasan termasuk golongan orang-orang munafik. Ketika kita mendapatkan amanah untuk memimpin sebuah kaum, kita lebih mementingkan bagaimana untuk mempertahankan dengan menghalalkan segala cara. Bahkan ayat-ayat sucipun dijadikan alat pemikat. Pesona kebaikan, kealiman, dan kesederhanaan adalah bumbu-bumbu beraroma dan bercitrarasa munafik hampir setiap saat dijumpai dalam kehidupan kita. Baik di dunia kerja, budaya, ekonomi, terlebih lagi alam politik.Padahal Allah Azza Wa Jalla telah memperingatkan kepada orang-orang mukmin tentang sosok orang-orang munafik. Mereka adalah orang-orang yang lebih pantas untuk dimusuhi, dilawan dan dihadapi sebagai musuh nyata dibandingkan musuh yang jauh lokasinya, sudah diketahui, dan jelas keberadaannya. Anehnya, sesuatu yang sudah kita ketahui hitam-putihnya, namun karena kepentingan-kepentingan materialis kita tetap tunak dan berdiri di dalam ruang kemunafikan itu. Tak beranjak. Bahkan bila dikaji lebih dalam kita telah beriringan tangan menjadi kaum-kaum menafik. Allah Rabbul Alamin bersabda dalam surat Al-Munafiqun ayat empat: Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kau yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukkan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka, semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan dari kebenaran. Hakekatnya para munafiqirun adalah para pendusta yang mengeksploitasi kebenaran menjadi kesalahan dan menghidupkan kesalahan bergerak ke tempat yang benar! Merekalah destruktor (perusak) yang sesungguhnya. Tetapi tidak pernah menyadari, atau pura-pura tidak menyadari, bahwa tindakan atau amal mereka merusak. Mereka menanam dan menyuburkan slogan-slogan indah dan memikat bagi kaum muslimin, sehingga banyak kaum muslmin yang tertipu oleh bujukan jargon orang-orang munafik itu. Sesungguhnya, mereka itu, yang melakukan kerusakan, baik itu kerusakan terhadap aqidah, pemikiran, ekonomi, sosial, politik, dan budaya. Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra: Bahwa beberapa orang munafik pada masa Rasulullah SAW, selalu tidak ikut serta bila Nabi, pergi berperang. Mereka bergembira-ria dengan ketidakikutsertaan mereka bersama Rasulullah. Lalu apabila Nabi SAW telah kembali, mereka mengemukakan alasan kepada beliau sambil bersumpah dan berharap mendapatkan pujian dengan apa yang tidak mereka perbuat. Terakhir sebagai renungan bagi kita semua, kemunafikan adalah nyata. Dia berada disekitar kita, terkadang tanpa disadari sifat-sifat itu berubah wujud dalam bentuk-bentuk benda keduniaan. Jeratan dan perangkapnya memang menggiurkan. Hidup ber-Tuhan, matipun pasti Allah menyertai untuk meminta pertanggungjawaban.

Pesona Maya

Ku tipu wajah dg aplikasi 360 Ku bohongi tuhan dg status ku Ku singkap aib di balik unggahan  Ku semai kesombongan, untuk memetik ...