Disaat pikiranku kosong menjelajah bebas ke sudut-sudut kampung halaman, aku melihat seorang putri raja duduk di kursi singgasana yang patah di tengah danau yang dulu digalinya, tepat dibibir aliran sungai Indragiri. Dengan rangkaian daun-daun rengas, angsana, kasturi, kulim, ramin, akasia, sebagai penutup tubuhnya yang tak berbusana. Tidak ada mahkota dirambut hitam yang terurai menyentuh bibir. Diujung rambutnya, basah dengan air yang mencucur dari matanya.
Ketika sadar akan pandanganku putri itu terkejut, terpaku dan heran melihat kehadiranku lalu dia bercakap-cakap,’’Jangan mendekat padaku. Aku adalah putri dari raja danau ini,’’. Dan akupun bertannya, Apakah engkau sudah lama tinggal di Danau yang sunyi ini? Jujurlah siapa engkau mengapa engakau terlihat sedih, hingga air matamu menjadikan banjir melanda kampungku?.
Aku adalah putri dan disampingku ini adalah raja dari leluhurmu yang telah membangun danau ini. Menanami rengas, akasia, meranti, kulim, sungkai, rotan, batu bara, minyak, sampai mengaliri sungai Indragiri. Memahat jati diri indragiri.Aku putri yang kehilangan jiwa, kehilangan kesucian karena keturunanku telah mendustai perjuangan kami.
Sebelum putri raja itu memajang kalimat-kalimat sedihnya akupun menjawab,’’Kesedihanmu, kegundahanmu wahai sang putri raja adalah kesedihan nyata yang tak terbilang dengan banyak kata. Kegelisahanmu sesuatu yang terlihat di depan mu saat ini. Kesedihan mendalam rakyat termasuk aku yang telah jauh meninggalkan kampung ini,’’.
Tanah Indragiri ini, baik di hulu maupun di hilir tidak lagi subur disemai bagi rengas, akasia, kulim, meranti, sungkai, ramin, rotan, batu bara, minyak untuk tumbuh. Lihatlah daun-daun itu sudah mengering. Batang-batang dan akarnya telah hanyut menjadi buih-buih dan lalu hilang terbawa arus ke muara yang tak bernama.
Hanya satu yang tersisa saat ini wahai tuan putri. Rakyatmu bernama Talang Mamak masih hidup dalam kesendiriannya. Masih mencari jati diri. Mengais rezeki dibalik eskapator, traktor, sinso, pemilik keturunanmu. Di hutan-hutan yang tak lagi hijau oleh dedaunan.
Hutan yang engkau warisi kini telah berubah fungsi. Liatlah asap yang membumbung dibalik bukit Tiga Puluh, itu adalah pabrik sawit, pabrik kayu, yang sedang membakar daun-daun rengas, akasia, sungkai, ramin, kulim, dan batu bara. Jangan kau berharap untuk melihat sialang-sialang yang berbuah madu di pohon yang engkau pelihara. Kini lebah itu telah beranjak ke negeri seberang. Terbang dengah membawa sejuta sedih.
Jika kau membuka gulungan koran yang mengapung disela-sela kiambang ditempat engaku duduk itu. Bacalah. Isinya adalah tentang keturunan dan rakyatmu yang menyia-nyiakan amanat dari tuhan. Banyak yang bukan hak dijadikan miliknya. Tidak saja taman hutan yang kau tinggalkan sudah punah ranah. Bahkan lampu-lampu penerangan untuk menyinari jalan setapak di depan danau ini, juga menjadi sesuatu yang harus dimiliki.
Tak terbilang dengan angka, tak tersebut dengan kata, tak berbekas dengan tanda, tak tampak dengan mata, bahkan hatipun tertutup dengan kabut keserakahan. Semua menjadi tampak sama. Antara yang hak dan yang bukan hak telah membaur menjadi satu dan diberi nama korupsi.
Lihatlah jembatan itu. Tengoklah bangunan istana itu. Perhatikan turap dibibir sungai atau menolehlah dibalik gedung wakil rakyat dan gedung pemerintahan kerajaan yang kau tinggalkan itu. Ada banyak sekali tipu untuk melegalkan muslihat yang sedang dirancang oleh wakil-wakil yang kami pilih kemarin.
Tuan putri raja yang cantik jelita, ada 23 miliar rengas, ramin, akasia, sungkai, punak, sawit, batu bara, minyak, yang dibagi-bagi merata oleh wakil-wakil kami itu. Itu belum seberapa tuan Putri raja, tanah disebarang sana yang kau gali dan bersihkan 200 tahun kemarin. Kini sekitar 116 miliar kubik sudah menjadi pemilik pribadi dari segelintir hulubalang, penasehat kerajaan, bahkan penunggang kuda raja juga mendapatkan bagian. Dengan dalih untuk pinjaman. Tanah talang mamak yang kau serahkan untuknya kemarin, juga sudah hilang menjadi milik beberapa orang rakyatmu.
Ironis. Itulah kata yang pantas untuk menggambarkan nasib rakyatmu kini sang putri. Ketika air mata emak dan abah kami dikampung menetes menahan perihnya hidup. Ditempat lain, pemimpin negeri ini tertawa dalam kemunafikan melihat dirinya sendiri. Meskipun mereka dihadapkan karma atas apa yang mereka perbuat.
Kalaulah tuan putri menanyakan harapan atas apa yang menjadi keinginan sebagian besar rakyat yang kau tinggalkan? Bila melihat kondisi terkini, maka harapan-harapan untuk hidup sejahtera seperti zaman kerajaan yang tuan putri pimpin terdahulu, sepertinya hal itu jauh panggang dari api.
Tuan putri bisa melihat rakyat yang ada di Rakit Kulim, kuala cinaku, kelayang, Kampung Boso, Rantau Mapesai, tambak, telok erong, teluk bagos, kauantan babu, pekan heran, talang jerinjing, siberida, dan hampir sebagian besar daerah kerajaan Indragiri hulu ini masih hidup dalam alam susah. Berharap kepada pemimpin, sama halnya harapan digantungkan kepada pungguk yang terus merindu bulan.
Lihatlah pendayung becak yang melintasi danau ini. Setiap putaran rodanya adalah pedih yang tak tertahan menyusuri jalan-jalan yang tampak sama meskipun sudah beberapa dasawarsa kau tinggalkan.
Dulu! Membaca Indragiri Hulu adalah kumpulan butiran-butiran sejarah masa silam. Tentang sejarah kekuasaan, singgasana, nasionalisme, kepahlawanan, hingga harapan kemakmuran. Melukis Indragiri sama halnya menggores garis-garis lurus yang didalamnya mengandung banyak benih perjuangan. Yang melahirkan pemikiran, kemenangan, bahkan telah menjadi lumbung pemimpin untuk negeri junjungan.
Kini? Membaca Indragiri Hulu adalah membaca tentang korupsi, manipulasi, kolusi, dan pengembang biak-an faham feodalisme, se-saudara, se-kampong, se-marga, se-suku yang ujungnya menjadikan se-penjara.
Lima sampai enam bulan ke depan, kerajaan tuan putri ini akan kembali melaksanakan pemilih ‘’raja’’ untuk menakhodai negeri ini lima tahun ke depan. Coba perhatikan baliho atau sepanduk yang membentang dari tiang listrik di depan danau, yang berwarna kuning, biru, merah, hijau itu. Tuan putri pasti bisa mencium aroma kebohongan. Wangi semerbak yang dihembuskan calon pemimpin itu hanya untuk menutupi bau busuk yang tersimpan.
Celakanya tuan putri, rakyat kerajaan ini selalu terlena dengan wangi-wangi berbentuk bantuan rumah ibadah, baju kaos, sembako, kalender, dan sebagainya. Padahal wewangian yang disebar oleh calon pemimpin itu berasal dari ramin, akasia, batu bara, sawit, sungkai, dan minyak yang tuan raja semai terdahulu.
Jadi jika tuan putri dan raja bersedih melihat apa yang terjadi terhadap bekas daerah kekuasaan kerajaan Indragiri ini, adalah kesedihan seluruh rakyat tuan putri. Kesedihan dimana tidak ada lagi bangga yang menyeruak, seperti kebanggaan raja menaklukkan congkaknya penjajahan tempo dulu. Bangga melihat hutan subur, sungai mengalir sampai batas muara, lenggak lenggok penari rentak bulian memecahkan tandan mayang. Kebanggaan itu kini tinggal sejarah.
Hari-hari hanya diisi tentang kabar ditangkapnya, ditahanya, dijadikanya tersangka mantan dan wakil rakyat kerajaan ini. Perhatikanlah headline koran itu. ‘’Mantan Bupati jadi Tersangka’’. Sakit rasanya tuan putri melihat itu.
Saturday, February 5, 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Pesona Maya
Ku tipu wajah dg aplikasi 360 Ku bohongi tuhan dg status ku Ku singkap aib di balik unggahan Ku semai kesombongan, untuk memetik ...
-
Kematian adalah batas terakhir dari kehidupan di dunia. Kematian adalah pasti. Kematian adalah milik pribadi-pribadi bernyawa dan berjiwa....
-
Percayalah. Setiap detik peradaban ini tiada akan memberikan laluan kita untuk berhenti mencapai apa yang tak pernah kita percayai. Aku tida...
-
Air mata ini tidak menyadarkan, betapa beningnya telah merusak keruh kepedihan hidup. Diantara keinginan untuk menjadi baik, tenggelam ...
No comments:
Post a Comment