Saturday, February 5, 2011

Masih Ada Waktu

Jika sesuatu dilandasi oleh niat yang tidak baik. Maka kemalangan akan terus menggelayut, mengikuti setiap perputaran waktu. Diantara siang dan malam, bulan dan tahun, bahkan abad ke abad nilai yang ditanamkan tetap tidak menghasilkan apa-apa. Tercela. Terhina.
Kekuasaan sebenarnya tidak abadi. Keabadian hanya milik pencipta. Karena keabadian bukan milik kita? Maka sudah sepantasnyalah hak itu jangan disia-siakan.
Ketika menjadi pemimpin rumah tangga. Bertanggungjawablah untuk menafkahi istri dan anak-anak dengan nafkah-nafkah yang baik. Disaat menjadi ketua RT/RW jadilah ketua yang merukuni bukan memecah. Ketua yang memberi bukan menerima apalagi meminta-minta.
Bila diberikan kekuasaan untuk memimpin sebuah desa/kelurahan, idealnya adalah kepala desa/lurah yang bermarwah bukan bermewah-mewah. Kepala Desa yang mampu menjadi pelita ketika warga dalam kegegelapan. Kepala desa yang benar-benar menjadi kepala beribu-ribu kepala-kepala.
Begitu juga ketika tuhan memberikan kesempatan untuk memimpin sebuah kecamatan. Jadilah camat yang cakap, bukan perangkap. Camat yang memberi solusi, bukan berkongsi. Camat yang memiliki integritas tidak camat yang bermental superioritas.
Disaat kita menjadi Wali Kota/bupati embanlah amanah untuk menjadi wako/bupati yang berempati, berorientasi, bukan mengantarkan peti mati untuk rakyat. Buatlah kebijakan yang mampu menjadi pelindung bukan pembeking. Kelolalah sumber-sumber kemakmuran masyarakat, bukan untuk kesejahteraan keluarga dan pejabat. Bangunlah infrastruktur yang kokoh bukan bangunan yang rapuh.
Rawat dan peliharalah hutan-hutan yang telah diwariskan oleh Talang Mamak, Sakai, Akit, Bonai untuk kesejahteraan rakyat. Bukan malahan menjadi penebang liar meluluhlantakkan kayu-kayu untuk mendapatkan nilai miliaran berbentuk rupiah.
Suatu ketika ada jutaan masyarakat memberikan kepercayaan untuk menjadi pemimpin disebuah Provinsi, maka peganglah amanah itu dengan tafakur. Bukan menjadi pemimpin yang munafik. Mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram.
Berikanlah seluruh kemampuan untuk membawa perubahan ke arah yang lebih baik bukan membawa ke arah yang lebih buruk. Buatlah program-program pembangunan yang benar-benar terlihat terbilang, cemerlang, dan gemilang. Bukan program pembangunan pincang, gemerlap, mercusuar tapi didalamnya kosong.
Rancang dan manfaatkan sumber pendapatan daerah untuk sesuatu yang benar-benar menjadi prioritas, dibutuhkan rakyat, berfaedah, tidak mubazir, dan minim kepentingan. Bukan pembangunan dengan orientasi mendapatkan sanjungan, penghargaan, dan gagah-gagahan, yang ujung-ujungnya keuntungan.
Rekrutlah bawahan yang memiliki kemampuan, integritas, intelektualitas, kualitas, untuk menterjemahkan program pembangunan secara baik. Bukan merekrut pembantu yang berlandaskan kebaikan sejarah, keluarga, daerah, dan balas jasa.
Sebuah keniscayaan jika sesuatu dimulai dengan kebaikan. Maka akhir dari itu akan lahir berjuta-juta kebaikan. Sebaliknya jika sesuatu itu dimulai dari niat yang tidak baik. Maka akhirnya akan tumbuh nilai-nilai yang berbentuk keburukan. Keburukan itu seperti virus atau kanker ganas yang terus menyebar dan akhirnya akan melumpuhkan kita. Sebab antara baik dan ketidakbaikan nilainya berbeda.
Bangunan dibuat dengan pondasi dan kerangka kebaikan akan berdiri bangunan-bunganan yang tidak saja kokoh, namun mampu memberi naungan dan perlindungan bagi banyak jiwa. Kekokohan ini akan bertahan berabad-abad lamanya.
Banyak contoh dan fakta jika sesuatu yang dimulai dengan niat yang baik akan menjadi investasi kebaikan yang terus memberikan keuntungan disepanjang masa dari dunia hingga di akhirat kelak.
Raja Ali Haji dikenang bukan karena dia mendapatkan banyak penghargaan. Tapi dia dikenal sebagai ulama, sejarawan, pujangga, dan terutama pencatat pertama dasar-dasar tata bahasa Melayu lewat buku Pedoman Bahasa; buku yang menjadi standar bahasa Melayu. Bahasa Melayu standar itulah yang dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 ditetapkan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia.
Sultan Syarif Kasim dikenang bukan karena kekayaannya dan bangunan mewah istananya. Sultan Syarif Kasim II merupakan seorang pendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tidak lama setelah proklamasi dia menyatakan Kesultanan Siak sebagai bagian wilayah Indonesia, dan dia menyumbang harta kekayaannya sejumlah 13 juta gulden untuk pemerintah republik. Bersama sultan Serdang dia juga berusaha membujuk raja-raja di Sumatera Timur lainnya untuk turut memihak republik.
Jenderal Sudirman menjadi pahlawan kemerdekaan bukan karena dia mampu mengusir penjajah. Tapi dikenang karena nilai-nilai patriotisme. Jenderal Sudirman merupakan salah satu tokoh besar di antara sedikit orang lainnya yang pernah dilahirkan oleh suatu revolusi.
Orang menghormati Soekarno-Hatta juga bukan karena dia proklamator kemerdekaan Indonesia. Namun orang mengagungkannya karena perjuangan untuk melepaskan belenggu Indonesia dari penjajahan.
Kita rindu akan kelahiran tokoh-tokoh di atas. Kita sebagai bangsa sudah tidak mampu lagi melahirkan pahlawan dan pemimpin yang memiliki jiwa untuk rakyatnya. Saat ini kita hanya mampu melahirkan para pahlawan bukan untuk daerah dan bangsa tapi pahlawan untuk kepentingannya.
Sehingga tidak usah aneh, heran, terkejut, dan tertegun jika seorang RT/RW, Kepala Desa/Lurah, Camat, Bupati/wali kota, Gubernur dan bahkan Presiden sekalipun di negeri junjungan ini diakhir-akhir masa jabatanya menuai bala. Menjadi tersangka. Stroke. Masuk penjara.
Jika hukuman akhirat dikesampingkan. Dalam sebuah episode hidup ketidakbaikan bagi pemimpin, inilah akhir yang harus ditanggung. Ada malu. Ada penyesalan. Ada pertobatan, meskipun datangnya kemudian.
Sejarah mencatat betapa perkasanya mantan presiden Soeharto dengan kekuasaan, harta, pengaruh, dan gurita politik, ekonomi, sosial, budayanya. Akhirnya lumpuh, tak berbekas. Hinaan dan cacian menjuntai-juntai dari ujung Aceh sampai Papua. Menutup, menindih, menyeliputi rapat-rapat titik-titik kebaikan yang terseret dalam keburukan Soeharto.
Seorang Panglima Besar Soeharto dengan deretan bintang lima dipundaknya, 32 tahun memimpin Indonesia, terkulai. Mati dalam celaan. Bagaimana dengan ketua RT/RW, Kepala Desa/Lurah, Bupati/Wali Kota, Gubernur? Yang mendapatkan jabatan hanya paling lama 10 tahun!.
Berangkat dari sejarah. Mumpung masih ada waktu. Penulis sebagai anak jati Riau,orang yang awam, tidak memiliki kekuasaan dan tidak mempunyai kepentingan apapaun hanya terus berharap kepada pemimpin di Negeri Lancang Kuning ini agar dapat membawa kebaikan. Tidak semu. Tidak tipu muslihat. Tidak hanya sekedar angan-angan. Tidak saja disaat-saat diberikan kepercayaan untuk menjadi pemimpin.
Kami rindu. Kami ingin. Di abad-abad yang lampau. Di peradaban yang akan datang. Anak cucu kami melihat batu nisan Disebuah pemakaman ditengah-tengah desa, kota kabupaten dan ibu kota Provinsi tertulis. ''Di sini mantan RT/RW, Kepala Desa/Lurah, Camat, Bupati/WaliKota, dan Gubernur telah dimakamkan seorang pejuang masyarakat Riau.
Bukan sebaliknya. Disebuah pemakaman yang tumbuh ilalang dan semak belukar dipinggiran rumah-rumah warga.''Di sini dimakamkan mantan seorang RT/RW, Kepala Desa/Lurah, Camat, Bupati/WaliKota, dan Gubernur yang masuk penjara karena korupsi. Sedih rasanya.
Akhirnya mengutip Gurindam 12 milik Raja Ali Haji ,’’Barang siapa khianat akan dirinya, apalagi kepada lainnya. Kepada dirinya ia aniaya, orang itu jangan engkau percaya. Hendaklah berjasa, kepada yang sebangsa. Hendaklah jadi kepala, buang perangai yang cela. Hendaklah memegang amanat, buanglah khianat.

No comments:

Post a Comment

Pesona Maya

Ku tipu wajah dg aplikasi 360 Ku bohongi tuhan dg status ku Ku singkap aib di balik unggahan  Ku semai kesombongan, untuk memetik ...