Apa lagi yang kau cari wahai pemimpin kami. Tidak cukupkah berabad-abad waktu yang telah kau habiskan untuk mencari jadi diri. Belum sempurnakah hari-hari pengabdian diri selama itu. Angka apa lagi yang belum kau raih. Dari satu sampai 10 telah kau miliki. Kenikmatan mana yang belum engkau sentuh. Sanjungan apa lagi yang belum tersemat dipundak dan dada mu. Arti apa yang terlewatkan untuk kau berikan nama sejak engkau menjadi pemimpin di negeri Lancang Kuning. Mimpi apa yang belum terwujud dalam setiap tidur-tidur empuk mu. Singgasana mana yang belum engkau hiasi.
Apa lagi yang kau cari wahai datuk kami. Tidakah engkau telah mampu merengkuh apa yang sebelumnya tak sanggup kami jemput. Lihatlah kebohongan-kebohongan yang engkau semai telah tumbuh menyerupai kebenaran. Tiang-tiang gedung alasan, telah menjulang menyentuh bibir megah. Adonan antara kepentingan pribadi, golongan, politik, ekonomi telah terpandang sempurna. Tidak percaya? Tengok jalan, jembatan, pasar, gedung, disudut-sudut perdaban sudah siap untuk dinjak oleh sakai, talang mamak, bonai, akit yang tak beralas kaki.
Apa lagi yang kau cari wahai bapak yang dipertuan agung. Belum habiskah ide-ide kreatif dalam menafsirkan kegagalan menjadi arti kesuksesan. Makna apa lagi yang tertinggal untuk diterjemahkan dalam ruangan keluarga dan sanak famili tuan. Permukaan bumi Melayu mana kaki tuan belum terjamah. Tual-tual kayu dari hutan mana yang belum menjadi arang untuk menghangatkan makan malam tuan di istana.
Apa lagi yang kau cari wahai orang yang kami tuakan. Puncak peradaban mana yang tak sempat tuan kunjungi. Mengertilah air mata buaya diempat sungai yang mengaliri lubuk hati kami telah pula engkau genangi. Ayat-ayat apa lagi yang teralpakan untuk menjadi pembenaran atas ambisi merengkuh simpati kami. Bulir-bulir sawit, batu bara, emas, hingga liang lahat kami telah berlabel nama tuan dan sanak famili.
Apa lagi yang kau cari wahai Ketua. Barat, utara, timur, selatan, tenggara, adalah puak-puak, bukankah nantinya akan menjadi milik tuan. Keinginan mana yang belum terpenuhi, sehingga tuan masih tersenyum ramah dalam penglihatan, disetiap sudut-sudut ketika kami menyusuri jalan di kampong ini.
Saturday, February 5, 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Pesona Maya
Ku tipu wajah dg aplikasi 360 Ku bohongi tuhan dg status ku Ku singkap aib di balik unggahan Ku semai kesombongan, untuk memetik ...
-
Kematian adalah batas terakhir dari kehidupan di dunia. Kematian adalah pasti. Kematian adalah milik pribadi-pribadi bernyawa dan berjiwa....
-
Percayalah. Setiap detik peradaban ini tiada akan memberikan laluan kita untuk berhenti mencapai apa yang tak pernah kita percayai. Aku tida...
-
Air mata ini tidak menyadarkan, betapa beningnya telah merusak keruh kepedihan hidup. Diantara keinginan untuk menjadi baik, tenggelam ...
No comments:
Post a Comment