Surat ini aku buat ketika aku tak lagi mampu membaca.
Kata-kata yang terangkai sedikitpun tak bisa membentuk makna-makna.
Segala tak terarah. Antara angka dan huruf-huruf menyatu membentuk sesuatu yang tak berujung.
Kepada siapa aku harus meminta tunjuk ajar. Jika setiap bulir-bulir pengajaran membunuh satu per satu kata-kata ku.
Menanti. Menantu..Menanti..Aku terpaku.
Sunday, February 6, 2011
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Pesona Maya
Ku tipu wajah dg aplikasi 360 Ku bohongi tuhan dg status ku Ku singkap aib di balik unggahan Ku semai kesombongan, untuk memetik ...
-
Kematian adalah batas terakhir dari kehidupan di dunia. Kematian adalah pasti. Kematian adalah milik pribadi-pribadi bernyawa dan berjiwa....
-
Percayalah. Setiap detik peradaban ini tiada akan memberikan laluan kita untuk berhenti mencapai apa yang tak pernah kita percayai. Aku tida...
-
Air mata ini tidak menyadarkan, betapa beningnya telah merusak keruh kepedihan hidup. Diantara keinginan untuk menjadi baik, tenggelam ...
No comments:
Post a Comment