Pekerjaan kita mengumpulkan remah-remah yang tercecer dari sebuah alam tipu untuk menjadi muslihat. Terkadang kita menjadi malaikat. Namun kita teramat sering dipaksa untuk berwujud iblis. Tidak ada yang salah kawan.
Tawa yang mencurah dalam setiap pertemuan malam semu kita adalah air mata yang akan selalu tumpah ketika kembali ke bilik-bilik kumuh rumah kita. Kita tahu persis dapur-dapur pembuat dosa untuk dihidang dan disantap oleh penghuni kampung. Kita sangat hapal, ramuan-ramuan peradaban kebohongan yang di jerang oleh tangan-tangan putih berkemeja bersih. Kita teramat sering mencicipi hidangan kotor itu sebelum dibungkus untuk dibagikan. Kita paham akan ilmu-ilmu pendustaan. Kita adalah diri yang berdiri dan duduk sama persis dengan sang pembuat dosa. Pekerjaan kita terkadang mencuci kotor dengan air kebohongan.
Di sisi lain kita juga mengotori sesuatu yang bersih dengan menyirami kata-kata yang disiksa agar tampak bermarwah. Kita ini seperti endapan lumpur, di atasnya tergenang air yang tembus ke dasar. Jernih. Kita kawan, berada dibawah air itu.
Papan-papan huruf dan angka yang menuruti jari-jari lemah kita hanya bisa tersenyum getir. Andaikan papan kunci itu, bisa kita mendengarkan kata-katanya. Maka dia akan berucap. ''Kebohongan apa lagi yang kita cipta untuk disantap banyak nyawa hari ini?''.
Tapi sudahlah. Ini adalah sebuah pilihan waktu. Bukan pilihan hidup kita. Kita sekali lagi dipaksa untuk terlanjur menciptakan cinta. Harapan kita tentu tak akan putus untuk tetap terus menjadi seperti ini. Jika kita masih percaya dengan waktu. Biarlah semua ini menjadi bagian dari sejarah. Bahwa kita terjebak di dasar lumpur di atas jernihnya air peradaban.
8 Juni 2011
Tiga hari sebelum anak ku lahir
Wednesday, June 8, 2016
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Pesona Maya
Ku tipu wajah dg aplikasi 360 Ku bohongi tuhan dg status ku Ku singkap aib di balik unggahan Ku semai kesombongan, untuk memetik ...
-
Kematian adalah batas terakhir dari kehidupan di dunia. Kematian adalah pasti. Kematian adalah milik pribadi-pribadi bernyawa dan berjiwa....
-
Percayalah. Setiap detik peradaban ini tiada akan memberikan laluan kita untuk berhenti mencapai apa yang tak pernah kita percayai. Aku tida...
-
Air mata ini tidak menyadarkan, betapa beningnya telah merusak keruh kepedihan hidup. Diantara keinginan untuk menjadi baik, tenggelam ...
No comments:
Post a Comment