Friday, June 3, 2016

Begitulah Manusia

Begitulah. Manusia mempunyai keinginan jiwa untuk selalu dipuja. Dalam peradabannya, ketika Adam memuja Hawa, maka dosa-dosa mulai tumbuh dibenak Adam. Semua dosa itu dipersembahkan untuk Hawa. Demi mendapatkan puja, puji, cinta, kasih, atau istilah kekinian mengharapkan like dan tentu saja tubuh sang Hawa. Maka singkatnya terjadilah tragedi buah quldy.

Begitulah.  Manusia memang selalu ingin menjadi pemunca. Setiap insan ingin selalu merasa penting di tengah-tengah komunitas. Ingin dilihat, dikenal, dan tentu saja ingin dihargai. Untuk mencapai itu, ada banyak perbuatan yang dimodifikasi, dipoles, disubsitusi, direstorasi, bahkan ada kalanya memperbudak jiwa dengan melawan perintah hati.

Begitulah. Manusia sebagai mahluk yang bernafsu ingin terus merawat birahinya dengan memupuk libido. Menggemukkan testosteron, menjinakkan monopose, menyanyangi kelamin serta perlengkapan vitalnya. Demi mengejar keinginan itu, kita membebaskan banyak kesalahan, meliarkan perbuatan hitam, bahkan seringkali memelacurkan keyakinan dan iman.

Begitulah. Manusia tidak kuasa untuk tidak menjadi munafik. Perbuatan-perbuatan memang memiliki alas, dasar, pondasi, motivasi, tujuan, dan tentu saja kepentingan. Adakalanya kebenaran, kekalahan, dosa, pahala, dusta, jujur, tulus, rakus, ihklas, tak memiliki pengertian hakiki. Semuanya mengawang-awang, menjadi abu-abu.

Begitulah. Manusia tidak akan pernah terpuaskan. Syukur sebagai sebuah titah Tuhan hanya akan menjadi pembenaran apabila ada keinginan yang tak tergapai. Kaya, miskin, berada, dan tak ada adalah hasil dari perbuatan. Perbuatan itulah yang menyebabkan kita tak akan pernah mempunyai ketercukupan.

Begitulah. Manusia memang berbeda dengan mahkluk lainnya. Tapi secara naluriah kita berbeda sangat tipis dengan binatang.

No comments:

Post a Comment

Pesona Maya

Ku tipu wajah dg aplikasi 360 Ku bohongi tuhan dg status ku Ku singkap aib di balik unggahan  Ku semai kesombongan, untuk memetik ...