Friday, June 17, 2016

Ada Baik di Balik Buruk

Perbuatan baik akan selalu melahirkan kebaikan-kebaikan. Kebaikan adalah keburukan yang diterjemahkan dalam ruang yang positif. Antara kebaikan dan ketidakbaikkan adalah sama. Sama-sama melahirkan sejarah pembelajaran. Banyak kebaikan yang tercipta dari sesuatu yang buruk. Sebab sebaik apapun sebuah keburukan dan seburuk apapun sebuah kebaikan akan selalu ada pengetahuan. Tentang keburukkan, tentang kebaikkan itu sendiri.

Sebagai manusia, kita dilahirkan ke dunia dari ''proses keburukkan''. Andaikan Adam tidak berbuat buruk terhadap kecintaanya kepada Hawa, maka kita entah berada di mana. Apakah surga akan berada di akhirat atau hanya berada di sebuah telapak kaki hawa. Ketika Hawa tergoda dari keburukan Iblis, maka Adam memahami itu sebagai cinta. Sebab keburukkan yang disematkan bagi Iblis, adalah kebaikan untuk memenuhi hasrat jiwa cinta bagi Hawa.

Romantisme keburukkan dan kebaikan dunia akan selalu mengikuti kita. Dia akan selalu berada di dua sisi yang berjarak tipis. Di saat keinginan untuk dicintai, maka di dinding lain, keinginan untuk membenci siap menanti. Bila rasa memiliki yang begitu dalam, di pojok lain ketidakinginan rasa memiliki begitu dangkal. Proses pemahaman diri terhadap dosa, akan melahirkan pahala-pahala yang berbeda. Dan pahala yang disemai di ruang kesombongan juga hanya mampu menciptakan dosa-dosa lainnya. Ketika kebaikan disemai di ladang keburukkan. Maka benih yang dituai adalah buah-buah baik. Ranum. Menggoda untuk disantap hati.

Perputaran waktu ini akan melahirkan berjuta-juta kebaikan. Tidak menjadi sama disaat tampang keburukkan di serakkan di rahim bumi. Buah keburukkan juga akan menjuntai seperti rambai, tumbuh masam, tapi tetap memiliki nilai. Seperti nilai Hawa memakan buah qoldy di surga. Ada pembelajaran dan ada penyesalan yang memberikan jejak tentang pertaubatan.Penyesalan dan pertaubatan inilah yang mestinya menjadi arah untuk kita sebagai manusia mampu menggapai nilai-nilai.


Wednesday, June 15, 2016

Misteri Ahmad

Politik ke Riau-an memang selalu bermisteri. Sejarah itu dimulai ketika Ismail Suko mengguncang dunia perpolitikan era Orde Baru tahun 1985. Bersaing bersama Imam Munandar yang didukung pemerintah pusat, Ismail Suko mampu unggul dalam pemilihan. Namun karena Presiden Soeharto saat itu tidak mengakui, akhirnya kemenang itu dilimpahkan ke Imam Munandar setelah Ismail Suko dipaksa untuk mengundurkan diri.

Memasuki rezim Reformasi, H Saleh Djasit selaku incumbent takluk di tangan Rusli Zainal pada Pemilihan Gubernur via DPRD tahun 2003. Kemenangan ini juga bermisteri. Tiada yang menduga dan tiada juga yang menyangka, bahwa Saleh Djasit bisa tumbang oleh RZ yang saat itu menjadi Bupati Indragiri Hilir. Dari sisi apapun saat itu Saleh Djasit unggul, namun kepiawaian RZ membaca ombak, mampu menakhodai perahunya mengatasi gemuruh gelombang menuju pelabuhan yang dituju.

Belum tuntas dua periode memimpin Riau, RZ akhirnya juga tumbang dihantam badai yang diciptakanya sendiri. RZ yang dijuluki sang visioner oleh orang-orang dekatnya ditahan KPK, terjerat korupsi pelaksanaan PON dan korupsi kehutanan. RZ divonis bersalah oleh Pengadilan Tipikor dengan hukuman puluhan tahun penjara.

Saat ini meskipun RZ masih menjalankan sisa hukumannya di penjara, namun pengaruh politiknya masih begitu terasa disetiap helat politik yang dilaksanakan di Provinsi Riau. Ini bisa dimaklumi karena RZ memang terkenal piawai dalam membaca ombak, namun sedikit terlena oleh tiupan angin pantai.

Setelah rezim RZ tumbang, pada Pemilihan Gubernur Riau 2013 terjadi pertarungan sengit memperebutkan orang nomor satu di Bumi Lancang Kuning. Ada lima pasangan calon gubernur dan wakil gubernur yang maju.

Mantan Wali Kota Pekanbaru Herman Abdullah digadang-gadang akan mudah memenangkan pertarungan ini. Herman dinilai berhasil memimpin Pekanbaru. Hanya saja langkah Herman yang meminang Wakil Wali Kota Dumai Agus Widayat sebagai pendampingnya adalah keselahan terbesar politik Herman.

Bupati Rokan Hulu H Achmad MSi juga masuk jajaran calon gubernur terkuat. Setelah berhasil menyingkirkan Wakil Gubernur HR Mambang Mit dalam memperebutkan kursi dukungan Partai Demokrat, Achmad juga didukung oleh rezim RZ. Selain itu Ahcmad juga gencar melakukan sosialisasi pencitraan dimedia-media. Didampingi oleh Wakil Bupati Kepulauan Meranti Masrul Kasmy sebagai Wakil Gubernur, Ahcmad menjadi sosok yang tepat menggantikan RZ. '

Namun mendekati hari pemilihan, bencana datang. Terjadi peristiwa yang menggerus suara dan simpatisan dukungan untuk Achmad-Masrul Kasmy. Persoalannya sangat sederhana. Hanya karena Achmad tidak mau bersalaman dengan HR Mambang Mit yang saat itu masih menjabat Wakil Guberur pada acara pembukaan MTQ tingkat Provinsi Riau di Pasirpangaraian. Peristiwa ini menjadi viral di media baik cetak maupun elektronik, terlebih media sosial. ''Maaf Bukan Mukhrim'' menjadi trading topic.

Jhon Erizal (JE) yang juga Bendahara Umum DPP PAN memiliki peluang menjadi kuda hitam. Setelah HR Mambang Mit tak memiliki perahu untuk maju, JE merangkul MM sebagai Wakil Gubernur. Pasangan ini tidak ideal, sebab logika politik seharusnya yang menjadi Calon Gubernur adalah HR Mambang Mit dan wakil gubernurnya JE. Ketidakidealan pasangan ini, membuat simpatisan HR Mambang Mit gamang. Berhembus kabar, kesediaan MM menjadi wakil JE saat itu tujuannya bukan untuk menang, namun hanya guna mengganjal suara dari pasangan Ahcmad-Masrul Kasmy.

''Atuk'' Annas Maamun-Andi Rahcman adalah pasangan yang paling tidak ideal bila ditinjau dari aspek psikologis, historis dan faham politik, Kedua orang ini dijodohkan. Dikawin paksa oleh politik itu sendiri. Hanya satu keunggulan pasangan ini yaitu didukung Golkar.  Terbukti, di kabupaten yang basis Golkarnya besar, pasangan ini merajalela.

Terakhir Lukman Edy-Suryadi Khusaini. Pasangan ini prematur. Lahir belum cukup umur. Meskipun begitu pasangan inilah sebenarnya penentu kemenangan Atuk Annas Maamun-Andi Rahcman diputaran pertama dan kedua.

Setelah satu tahun dilantik Annas Maamun-Andi Rachman sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur, KPK ''berulah''. Atuk ditangkap di rumah, dihadapan istri dan anaknya di Bogor. Atuk disangka menerima suap dari pengusaha Gulat Manurung (tim sukses). Divonis penjara 7 tahun, tamat sudah karir politik Annas Maamun.

Dua tahun lamanya misteri gubernur defenitif tak terjawab sejak Atuk ditangkap, akhirnya Andi Rachman secara penuh menjabat Gubernur Riau yang dilantik oleh Presiden RI Jokowi Dohdoh.

Misteri kembali menyeruak. Siapakah Wakil Gubernur untuk mendampingi Andi Rachman?
Ada beberapa nama yang memiliki peluang untuk menduduki orang nomor dua di Riau tersebut. Misal ada bupati dan wakil bupati yang berasal dari Golkar, seperti Bupati Siak Syamsuar, Bupati Pelalawan HM Haris, mantan Bupati Kuansing Sukarmis, Bupati Inhu Yopie, birokrat Ahmad Syah Harofie dan beberapa nama lainnya termasuk mantan Wakil Gubernur HR Mambang Mit.

Ansar Ahmad adalah pembawa misteri itu. Bupati Bintan ini ''merusak'' ketenangan Andi untuk menentukan pilihan hati. Andi menjadi galau. Bupati yang pernah kalah maju sebagai calon gubernur Kepri ini berharap peruntungan di tanah ''kakak'' Provinsi Riau.

Ansar Ahmad sejak kehadiran direlung pikiran Andi sekarang semakin sering mengambil simpati. Hadir di acara-acara tak jauh dari rumah sang gubernur. Menurut bisik-bisik kedai kopi, Ansar Ahmad berani menyorongkan hidung (meski tak mancung) ke hadapan Andi sejak Setya Novanto menang menjadi Ketum Golkar pada Munas di Bali. Entah apa hubungan antara Ansar dan Setya, yang pasti membuat Andi hilang ''nyali''.

Mungkin karena namanya hampir sama, maka Ahmad Syah Harofie yang kini disaingkan untuk melindungi ''kepentingan Riau'' menghadapi Ansar (Setya) Ahmad. Beragam geraan untuk mendukung mantan PLh Bupati Bengkalis ini digaungkan. Ada-ada saja organisasinya. Sang kandidat juga selalu siap sedia mendampingi Andi kemana saja berada, kebetulan memang yang bersangkutan saat ini masih menjabat Asisten Andi.

Jika kedua Ahmad ini disandingkan. Lalu disematkan masing-masing kelebihan dan kekuranganya, maka keduanya sangat pantas mendampingi Andi. Sudah akhil baliq yang pasti, pendidikan oke, kemampuan dan pengalaman boleh diadu. Tidak sakit jiwa, tidak terlibat gerakan PKI, rajin beribadah, suka menolong dan tidak sombong. Hormat dengan kedua orangtua dan guru, rajin menabung, memiliki keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah (sudah pasti lelaki tulen bukan LGBT donk...).

Lalu siapakah yang akan dipilih Andi?
Kalau Ansar Ahmad menjadi Wakil Gubernur maka secara politik di Golkar Andi aman tentram loh jenawi. Ketika Pilgubri 2018 perahu Golkar telah standby siap untuk dinaiki Andi.  Keuntungan lainnya, Ansar Ahmad akan berpikir ulang beberapa kali untuk menelikung Andi maju sebagai gubernur. Sebab logika politiknya di tanah kelahirannya saja si Ahmad (setya) ini kalah, apalagi di tanah kakak provinsinya. Jadi si Ahmad ini akan setia sampai mati mendampingi Andi. Kecuali sebelum Pilgubri, KPK berulah lagi, itu lain cerintanya broh.

Jika Ahmad (Andi) Syah Harofie yang dipilih, maka memudahkan Andi dalam mengkoordinasi, mengsingkrunisasi, mendelegasi, mengambilisasi, mengamanisasi dan sasi-sasi yang lain terkait dengan kebijakan politik Andi dan kawan-kawan serta keluarga. Karena apa? Ahmad Syah sudah teruji, terbukti dan sudah tentu terpatuh. Intinya si Ahmad Syah ini memudahkan kerja Andi titik!. Sedangkan yang lain menyusahkan. Tapi Andi harus waspada, Pilgubri 2018 nanti bisa-bisa ditelikung Ahmad Syah ini. Kenapa? karena lemahnya elektabilitas Andi. Jadi kalau mau main aman, ya sebelum dilantik Ahmad Syah ini buatkanlah hitam di atas putih.

Kira-kira beginilah bahasanya. ''Mad...hitam ni tak maju selain dengan aku. Putih ni maju tapi hati-hati. Pilih mano Mad?


Bersambung......




NB: Mohon maaf jika ada yang tersinggung. Nama dan tokoh dalam tulisan ini jika sama memang disengaja. Sekarang bulan puasa, tidak boleh berdusta.

Saturday, June 11, 2016

Qhea Air Indragiri (Airindri) Ahya

Masih memerah ingatan delapan tahun yang lalu. Ketika dua tahun menunggu ketibaan dari tuhan yang memberi nyawa-nyawa. Gadis mungil menangis berlumuran darah dari rahim wanita yang sejak akad menghalalkan persetubuhan ku.

Kesempurnaan kebahagiaan yang kami rakit dari banyak penderitaan telah membuat kesadaran bahwa tiada kesia-siaan dalam setiap perjuangan ihklas. Benih yang berbaik sangka dalam percintaan sekecil apapun akan membuahkan kesucian. Meskipun suci dalam peradaban kita akan berbeda nilainya dengan sejarah manusia lainnya.

Kami berjuang untuk memumbuhkan mu dari titik yang tak ternoda. Jika dalam pertunasan itu ada ranting yang rapuh. Maka itu bukan kuasa kami untuk menyempurnakannya. Tuhan yang sama kita agungkan telah memvonis tiada keabadian apalagi kesempurnaan.

Lukislah hidup dengan corak dan aroma sesuai dengan darah dan nadi mu. Kami tak kuasa menjajah, sebab keterjajahan hanya akan melahirkan pergolakan jiwa. Memgalirlah ikuti terus keinginan hingga tunak ke muara tujuan hati.

Doa-doa yang sama dengan nilai yang sama tak akan pernah usang untuk kami lafazkan. Selamat milad wahai putri pencorak hidup kami.







Wednesday, June 8, 2016

Lumpur

Pekerjaan kita mengumpulkan remah-remah yang tercecer dari sebuah alam tipu untuk menjadi muslihat. Terkadang kita menjadi malaikat. Namun kita teramat sering dipaksa untuk berwujud iblis. Tidak ada yang salah kawan. 

Tawa yang mencurah dalam setiap pertemuan malam semu kita adalah air mata yang akan selalu tumpah ketika kembali ke bilik-bilik kumuh rumah kita. Kita tahu persis dapur-dapur pembuat dosa untuk dihidang dan disantap oleh penghuni kampung. Kita sangat hapal, ramuan-ramuan peradaban kebohongan yang di jerang oleh tangan-tangan putih berkemeja bersih. Kita teramat sering mencicipi hidangan kotor itu sebelum dibungkus untuk dibagikan. Kita paham akan ilmu-ilmu pendustaan. Kita adalah diri yang berdiri dan duduk sama persis dengan sang pembuat dosa. Pekerjaan kita terkadang mencuci kotor dengan air kebohongan. 

Di sisi lain kita juga mengotori sesuatu yang bersih dengan menyirami kata-kata yang disiksa agar tampak bermarwah. Kita ini seperti endapan lumpur, di atasnya tergenang air yang tembus ke dasar. Jernih. Kita kawan, berada dibawah air itu. 

Papan-papan huruf dan angka yang menuruti jari-jari lemah kita hanya bisa tersenyum getir. Andaikan papan kunci itu, bisa kita mendengarkan kata-katanya. Maka dia akan berucap. ''Kebohongan apa lagi yang kita cipta untuk disantap banyak nyawa hari ini?''. 

Tapi sudahlah. Ini adalah sebuah pilihan waktu. Bukan pilihan hidup kita. Kita sekali lagi dipaksa untuk terlanjur menciptakan cinta. Harapan kita tentu tak akan putus untuk tetap terus menjadi seperti ini. Jika kita masih percaya dengan waktu. Biarlah semua ini menjadi bagian dari sejarah. Bahwa kita terjebak di dasar lumpur di atas jernihnya air peradaban.


8 Juni 2011

Tiga hari sebelum anak ku lahir

Friday, June 3, 2016

Begitulah Manusia

Begitulah. Manusia mempunyai keinginan jiwa untuk selalu dipuja. Dalam peradabannya, ketika Adam memuja Hawa, maka dosa-dosa mulai tumbuh dibenak Adam. Semua dosa itu dipersembahkan untuk Hawa. Demi mendapatkan puja, puji, cinta, kasih, atau istilah kekinian mengharapkan like dan tentu saja tubuh sang Hawa. Maka singkatnya terjadilah tragedi buah quldy.

Begitulah.  Manusia memang selalu ingin menjadi pemunca. Setiap insan ingin selalu merasa penting di tengah-tengah komunitas. Ingin dilihat, dikenal, dan tentu saja ingin dihargai. Untuk mencapai itu, ada banyak perbuatan yang dimodifikasi, dipoles, disubsitusi, direstorasi, bahkan ada kalanya memperbudak jiwa dengan melawan perintah hati.

Begitulah. Manusia sebagai mahluk yang bernafsu ingin terus merawat birahinya dengan memupuk libido. Menggemukkan testosteron, menjinakkan monopose, menyanyangi kelamin serta perlengkapan vitalnya. Demi mengejar keinginan itu, kita membebaskan banyak kesalahan, meliarkan perbuatan hitam, bahkan seringkali memelacurkan keyakinan dan iman.

Begitulah. Manusia tidak kuasa untuk tidak menjadi munafik. Perbuatan-perbuatan memang memiliki alas, dasar, pondasi, motivasi, tujuan, dan tentu saja kepentingan. Adakalanya kebenaran, kekalahan, dosa, pahala, dusta, jujur, tulus, rakus, ihklas, tak memiliki pengertian hakiki. Semuanya mengawang-awang, menjadi abu-abu.

Begitulah. Manusia tidak akan pernah terpuaskan. Syukur sebagai sebuah titah Tuhan hanya akan menjadi pembenaran apabila ada keinginan yang tak tergapai. Kaya, miskin, berada, dan tak ada adalah hasil dari perbuatan. Perbuatan itulah yang menyebabkan kita tak akan pernah mempunyai ketercukupan.

Begitulah. Manusia memang berbeda dengan mahkluk lainnya. Tapi secara naluriah kita berbeda sangat tipis dengan binatang.

Pesona Maya

Ku tipu wajah dg aplikasi 360 Ku bohongi tuhan dg status ku Ku singkap aib di balik unggahan  Ku semai kesombongan, untuk memetik ...