Perbuatan baik akan selalu melahirkan kebaikan-kebaikan. Kebaikan adalah keburukan yang diterjemahkan dalam ruang yang positif. Antara kebaikan dan ketidakbaikkan adalah sama. Sama-sama melahirkan sejarah pembelajaran. Banyak kebaikan yang tercipta dari sesuatu yang buruk. Sebab sebaik apapun sebuah keburukan dan seburuk apapun sebuah kebaikan akan selalu ada pengetahuan. Tentang keburukkan, tentang kebaikkan itu sendiri.
Sebagai manusia, kita dilahirkan ke dunia dari ''proses keburukkan''. Andaikan Adam tidak berbuat buruk terhadap kecintaanya kepada Hawa, maka kita entah berada di mana. Apakah surga akan berada di akhirat atau hanya berada di sebuah telapak kaki hawa. Ketika Hawa tergoda dari keburukan Iblis, maka Adam memahami itu sebagai cinta. Sebab keburukkan yang disematkan bagi Iblis, adalah kebaikan untuk memenuhi hasrat jiwa cinta bagi Hawa.
Romantisme keburukkan dan kebaikan dunia akan selalu mengikuti kita. Dia akan selalu berada di dua sisi yang berjarak tipis. Di saat keinginan untuk dicintai, maka di dinding lain, keinginan untuk membenci siap menanti. Bila rasa memiliki yang begitu dalam, di pojok lain ketidakinginan rasa memiliki begitu dangkal. Proses pemahaman diri terhadap dosa, akan melahirkan pahala-pahala yang berbeda. Dan pahala yang disemai di ruang kesombongan juga hanya mampu menciptakan dosa-dosa lainnya. Ketika kebaikan disemai di ladang keburukkan. Maka benih yang dituai adalah buah-buah baik. Ranum. Menggoda untuk disantap hati.
Perputaran waktu ini akan melahirkan berjuta-juta kebaikan. Tidak menjadi sama disaat tampang keburukkan di serakkan di rahim bumi. Buah keburukkan juga akan menjuntai seperti rambai, tumbuh masam, tapi tetap memiliki nilai. Seperti nilai Hawa memakan buah qoldy di surga. Ada pembelajaran dan ada penyesalan yang memberikan jejak tentang pertaubatan.Penyesalan dan pertaubatan inilah yang mestinya menjadi arah untuk kita sebagai manusia mampu menggapai nilai-nilai.
Sebagai manusia, kita dilahirkan ke dunia dari ''proses keburukkan''. Andaikan Adam tidak berbuat buruk terhadap kecintaanya kepada Hawa, maka kita entah berada di mana. Apakah surga akan berada di akhirat atau hanya berada di sebuah telapak kaki hawa. Ketika Hawa tergoda dari keburukan Iblis, maka Adam memahami itu sebagai cinta. Sebab keburukkan yang disematkan bagi Iblis, adalah kebaikan untuk memenuhi hasrat jiwa cinta bagi Hawa.
Romantisme keburukkan dan kebaikan dunia akan selalu mengikuti kita. Dia akan selalu berada di dua sisi yang berjarak tipis. Di saat keinginan untuk dicintai, maka di dinding lain, keinginan untuk membenci siap menanti. Bila rasa memiliki yang begitu dalam, di pojok lain ketidakinginan rasa memiliki begitu dangkal. Proses pemahaman diri terhadap dosa, akan melahirkan pahala-pahala yang berbeda. Dan pahala yang disemai di ruang kesombongan juga hanya mampu menciptakan dosa-dosa lainnya. Ketika kebaikan disemai di ladang keburukkan. Maka benih yang dituai adalah buah-buah baik. Ranum. Menggoda untuk disantap hati.
Perputaran waktu ini akan melahirkan berjuta-juta kebaikan. Tidak menjadi sama disaat tampang keburukkan di serakkan di rahim bumi. Buah keburukkan juga akan menjuntai seperti rambai, tumbuh masam, tapi tetap memiliki nilai. Seperti nilai Hawa memakan buah qoldy di surga. Ada pembelajaran dan ada penyesalan yang memberikan jejak tentang pertaubatan.Penyesalan dan pertaubatan inilah yang mestinya menjadi arah untuk kita sebagai manusia mampu menggapai nilai-nilai.

