Pastinya saya tidak tahu jam berapa tertidur saat itu, yang saya ingat bacaan terakhir tentang surat terbuka untuk Jokowi yang penulisnya pun saya tidak ingat. Inti dari tulisan itu juga saya tak kuasa menterjemahkannya secara sempurna, karena selain kantuk juga saya bukan orang analitik, saya membaca sekadarnya saja.
Tapi entah mengapa dalam tidur yang tak lelap itu saya bermimpi cukup lama berbicara empat mata dengan Jokowi. Detil ruangan, kursi, lukisan, cat, ornamen dan pernak-pernik saat saya bercakap-cakap dengan Jokowi begitu jelas terlihat. Padahal sebelumnya saya tak pernah membayangkan apalagi sampai memimpikan. Bukannya saya tak aware dengan pemimpin tapi memang saya orangnya jarang peduli dengan hal-hal yang bersifat abstrak. Tak jelas.
Ada banyak ungkapan-ungkapan dan kalimat sederhana yang kami bicarakan. Pembicaraan kami sangat datar. Terkadang tawa kami lepas menggema ruangan yang berwarna putih itu.
Orang-orang yang biasanya berjejer, saat itu tidak ada sama sekali. Saya sudah perhatikan di semua sudut ruangan. Kosong. Situasi ini membuat pembicaraan kami menjadi "free" tidak ada yang menilai, mencela, mencibir, apalagi memfitnah. Padahal kami duduk tepat di depan pintu beranda yang terbuka. Angin yang masuk dari cela-cela pintu beranda itu memang membuat hangat kopi saya menjadi dingin, tapi tidak dengan semangat perbincangan kami.
Ketika saya menanyakan hal-hal yang bersifat pribadi, Jokowi bukannya menjawab tapi justru dia bertanya balik ke saya. Begitu juga sebaliknya, ketika dia bertanya ke saya tentang banyak hal, sayapun tak menjawab. Tapi anehnya, setiap pertanyaan-pertanyaan yang tak ada jawabanya itu, diakhirnya kami tertawa terbahak-bahak. Entah apa yang kami ketawakan.
Ada satu momen yang tak bisa saya lupakan saat mimpi itu terjadi. Ketika itu saya berusaha untuk membersihkan abu rokok saya yang terjatuh di atas meja. Dengan tisu berwarna pink, saya ambil satu helai, lalu saya usapkan ke abu rokok tersebut. Tahu ga apa yang terjadi? Ternyata abu itu tidak ada lagi. Sayakan bingun. Kok bisa hilang?? Sementara Jokowi tersenyum simpul, seperti mengejek saya. Lalu saya bertanya, mana abu rokok tadi? Jokowi kembali tak menjawab. Tapi yang lebih aneh, setelah itu kami tertawa terpingkal-pingkal, sambil menepuk-nepuk meja.
Di tengah-tengah keceriaan perbincangan kami, tiba-tiba saya mendengar bunyi ringkikan kuda. Awalnya saya terkejut, tapi setelah Jokowi memgambil Hp dari kantong celana hitamnya, barulah keterkejutan saya tenggelam. Ternyata ringkikan kuda itu adalah nada dering hp-nya.
Sejurus kemudian, Jokowi mengangkat dan berbicara sekenanya dengan seseorang yang menghubunginya. Dia tak beranjak dari kursi, bahkan di-loudspekerkan HP-nya, biar saya juga bisa mendengarkan apa pembicaraan dengan orang tersebut.
Satu keanehan kembali terjadi. Meskipun orang yang berbicara tersebut sudah berbuih-buih, namun Jokowi tak lagi merespon. Dicoleknya saya agar saya yang berbicara dengan orang yang menelpon itu. Lalu saya kembali bertanya setengah berbisik. Siapa ni? Jokowi tak langsung menjawab. Diambilnya secarik kertas, lalu dituliskannya satu huruf dengan sangat pelan sekali. Bahkan tinta pena itu tak jejak ke atas kertas, hanya saja dari gerakan tangannya saya menduga dia ingin menuliskan huruf A. Belum usai huruf-huruf lain yang terangkai, kembali kami tertawa terbahak-bahak hampir mengeluarkan air mata. Penyebabnya sepele, tiba-tiba ada anak berudu keluar dari cangkir kopi saya.
Tak terasa perbincangan saya dengan Jokowi sudah hampir dua jam. Dengan penuh keakraban tanpa ada sekat antara saya dengan Jokowi. Menjelang saya ingin beranjak. Lalu saya tatap mata Jokowi dan tangannya saya pegang erat-erat. Saya kembali menyampaikan pertanyaan terkait kondisi negeri ini. Dengan harapan mendapatkan jawaban pasti. Pertanyaan saya mungkin sama dengan pertanyaan orang-orang di luar sana. Apa penyebab sebenarnya A....Belum usai pertanyaan saya, Jokowi kembali tertawa sangat lepas sekali. Lalu dia berkata. "Kamu ini serius amat. Sedangkan Ahmad aja ga pernah serius. Apalagi ini hanya dalam mimpi". Setelah itu sudah bisa ditebak, kami kembali tertawa terkikik-kikik.
Di penghujung mimpi, Jokowi memegang pundak saya lalu dia berbisik. Bisikannya membuat saya tersenyum kecut. Ada ketakutan dan kegamangan luar biasa. " jangan sampean share cerita mimpi ini, nanti dikira sama orang-orang saya, sampean benci sama saya".
Saya hanya menjawab. Iya pak de. Insyallah...kalau saya ga lupa. Sebelum langkah saya meninggalkan ruangan itu, sebuah benda menyentuh kepala saya. Dan benda kecil berwarna hitam sedikit putih itulah yang membangunkan saya dari mimpi. Setelah saya lihat ke atas plafon kamar 2329 tempat saya tidur ada seekor cicak lagi bersetubuh. Ternyata benda itu adalah kotoran cicak. Mimpi yang tak jelas keindahannya.
Batam, 25 November 2016
No comments:
Post a Comment