Friday, August 5, 2016

Madani yang Rapuh

Kalau ekspektasi itu diibaratkan main bola, maka seorang striker pengganti yang memiliki kesempatan mencetak gol, namun karena sesuatu hal, bola yang ditendang sang ujung tombak tak masuk ke gawang lawan. 

Padahal sebelumnya ada kesempatan pemain lain yang hampir saja mencetak gol, tetapi terjebak offside. Itu bukan peluang pertama, namun sudah beberapa kali diperolehnya. Oleh sang pelatih, pemain itu digantikan dengan ujung tombak yang masih fresh. Kenyataannya setelah dia dimainkan, sama saja. Meleset. Tiada kreativitas dan tak punya visi untuk membaca permainan. Akhirnya mudah ditebak. Kalah telak.

Yang namanya penonton, tak di dunia maupun mungkin di akhirat, pasti paling pintar dan paling benar. Sang pemain pengganti tentu saja jadi titik hujatan. Tidak sesuai ekspektasi, tak berkualitas, tak mumpuni, bodoh, bahkan caci maki mengalir deras dengan sendirinya. Bisa-bisa botol, segala macam benda berterbangan melintasi kepala. Ada kekecewaan yang mendalam. Ada kejengkelan, frustasi tingkat dewa, gregetan bahasa kekiniannya.

Sebenarnya sang striker tak mesti dipersalahkan sepenuhnya. Bukankah ada banyak pemain lain yang juga harus bertanggungjawab. Seperti kiper, playmaker, pemain sayap, termasuk bek, terlebih pelatih. Tapi karena striker yang dipercaya untuk fokus menjadi pembeda hingga meraih kemenangan itulah mengapa penonton lebih tertuju kepadanya.

Ekspektasi ini jugalah yang dirasakan oleh sebagian besar masyarakat Pekanbaru empat tahun yang lalu. Ketika pelaksanaan Pilkada yang penuh drama. Penuh sandiwara dan yang pasti sudah barang tentu melimpah dana.

Pertarungan pasangan Septina Primawati Rusli - Erizal Muluk dan Ir Firdaus MT- Ayat Cahyadi adalah pertarungan yang sangat melelahkan dan mengumbar emosi pertikaian. Namun Alhamdulillah tiada gesekan yang membuat derita melepuh.

Maka ketika Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan untuk kemenangan pasangan Firdaus-Ayat setelah PSU Pilwako, harapan akan perubahan yang menuju kesempurnaan dimulai.

Tahun pertama adalah waktu penyesuaian. Pasangan PAS bisa dimaklumi untuk tidak maksimal. Masih membenahi. Harap maklum. Masih ada empat tahun yang menggembirakan. Masih ada hope.

Tahun kedua adalah perbuatan. 
Tahun ketiga adalah penguatan.
Tahun ke empat adalah evaluasi.
Tahun ke lima memanen keberhasilan.

Kenyataanya: 
Kepemimpinan tak sesuai harapan-harapan. Tiada inovasi, kegamangan yang dibuat-buat. Tak ada sesuatu yang luar biasa yang mampu membuat sebuah perubahan. Miskin ide. Seperti berjalan di jalur yang itu-itu sahaja. 

Kerinduan melihat pemimpin seperti di Bandung dengan Ridawan Kamil yang penuh inovasi. Risma di Surabaya kaya akan karya monumental, Ahok yang kontroversi dalam konteks kebaikan. Yoyok yang mampu memanfaatkan keterbatasan dengan kerja-kerja baik. Dan ada banyak pemimpin yang bisa dijadikan rol model bagi Pekanbaru. Sayangnya kebebalan telah menimbun kemampuan intelektual untuk membawa perubahan paradigma menuju kepembaharuan berpikir, bertindak, berbuat dan merealisasikan.


bersambung....









No comments:

Post a Comment

Pesona Maya

Ku tipu wajah dg aplikasi 360 Ku bohongi tuhan dg status ku Ku singkap aib di balik unggahan  Ku semai kesombongan, untuk memetik ...