Wednesday, August 31, 2016
Friday, August 26, 2016
Friday, August 5, 2016
Madani yang Rapuh
Kalau ekspektasi itu diibaratkan main bola, maka seorang striker pengganti yang memiliki kesempatan mencetak gol, namun karena sesuatu hal, bola yang ditendang sang ujung tombak tak masuk ke gawang lawan.
Padahal sebelumnya ada kesempatan pemain lain yang hampir saja mencetak gol, tetapi terjebak offside. Itu bukan peluang pertama, namun sudah beberapa kali diperolehnya. Oleh sang pelatih, pemain itu digantikan dengan ujung tombak yang masih fresh. Kenyataannya setelah dia dimainkan, sama saja. Meleset. Tiada kreativitas dan tak punya visi untuk membaca permainan. Akhirnya mudah ditebak. Kalah telak.
Yang namanya penonton, tak di dunia maupun mungkin di akhirat, pasti paling pintar dan paling benar. Sang pemain pengganti tentu saja jadi titik hujatan. Tidak sesuai ekspektasi, tak berkualitas, tak mumpuni, bodoh, bahkan caci maki mengalir deras dengan sendirinya. Bisa-bisa botol, segala macam benda berterbangan melintasi kepala. Ada kekecewaan yang mendalam. Ada kejengkelan, frustasi tingkat dewa, gregetan bahasa kekiniannya.
Sebenarnya sang striker tak mesti dipersalahkan sepenuhnya. Bukankah ada banyak pemain lain yang juga harus bertanggungjawab. Seperti kiper, playmaker, pemain sayap, termasuk bek, terlebih pelatih. Tapi karena striker yang dipercaya untuk fokus menjadi pembeda hingga meraih kemenangan itulah mengapa penonton lebih tertuju kepadanya.
Ekspektasi ini jugalah yang dirasakan oleh sebagian besar masyarakat Pekanbaru empat tahun yang lalu. Ketika pelaksanaan Pilkada yang penuh drama. Penuh sandiwara dan yang pasti sudah barang tentu melimpah dana.
Pertarungan pasangan Septina Primawati Rusli - Erizal Muluk dan Ir Firdaus MT- Ayat Cahyadi adalah pertarungan yang sangat melelahkan dan mengumbar emosi pertikaian. Namun Alhamdulillah tiada gesekan yang membuat derita melepuh.
Maka ketika Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan untuk kemenangan pasangan Firdaus-Ayat setelah PSU Pilwako, harapan akan perubahan yang menuju kesempurnaan dimulai.
Tahun pertama adalah waktu penyesuaian. Pasangan PAS bisa dimaklumi untuk tidak maksimal. Masih membenahi. Harap maklum. Masih ada empat tahun yang menggembirakan. Masih ada hope.
Tahun kedua adalah perbuatan.
Tahun ketiga adalah penguatan.
Tahun ke empat adalah evaluasi.
Tahun ke lima memanen keberhasilan.
Kenyataanya:
Kepemimpinan tak sesuai harapan-harapan. Tiada inovasi, kegamangan yang dibuat-buat. Tak ada sesuatu yang luar biasa yang mampu membuat sebuah perubahan. Miskin ide. Seperti berjalan di jalur yang itu-itu sahaja.
Kerinduan melihat pemimpin seperti di Bandung dengan Ridawan Kamil yang penuh inovasi. Risma di Surabaya kaya akan karya monumental, Ahok yang kontroversi dalam konteks kebaikan. Yoyok yang mampu memanfaatkan keterbatasan dengan kerja-kerja baik. Dan ada banyak pemimpin yang bisa dijadikan rol model bagi Pekanbaru. Sayangnya kebebalan telah menimbun kemampuan intelektual untuk membawa perubahan paradigma menuju kepembaharuan berpikir, bertindak, berbuat dan merealisasikan.
bersambung....
Wednesday, August 3, 2016
Arifin Ahmad Absurd
Jejak menjalar. Tak ada tapak yang tercetak. Di balik hari-hari menggeliat lelah mengantarkan ketiadaan. Mengingat kenangan adalah mencumbui sejarah tentang pertarungan yang tak teraba di mana titik perlawanan.
Hujan ini tak sama bentuknya empat belasa tahun yang sirna. Rintiknya mengabur, pecah berderai sebelum jatuh ke tubuh. Aromanya terlalu pekat menusuk. Irama dan polanya abstrak. Kata teman ku yang bersandiwara dalam mimpi keterjagaanya, rintiknya hujan ini absurd. Tak pantas untuk diduga. Bahkan percikan tempiasanya sudah bercorak, kadang bening tapi terlewat sering hitam.
Kilasan itu samar-samar terangkum dalam kenyataan yang sempit. Putaran waktu menghambat untuk bernostalgia dengan sempurna. Arifin Ahmad adalah jalan peradaban ketika niat dan keinginan menyatu untuk mengejar sesuatu yang tak nyata.
Persimpangan itu, dulunya tak terlihat ada Minyak dibawahnya. Apalagi kamar-kamar yang berangka-angka. Tak juga ada ruang-ruang yang terisi anak menempa kebaikannya. Dulu hanya ada Aceh yang menjerang mie di bawah tenda biru yang kumuh.
Pohon yang mengakar juga tak angkuh. Rumput tahu diri untuk tak memghijau tua.
Tak terlalu jauh kaki menghitung langkah. Dari balik badan dan tubuh jalan Arifin Ahmad aku meniti hidup, menyusur berhanyut mengambang dideru roda-roda. Untuk berteduh mengunggah lelah di sudut Jalan Guru. Lalu dipentaskanlah drama itu dalam tawa-tawa yang bernafsu. Tentang ijonk, nengkleng, iden, danu yg lemu, lelek, udok, dan tentu saja ciek sang legenda.
Pekanbaru, 3 Agustus 2016
Di bawah hujan yg sama
di rintik yang tak sama
23.33 wib
Subscribe to:
Comments (Atom)
Pesona Maya
Ku tipu wajah dg aplikasi 360 Ku bohongi tuhan dg status ku Ku singkap aib di balik unggahan Ku semai kesombongan, untuk memetik ...
-
Kematian adalah batas terakhir dari kehidupan di dunia. Kematian adalah pasti. Kematian adalah milik pribadi-pribadi bernyawa dan berjiwa....
-
Percayalah. Setiap detik peradaban ini tiada akan memberikan laluan kita untuk berhenti mencapai apa yang tak pernah kita percayai. Aku tida...
-
Air mata ini tidak menyadarkan, betapa beningnya telah merusak keruh kepedihan hidup. Diantara keinginan untuk menjadi baik, tenggelam ...

