Thursday, July 7, 2016

Berziarah Kenangan



Wah...tak terasa waktu-waktu begitu berkelebat membuat taman-taman untuk kita berziarah kenangan. Kita memang tak kuasa menebak takdir apalagi mendesain keinginan hati. Kita hanya mampu menjalani setiap petak peta kehidupan yang telah diberikan arah oleh sang pencipta.


Masih ranum buah kenangan saat itu. Ketika pertemuan mata yang mengguncang muara hati ku yang kering. Disaat pertemuan yang tak pernah kita mampu menduga. Perjumpaan dini. Bersua diantara banyak kekurangan ku. Tentang keimanan, tentang kepunyaan tentang eksistensi diri, tentang kekuatan, tentang pesona, tentang perjuangan, dan tentang kekurangan yang terskema dalam ruang-ruang yang telah lama aku tunggui.

2004 hanya sebuah perantara dari tuhan untuk kita memulai sebuah proses dari sejarah. Ada beribu ruang yang mengisolasi hubungan ini, jika kita tak kuasa merobohkan sekatnya. Itulah perjuangan yang sebelumnya tak pernah aku terjemahkan.

Ragam rasa. Berjenis tawa dan tangis. Berbeda niat dan keinginan adalah logika yang harus kita lawan untuk tidak menjadi penghalang. Begitulah. Inilah hidup yang harus kita ukir dari bait-bait zaman. Adakalanya keinginan terkadang harus dipisahkan dengan kenyataan. Dan kenyataan tidak harus sama seperti apa yang kita niatkan. Yang pasti aku tak pernah lelah untuk mencintai apa yang aku yakini. Keyakinan itu telah terbentuk sejak aku menatap mata mu wahai penerang hati ku. Ketika kita dipertemukan di ruangan yang sebelumnya tak pernah diduga. Maka misteri tuhan itu harus aku jaga.

2006. Meskipun percintaan yang ku tanam tak seperti Adam dan Hawa, seperti Romeo dan Juliet, bak Peter Abelard dan Heloise, apalagi seperti Shah Jahan dan Arjumand Bann Bagum dengan membangun Taj Mahal, bukan juga Robert dan Elizabeth Barrett Browning, atau Tristan dan Isolde. Namun ada keserupaan hakiki yaitu cinta yang diperjuangkan.

Mungkin dirimu masih menyimpan kenangan itu. Ketika aku menekadkan raga untuk menghalalkan mu. Aku seperti melintasi jalan bersimpang. Aku seperti buih, hanyut tak tentu arah. Aku adalah musafir yang tak memiliki banyak bekal. Aku seperti pohon yang tak menjulang, karena akar yang 

tak berserabut apalagi bertunggang.

Sumpah, jika aku menyelusuri gang-gang kenangan itu, aku seperti akan tersesat, tersebab aku takut tak mampu memberikan apa yang pantas engkau terima. Tapi syukur ku harusnya tak pernah putus. Tuhan jugalah yang menguatkan. Tuhan jugalah yang memberi faedah-faedah tentang takdir. Tentang kerahasiaan, terutama tentang cinta dan perjuangan itu.

Dan kesedihan itu akhirnya tumpah. Ketika tangan kita basah oleh tetesan air mata. Disaat hakim menyatakan sah. Di celah itu insan suci yang telah menumbuhkan kehidupan memeluk erat, melayarkan biduk untuk kita mengarungi samudera, yang masih gamang kemana arah tertuju. 

Dalam hitungan angka-angka, sepertinya belum usang kenangan itu untuk kita singkap. Kita telah melalui begitu banyak kerinduan sejarah. Bagaimana kita merangkai, merakit, memoles, memperbaiki, mengartikulasi, menterjemahkan, memandu, mengarungi dan menumbuhkan pembelajaran dari setiap tapak perjalanan hidup. Kita arahkan kesedihan, kebahagiaan, kebencian, kekecewaan, sakit hati, dengan memeliharanya menjadi sesuatu yang memiliki arti. Kita tak pernah memenjarakan kesedihan. Kita juga tidak akan mampu untuk membendung tangisan. Inilah hidup yang telah kita sepakati.

2007. Andaikan syukur atas nikmat yang telah diberikan Tuhan berwujud, maka aku tergolong orang-orang yang kufur.  Bagaimana kita tenggelam dalam lubuk kesedihan, ketika benih yang kita semai tak tumbuh menyerupai keinginan kita. Tak bisa kita memberi nama, tak mampu kita menggenggam tangannya, bahkan kita tak kuasa melihat wajah dan kelaminya. Dia pergi sebelum mengenal dunia dengan segala kemunafikanya. Bahkan mengenal kita sebagai ayah-ibunya.

Dipenghujung tahun, kebahagiaan kita kembali tumbuh, memuai memayungi kehidupan. Membunuh kesedihan yang pernah menghimpit ketika apa yang diingini tak mendapat tempat disisiNya. Rahim sebagai sangkar taman kerinduan, mulai terisi gumpulan darah, buah dari persetubuhan halal cinta. 

Tiga bulan sesudahnya, kita kembali tenggelam, terhuyung, tertegun, terkesima, termenung, tersakiti, terhempas ketika gumpalan darah itu tak bernyawa. Tak berdetak, tak berbentuk, tak tumbuh, tak bergerak dan tak menyerupai keinginan kita. Tiada nisan, liang lahat ataupun kain kaffan. Inilah kesedihan kedua yang tak pernah kita persiapkan.


Qhea Airindri Ahya lahir 11 Juni 2008. Tak perlulah kita menyelusuri kerinduan kebahagiaan ini. Tak ada kata, tak ada perbuatan terbaik selain memilikinya.


Fagan Rahman lahir 5 Maret 2013. 
Kesempurnaan memang bukan milik kita. Tapi, ada saatnya kesenangan tiba pada suatu titik dimana tiada ungkapan yang mampu melukisi rasa.

Dan lihatlah, mereka tumbuh 
menghijau dengan kelopak dan kuntum yang anggun. Batang, akar dan ranting yang kokoh. Beraroma. Menghiasi taman hati kita yang sederhana ini. Mereka menari dan terbang menyentuh, menjuntai, berlari-lari mengelilingi ingatan kita. Qhea itu cantik seperti ibunya. Fagan sudah tentu memesona sperti aku ayahnya... hehehe....

Lalu sampai kapankah batas perziarahan kenangan kita, setelah 10 tahun peradaban pernikahan ini? 

"Insyallah tak berbatas, sampai pada ujung dimana Tuhan mengambil apa yang menjadi haknya. Apakah nyawa, cinta, atau bahkan takdir-takdir kita"






Pekanbaru, 8 Juli 2016

No comments:

Post a Comment

Pesona Maya

Ku tipu wajah dg aplikasi 360 Ku bohongi tuhan dg status ku Ku singkap aib di balik unggahan  Ku semai kesombongan, untuk memetik ...