Tuesday, May 5, 2015

''Bokap Gue Miskin''

Tidak ada satu jiwapun yang akan menyerahkan diri dinikmati dengan harga-harga.  Tidak ada satupun insan yang merelakan kehormatannya disinggahi banyak benda. Tidak akan ada seorang kita merelakan teman, saudara, tetangga, untuk mengais kenikmatan semu dari cumbu-cumbu yang berbumbu.
     
Ketinggian diri ditentukan oleh ketinggian hati. Harga sebuah diri adalah harga yang bila dinilai akan banyak memiliki nominal-nominal. Namun, ada banyak sebab yang akan mengikuti ketika seorang jiwa memaksakan diri untuk terjerumus dalam ruang mengeksploitasi kelamin. Ini bukan pembenaran. Ini hanya sebuah muara dari kenyataan. Bahwa sesungguhnya apa yang terjadi ada sebab yang menyertai akibat.

Persoalan ini ada, lahir dari banyak masalah, soal keimanan, keputusasaan, ketakutan, kemiskinan, dan tentu saja soal kenikmatan itu sendiri yang tak dikurung sehingga bermain bebas dalam urat-urat tegang menuju ke ovarium.

Dalam sejarahnya, hampir setiap peradaban umat manusia tidak pernah sepi dari pelacuran. Pada masa Nabi Shale, misalnya, pelacuran terjelma dalam bentuk iming-iming seorang wanita cantik bernama Shaduq binti Mahya kepada Masda bin Mahraj yang berjanji membunuh unta Nabi Shaleh. Langkah ini kemudian diikuti oleh wanita lain yang menyerahkan kehormatan anak gadisnya kepada pemuda Qudar bin Salif (Ihsan: 2004:129-136).

Jadi aktivitas menjual kelamin adalah sebuah keniscayaan yang tak akan mampu diusut sampai ke ujung batas. Dia akan terus ada, selagi kenikmatan itu ada. Dia akan selalu lahir, ketika pemerintah tak mampu menciptakan lapangan pekerjaan. Dia akan selalu muncul, ketika kita sebagai orang tua tak kuasa memagari anak-anak dengan ilmu agama dan iman. Dia akan tumbuh seperti ilalang, jika ladang kemiskinan masih terbentang.

Para antropolog menggambarkan bahwa pelacuran merupakan fakta yang tak dapat dielakkan, karena adanya pembagian peran laki-laki dan perempuan yang sudah muncul pada masyarakat primitif. Tugas perempuan diarahkan untuk melayani kebutuhan seks laki-laki. Sedangkan kaum feminis memandang bahwa pelacuran adalah akibat dari kuatnya sistem patriarkhi (pria sebagai sosok otoritas utama) . Sementara kaum Marxis melihat pelacuran sebagai akibat yang niscaya dari perkembangan kapitalisme.

Sebagai pemangku kepentingan, pemerintah berperan dalam fungsi pengawasan dan pencegahan agar kemaksiatan tidak tumbuh dan berbiak-biak sehingga tidak melahirkan sentimenisme kesucian antar kita.

Ketika Teleju dibenamkan dalam sebuah peradaban, dibangun lebih suci, ketika itu juga warga penghuni  menyebar ke sudut-sudut peradaban kota. Membentuk komunitas, membangun singgasana kenikmatan yang berbeda. Di Meredan, di KM 54 Pelalawan, di panti-panti pijat berpredikat plus-plus. Hingga memeriahkan Jondul yang memang telah bertaji. Jadi tidak membanggakan jika konsumen kini banyak pilihan-pilihan.

Lalu berhasilkah kita sebagai orang yang ''suci'' membangun kesadaran mereka? Bukankah kita yang merasa suci, memandang tinggi keberhasilan haram, dengan cara-cara koruptif, tidak lebih suci dari para penjual kelamin, yang hanya merusak diri dan keimanannya.

Namanya Ginta (18) mahasiswi ternama di kota Bogor. Parasnya manis, tinggi sekira 164 cm.  Ketika pagi hingga sore hari, dirinya menjadi mahasiswi yang anggun, berpakaian anggun, berkelakuan anggun, berkehidupan anggun.

Menjelang malam, di sebuah tempat kos, ketika armada taxi menjemput untuk mengantarkannya sebagai Ladies escort  disalah satu pusat hiburan malam di Jakarta pusat, maka seketika itulah keanggunannya memudar, hingga dini hari keanggunan itu hilang ditelan keintiman yang tersadar. Satu kalimat yang diungkapkan Ginta. ''Bokap gue miskin,''. ***


No comments:

Post a Comment

Pesona Maya

Ku tipu wajah dg aplikasi 360 Ku bohongi tuhan dg status ku Ku singkap aib di balik unggahan  Ku semai kesombongan, untuk memetik ...