Masih Ada Waktu Oleh Edwir Sulaiman
5 Juli 2010
62 klik
JIKA kekuasaan yang direngkuh dilandasi oleh niat yang tidak
baik, maka kemalangan akan terus menggelayut, mengikuti setiap
perputaran waktu. Di antara siang dan malam, bulan dan tahun, bahkan
abad ke abad. Nilai yang ditanamkan tetap tidak menghasilkan apa-apa.
Tercela. Terhina.
Kekuasaan sebenarnya tidak abadi. Keabadian hanya milik
pencipta. Karena keabadian bukan milik kita? Maka sudah sepantasnyalah
hak itu jangan disia-siakan. Ketika menjadi pemimpin rumah tangga.
Bertanggungjawablah untuk menafkahi istri dan anak-anak dengan nafkah
yang baik. Di saat menjadi ketua RT/RW jadilah ketua yang merukuni bukan
memecah. Ketua yang memberi bukan menerima apalagi meminta-minta. Bila diberikan kekuasaan untuk memimpin sebuah desa/kelurahan, idealnya adalah kepala desa/lurah yang bermarwah bukan bermewah-mewah. Kepala desa yang mampu menjadi pelita ketika warga dalam kegelapan. Kepala desa yang benar-benar menjadi kepala beribu-ribu kepala. Begitu juga ketika Tuhan memberikan kesempatan untuk memimpin sebuah kecamatan. Jadilah camat yang cakap, bukan perangkap. Camat yang memberi solusi, bukan berkongsi. Camat yang memiliki integritas tidak camat yang bermental superioritas.
Di saat kita menjadi wali kota/bupati embanlah amanah untuk menjadi wali kota/bupati yang berempati, berorientasi, bukan mengantarkan peti mati untuk rakyat. Buatlah kebijakan yang mampu menjadi pelindung bukan pembeking. Kelolalah sumber-sumber kemakmuran masyarakat, bukan untuk kesejahteraan keluarga dan pejabat.
Bangunlah infrastruktur yang kokoh bukan bangunan yang rapuh. Rawat dan peliharalah hutan-hutan yang telah diwariskan oleh Talang Mamak, Sakai, Akit, Bonai untuk kesejahteraan rakyat. Bukan malahan menjadi penebang liar meluluhlantahkan kayu-kayu untuk mendapatkan nilai miliaran berbentuk rupiah.
Suatu ketika ada jutaan masyarakat memberikan kepercayaan untuk menjadi pemimpin di sebuah provinsi, maka peganglah amanah itu dengan tafakur. Bukan menjadi pemimpin yang munafik. Mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram. Berikanlah seluruh kemampuan untuk membawa perubahan ke arah yang lebih baik bukan membawa ke arah yang lebih buruk. Buatlah program-program pembangunan yang benar-benar terlihat terbilang, cemerlang, dan gemilang. Bukan program pembangunan pincang, gemerlap, mercusuar tapi di dalamnya kosong.
Rancang dan manfaatkan sumber pendapatan daerah untuk sesuatu yang benar-benar menjadi prioritas, dibutuhkan rakyat, berfaedah, tidak mubazir, dan minim kepentingan. Bukan pembangunan dengan orientasi mendapatkan sanjungan, penghargaan, dan gagah-gagahan, yang ujung-ujungnya keuntungan. Rekrutlah bawahan yang memiliki kemampuan, integritas, intelektualitas, kualitas, untuk menterjemahkan program pembangunan secara baik. Bukan merekrut pembantu yang berlandaskan kebaikan sejarah, keluarga, daerah, dan balas jasa.
Sebuah keniscayaan jika sesuatu dimulai dengan kebaikan. Maka akhir dari itu akan lahir berjuta-juta kebaikan. Sebaliknya jika sesuatu itu dimulai dari niat yang tidak baik. Maka akhirnya akan tumbuh nilai-nilai yang berbentuk keburukan. Keburukan itu seperti virus atau kanker ganas yang terus menyebar dan akhirnya akan melumpuhkan kita.
Sebab antara baik dan ketidakbaikan nilainya berbeda. Bangunan dibuat dengan pondasi dan kerangka kebaikan akan berdiri bangunan-bunganan yang tidak saja kokoh, namun mampu memberi naungan dan perlindungan bagi banyak jiwa. Kekokohan ini akan bertahan berabad-abad lamanya. Banyak contoh dan fakta jika sesuatu yang dimulai dengan niat yang baik akan menjadi investasi kebaikan yang terus memberikan keuntungan di sepanjang masa dari dunia hingga di akhirat kelak.
Raja Ali Haji dikenang bukan karena dia mendapatkan banyak penghargaan. Dia adalah ulama, sejarawan, pujangga, dan terutama pencatat pertama dasar-dasar Tata Bahasa Melayu lewat buku Pedoman Bahasa; buku yang menjadi standar Bahasa Melayu. Bahasa Melayu standar itulah yang dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 ditetapkan sebagai Bahasa Nasional, Bahasa Indonesia. Karya monumentalnya, Gurindam Dua Belas (1847), menjadi pembaru arus sastra pada zamannya.
Jenderal Sudirman menjadi pahlawan kemerdekaan bukan karena dia mampu mengusir penjajah. Tapi dikenang karena nilai-nilai patriotisme. Jenderal Sudirman merupakan salah satu tokoh besar di antara sedikit orang lainnya yang pernah dilahirkan oleh suatu revolusi. Sultan Syarif Kasim II dikenang bukan karena kekayaannya dan bangunan mewah istananya.
Sultan Syarif Kasim II merupakan seorang pendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tidak lama setelah Proklamasi dia menyatakan Kesultanan Siak sebagai bagian wilayah Indonesia, dan dia menyumbang harta kekayaannya sejumlah 13 juta gulden untuk pemerintah Republik Indonesia. Bersama Sultan Serdang dia juga berusaha membujuk raja-raja di Sumatera Timur lainnya untuk turut memihak kepada Republik Indonesia. Orang menghormati Soekarno-Hatta juga bukan karena dia pembaca teks Proklamasi. Namun orang mengagungkannya karena perjuangan untuk melepaskan belenggu Indonesia dari penjajahan.
Kita rindu akan kelahiran tokoh-tokoh di atas. Kita sebagai bangsa sudah tidak mampu lagi melahirkan pahlawan dan pemimpin yang memiliki jiwa untuk rakyatnya. Saat ini kita hanya mampu melahirkan para pahlawan bukan untuk daerah dan bangsa tapi pahlawan untuk kepentingannya. Sehingga tidak usah aneh, heran, terkejut, dan tertegun jika seorang RT/RW, kepala desa/lurah, camat, bupati/wali kota, gubernur dan bahkan presiden sekalipun di negeri junjungan ini diakhir-akhir masa jabatannya menuai bala.
Jika hukuman akhirat dikesampingkan. Dalam sebuah episode hidup ketidakbaikan bagi pemimpin, inilah akhir yang harus ditanggung. Ada malu. Ada penyesalan. Ada pertaubatan, meskipun datangnya kemudian. Sejarah mencatat betapa perkasanya mantan Presiden Soeharto dengan kekuasaan, harta, pengaruh, dan gurita politik, ekonomi, sosial, budayanya. Akhirnya lumpuh, tak berbekas. Hinaan dan cacian menjuntai-juntai dari ujung Aceh sampai Papua. Menutup, menindih, menyelimuti rapat-rapat sejumlah titik kebaikan yang terseret dalam keburukannya saat memimpin.
Kami rindu. Kami ingin, di abad-abad nanti. Di peradaban yang akan datang. Anak cucu kami melihat batu nisan di sebuah pemakaman di tengah-tengah kota tertulis. “Di sini mantan RT/RW, kepala desa/lurah, camat, bupati/wali kota, dan gubernur telah dimakamkan seorang pejuang masyarakat Riau.”
Akhirnya, mengutip Gurindam 12 Raja Ali Haji. “Barangsiapa khianat akan dirinya. Apalagi kepada lainnya. Kepada dirinya ia aniaya. Orang itu jangan engkau percaya. Hendaklah berjasa
Kepada yang sebangsa. Hendak jadi kepala. Buang perangai yang cela. Hendak memegang amanat. Buanglah khianat.”***
Edwir Sulaiman, wartawan tinggal di Pekanbaru dan peminat masalah sosial kemasyarakatan.
No comments:
Post a Comment