Istri-ku
Taman peradaban yg aku janjikan ketika akad mengiringi tangis sudah mulai terbentuk...
Tidak sempurna memang keindahanya..tapi aku yakin kamu mengerti bahwa kesempurnaan bukan milik kita..
Liatlah bunga yg kita semai 2 tahun lamanya...kini telah tumbuh...
Daun, akar, batang, warna, aromanya terus mengisi kekosongan hati..cantik sekali kuntumnya
Harus diakui..terkadang bunga itu tak sempat kita sirami..
namun yakinlah..cinta yg mengalir disekujur nadi... akan terus menyegarkannya
Istri-ku
Puing-puing anugerah yg diberikan sang Pencipta telah kita paku menjadi gubuk
Meskipun tidak seindah istana raja-raja...
tapi gubuk itu adalah peluh, darah, dan air mata yang kita satukan..
Bukan kita tak mampu memberi hiasan-hiasan semu didindingnya..
Namun kita takut, taman ini akan tak menjadi suci..
Istri-ku
Enam tahun sudah kita labuhkan biduk ini untuk mengarungi derasnya samudera hati
Terkadang ombak dan gelombang membuat kita sakit..
Sunday, April 17, 2011
Idealisme vs Pragmatisme
Idealisme dalam konteks peradaban berfikir, bertindak, berbuat, dan berapresiasi merupakan keinginan jiwa setiap manusia. Idealisme adalah harta karun bernilai yang tertanam dalam lubuk nyawa. Kita semua memilikinya. Tidak kaya. Tidak miskin. Tidak pejabat. Tidak penjahat. Tidak juga penjilat. Apalagi ustad.
Idealisme adalah suatu ajaran/faham atau aliran yang menganggap bahwa realitas ini terdiri atas roh-roh (sukma) atau jiwa. ide-ide dan pikiran atau yang sejenis dengan itu.
Aliran ini merupakan aliran yang sangat penting dalam perkembangan sejarah pikiran manusia. Mula-mula dalam filsafat Barat kita temui dalam bentuk ajaran yang murni dari Plato. Yang menyatakan bahwa alam, cita-cita itu adalah yang merupakan kenyataan sebenarnya. Adapun alam nyata yang menempati ruang ini hanyalah berupa bayangan saja dari alam idea itu.
Aristoteles memberikan sifat kerohanian dengan ajarannya yang menggambarkan alam ide sebagai sesuatu tenaga (entelechie) yang berada dalam benda-benda dan menjalankan pengaruhnya dari benda itu. Pada jaman Aufklarung ulama-ulama filsafat yang mengakui aliran serba dua seperti Descartes dan Spinoza yang mengenal dua pokok yang bersifat kerohanian dan kebendaan maupun keduanya mengakui bahwa unsur kerohanian lebih penting daripada kebendaan.
Idealisme adalah ketugahan hati untuk tidak terjerat dalam perangkap-perangkap kemunafikan. Jika hidup adalah sebuah pertarungan untuk mencapai kesempurnaan? Maka idealisme menjadi tameng untuk kita tidak terjebak pada arus ketidakbenaran. Idealisme seperti cahaya dalam ruang gelap. Idealisme bagaikan hujan digersangnya hidup. Idealisme umpama jalan penunjuk arah kebenaran.
Kesempurnaan bukan milik manusia. Hak itu telah dipatenkan sang pencipta. Manusia hanya diberi ruang untuk selalu menambah setiap kurang yang ada di dunia. Proses pencapaian ke bilik kesempurnaan akan selalu terhenti di batas yang hakekatnya tak terbatas.
Terkadang (kalau tak boleh disebut sering) idealisme kita terbunuh oleh pisau-pisau tajam peradapan. Apakah itu bermotif kepentingan ekonomi, politik, budaya, bahkan ke ceruk berkeyakinan. Kita terbawa arus. Tak peduli apakah air yang mengalir itu dangkal atau dalam. Kita terombang-ambing. Meskipun ombak yang membentang tak bergemuruh. Dalam ranah kepentingan inilah sikap idealisme kita sebenarnya diuji. Apakah idealisme harus terkalahkan dengan sikap Pragmatisme adalah aliran filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar adalah segala sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan melihat kepada akibat-akibat atau hasilnya yang bermanfaat secara praktis. Dengan demikian, bukan kebenaran objektif dari pengetahuan yang penting melainkan bagaimana kegunaan praktis dari pengetahuan kepada individu-individu.
Dasar dari pragmatisme adalah logika pengamatan, di mana apa yang ditampilkan pada manusia dalam dunia nyata merupakan fakta-fakta individual, konkret, dan terpisah satu sama lain. Dunia ditampilkan apa adanya dan perbedaan diterima begitu saja. Representasi realitas yang muncul di pikiran manusia selalu bersifat pribadi dan bukan merupakan fakta-fakta umum. Ide menjadi benar ketika memiliki fungsi pelayanan dan kegunaan. Dengan demikian, filsafat pragmatisme tidak mau direpotkan dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kebenaran, terlebih yang bersifat metafisik, sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan filsafat Barat di dalam sejarah.
Idealisme adalah suatu ajaran/faham atau aliran yang menganggap bahwa realitas ini terdiri atas roh-roh (sukma) atau jiwa. ide-ide dan pikiran atau yang sejenis dengan itu.
Aliran ini merupakan aliran yang sangat penting dalam perkembangan sejarah pikiran manusia. Mula-mula dalam filsafat Barat kita temui dalam bentuk ajaran yang murni dari Plato. Yang menyatakan bahwa alam, cita-cita itu adalah yang merupakan kenyataan sebenarnya. Adapun alam nyata yang menempati ruang ini hanyalah berupa bayangan saja dari alam idea itu.
Aristoteles memberikan sifat kerohanian dengan ajarannya yang menggambarkan alam ide sebagai sesuatu tenaga (entelechie) yang berada dalam benda-benda dan menjalankan pengaruhnya dari benda itu. Pada jaman Aufklarung ulama-ulama filsafat yang mengakui aliran serba dua seperti Descartes dan Spinoza yang mengenal dua pokok yang bersifat kerohanian dan kebendaan maupun keduanya mengakui bahwa unsur kerohanian lebih penting daripada kebendaan.
Idealisme adalah ketugahan hati untuk tidak terjerat dalam perangkap-perangkap kemunafikan. Jika hidup adalah sebuah pertarungan untuk mencapai kesempurnaan? Maka idealisme menjadi tameng untuk kita tidak terjebak pada arus ketidakbenaran. Idealisme seperti cahaya dalam ruang gelap. Idealisme bagaikan hujan digersangnya hidup. Idealisme umpama jalan penunjuk arah kebenaran.
Kesempurnaan bukan milik manusia. Hak itu telah dipatenkan sang pencipta. Manusia hanya diberi ruang untuk selalu menambah setiap kurang yang ada di dunia. Proses pencapaian ke bilik kesempurnaan akan selalu terhenti di batas yang hakekatnya tak terbatas.
Terkadang (kalau tak boleh disebut sering) idealisme kita terbunuh oleh pisau-pisau tajam peradapan. Apakah itu bermotif kepentingan ekonomi, politik, budaya, bahkan ke ceruk berkeyakinan. Kita terbawa arus. Tak peduli apakah air yang mengalir itu dangkal atau dalam. Kita terombang-ambing. Meskipun ombak yang membentang tak bergemuruh. Dalam ranah kepentingan inilah sikap idealisme kita sebenarnya diuji. Apakah idealisme harus terkalahkan dengan sikap Pragmatisme adalah aliran filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar adalah segala sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan melihat kepada akibat-akibat atau hasilnya yang bermanfaat secara praktis. Dengan demikian, bukan kebenaran objektif dari pengetahuan yang penting melainkan bagaimana kegunaan praktis dari pengetahuan kepada individu-individu.
Dasar dari pragmatisme adalah logika pengamatan, di mana apa yang ditampilkan pada manusia dalam dunia nyata merupakan fakta-fakta individual, konkret, dan terpisah satu sama lain. Dunia ditampilkan apa adanya dan perbedaan diterima begitu saja. Representasi realitas yang muncul di pikiran manusia selalu bersifat pribadi dan bukan merupakan fakta-fakta umum. Ide menjadi benar ketika memiliki fungsi pelayanan dan kegunaan. Dengan demikian, filsafat pragmatisme tidak mau direpotkan dengan pertanyaan-pertanyaan seputar kebenaran, terlebih yang bersifat metafisik, sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan filsafat Barat di dalam sejarah.
Saturday, April 16, 2011
Puji-Puja Setelah Mati Tak Berguna
Kematian adalah batas terakhir dari kehidupan di dunia. Kematian adalah pasti. Kematian adalah milik pribadi-pribadi bernyawa dan berjiwa. Kematian pedih. Kematian menyakitkan bagi yang ditinggal. Kematian menuntaskan segala prahara dunia. Kematian juga menakutkan, meskipun yang ditakutkan tidak tahu kapan hadir. Kematian rahasia sang pemilik nyawa. Kematian bergandengan tangan dengan kehidupan. Kematian milik kita, kamu, dia, serta aku.
Ketika mati disematkan ke diri, maka tuntas sudahlah seluruh sejarah peradaban dunia. Jika mati adalah jiwa-jiwa kerdil, seperti petani, penjambret, perompak, pemulung, tukang bangunan, cleaning service dan lainya, kematianya hanya seperti angin yang diterbangkan debu. Paling-paling bendera putih berkibar rendah. Setelah itu hanya tangis yang menggugu dari sanak keluarga.
Berbeda jika kematian adalah milik pribadi-pribadi besar. Tokoh masyarakat. Tokoh agama. Tokoh politik. Tokoh publik. Tokoh perjuangan. Kematianya sangat ''bergema'' dan ''meriah''. Berjejer karangan bunga. Ucapan belasengkawa membujur dari media cetak hingga media elektronika. Dari ujung rumah duka sampai ke batas rumah persinggahan terakhir. Segala puji dan puja menjuntai membentuk lingkaran semua tentang kebaikan, kepahlawanan, perjuangan, kedermawanan, kesederhanaan, kejujuran, dan beribu-ribu kata mulia meluncur dari mulut-mulut yang juga pribadi-pribadi besar.
Memori-memori kebaikan, keironisan, ketangguhan ditumpahkan dalam berbagai bentuk ungkapan belasengkawa. Tidak ada buruk apalagi dosa yang mesti dimaafkan. Tidak ada pencelaan, meskipun hakekat manusia adalah mahluk tercela. Sudah beribu-ribu jiwa-jiwa besar yang dipanggil satu persatu oleh sang pencipta. Sudah beribu-ribu pula puji-puja mengatarkan jiwa itu ke peristirahatannya yang terakhir.
Ketika jiwa Soekarno melepaskan diri dari raganya yang tersunyikan. Seketika itu tunas-tunas kepahlawanan menyeruak bak jamur tumbuh. Berpuluh-puluh buku, biografi, autobiografi, dan sisi humanisme Soekarno dipahat dalam lembar-lembar kertas. Paham, pemikiran, ide, dan pandangan Soekarno menjadi sebuah pemikiran yang harus dipelajari serta ditelusuri. Bahkan sampai kepekuburannya dia dikeramatkan. Padahal ketika jiwa dan raganya masih menyatu. Dia diasingkan. Dia dibunuh dalam kesepian. Dia tak terpikirkan. Dia menderita. Dia sekarat di atas tanah dan air yang dia merdekakan.
Bersambung....
Ketika mati disematkan ke diri, maka tuntas sudahlah seluruh sejarah peradaban dunia. Jika mati adalah jiwa-jiwa kerdil, seperti petani, penjambret, perompak, pemulung, tukang bangunan, cleaning service dan lainya, kematianya hanya seperti angin yang diterbangkan debu. Paling-paling bendera putih berkibar rendah. Setelah itu hanya tangis yang menggugu dari sanak keluarga.
Berbeda jika kematian adalah milik pribadi-pribadi besar. Tokoh masyarakat. Tokoh agama. Tokoh politik. Tokoh publik. Tokoh perjuangan. Kematianya sangat ''bergema'' dan ''meriah''. Berjejer karangan bunga. Ucapan belasengkawa membujur dari media cetak hingga media elektronika. Dari ujung rumah duka sampai ke batas rumah persinggahan terakhir. Segala puji dan puja menjuntai membentuk lingkaran semua tentang kebaikan, kepahlawanan, perjuangan, kedermawanan, kesederhanaan, kejujuran, dan beribu-ribu kata mulia meluncur dari mulut-mulut yang juga pribadi-pribadi besar.
Memori-memori kebaikan, keironisan, ketangguhan ditumpahkan dalam berbagai bentuk ungkapan belasengkawa. Tidak ada buruk apalagi dosa yang mesti dimaafkan. Tidak ada pencelaan, meskipun hakekat manusia adalah mahluk tercela. Sudah beribu-ribu jiwa-jiwa besar yang dipanggil satu persatu oleh sang pencipta. Sudah beribu-ribu pula puji-puja mengatarkan jiwa itu ke peristirahatannya yang terakhir.
Ketika jiwa Soekarno melepaskan diri dari raganya yang tersunyikan. Seketika itu tunas-tunas kepahlawanan menyeruak bak jamur tumbuh. Berpuluh-puluh buku, biografi, autobiografi, dan sisi humanisme Soekarno dipahat dalam lembar-lembar kertas. Paham, pemikiran, ide, dan pandangan Soekarno menjadi sebuah pemikiran yang harus dipelajari serta ditelusuri. Bahkan sampai kepekuburannya dia dikeramatkan. Padahal ketika jiwa dan raganya masih menyatu. Dia diasingkan. Dia dibunuh dalam kesepian. Dia tak terpikirkan. Dia menderita. Dia sekarat di atas tanah dan air yang dia merdekakan.
Bersambung....
Subscribe to:
Comments (Atom)
Pesona Maya
Ku tipu wajah dg aplikasi 360 Ku bohongi tuhan dg status ku Ku singkap aib di balik unggahan Ku semai kesombongan, untuk memetik ...
-
Kematian adalah batas terakhir dari kehidupan di dunia. Kematian adalah pasti. Kematian adalah milik pribadi-pribadi bernyawa dan berjiwa....
-
Percayalah. Setiap detik peradaban ini tiada akan memberikan laluan kita untuk berhenti mencapai apa yang tak pernah kita percayai. Aku tida...
-
Air mata ini tidak menyadarkan, betapa beningnya telah merusak keruh kepedihan hidup. Diantara keinginan untuk menjadi baik, tenggelam ...