Tuesday, October 18, 2016

Menuai Takdir

Kepastian itu bukan kita mengukirnya. Setiap jalur nadi hidup adalah perbuatan-perbuatan yang terakumulasi, membentuk, mengeras, membatu bahkan mencair adalah perbuatan
sejarah dari sebuah proses kerahasiaan takdir yang juga tidak ada kepastian.

Perbanyaklah baik. Persemaian sekecil apapun akan dipetik buah-buah ranum, mengkal. Dan dalam rentang itu ada putik yang jatuh, maka berteduhlah dalam singgasana takdir. Itupun bukan kebaikan yang abadi.

Persempitlah keburukkan. Dosa itu ada karena pahala yang meminta. Keburukan adalah kebaikan yang belum cukup usia. Maka tunggulah keburukan itu berbunga, jika aromanya telah mekar, maka hiruplah. Sebab keharuman itu tak wajib berawal dari sesuatu yang indah dipandang hati. Ada saatnya niat dikalahkan oleh tampak yang buruk.

Seperti iblis. Adalah malaikat yang menyimpan amarah. Tak mampu mengurung dan memelihara kebaikan. Pertarungannya hanya ada ketika surga menjadi pelipur lara manusia. Sedangkan neraka itu adalah sebab. Semua kembali soal keseimbangan. Dan iblis penyeimbang takdir yang nyata bersemayam dalam pikiran kita.

Takdir itu adalah buah dari persemaian kebaikan dan keburukan di ladang perbuatan. Jika sampai masanya, maka tuailah dengan sepenuh hati. Jangan pernah menernak dendam. Karena kelak dendam itu juga akan menjadi takdir. Sampai masanya kita tak kuasa menghitung hari. Berhenti didenyut nadi. Mati.










Pesona Maya

Ku tipu wajah dg aplikasi 360 Ku bohongi tuhan dg status ku Ku singkap aib di balik unggahan  Ku semai kesombongan, untuk memetik ...