Friday, February 19, 2016

Banjir LGBT





Dulu. Dulu sekali. Sekitar tahun 80-an, ketika banjir menghampiri kampung kami di Kabupaten Inhu, semua orang bersuka cita. Bagi kaum pria, inilah saatnya untuk menebang kayu hutan yang ada di pinggir-pinggir kampung. Diameter kayunya cukup besar. Ada rengas, meranti, dan paling favorit tentu saja kayu kulim yang hitam legam.

Tual-tual kayu yang panjangnya sekitar lima meter itu dibuat rakit. Lalu untuk sampai ke rumah, rakit tersebut digandeng dengan sampan lunas, menyusuri parit-parit yang tergenang, dengan arus yang lembut. Lima sampai enam jam laju rakit akhirnya sampai di samping rumah-rumah.

Biasanya, kayu-kayu yang berusia tua itu diolah menjadi papan dan beloti setelah banjir menyingkir. Dengan membuat semacam bedeng di samping rumah, lalu kayu itu digergaji secara manual. Selain untuk dijual, papan tersebut juga dipergunakan untuk memperbaiki rumah yang rusak termakan usia.

Banjir juga memberikan berkah bagi kaum ibu. Inilah saatnya untuk membersihkan berbagai peralatan rumah tangga. Mencari ikan dengan memancing. Cukup melemparkan pancing di pinggir-pinggir tangga, selais, baung, dan ikan gabus cukup untuk membuat nasi berwarna.  

Bagi saya saat itu, banjir adalah seperti taman impian Jaya Ancol. Banjir adalah arena maha luas untuk kami bermain. Berenang pagi terjun bebas di titian. Menyelam bagaikan ikan menyusuri setiap tangga panggung rumah kami yang sederhana. Bermain bola, diantara lapangan yang tergenang air.

Terjun bebas dari batang pohon mangga dan durian tanpa busana. Membuat rakit dari pohon pisang untuk mengambil buah yang meranum. Menangkap kelabang di sela-sela pohon yang terendam. Kelabang itu disimpan, setelah banjir surut lalu dijual ke pemilik ikan peliharaan.


Ketika itu, banjir bukanlah bencana. Biasanya banjir melanda di awal atau akhir tahun. Banjir besar yang menenggelamkan banyak rumah rentangnya antara empat sampai lima tahun sekali. Banjir besar ini juga disambut suka cita. Tidak ada bantuan pemerintah, apalagi sekadar meminta belas kasih dipinggir-pinggir jalan desa atau kota.

Itu dulu. Banjir tahun rendah. Sangat beda banjir tahun tinggi. Banjir saat ini, datang tak mengenal kebiasaan.
Bisa di awal, tengah, dan akhir tahun. Hujan beberapa saat di hulu, maka bisa dipastikan di hilir tergenang banjir. Apalagi di kota Pekanbaru. Banjir seperti hantu. Bahkan saat ini banjir dijadikan ajang mencari celah untuk mendapatkan bantuan, dukungan politik, dan tentu saja nafkah haram di balik kardus-kardus sumbangan.

Dulu, kayu hutan ditebang sekadarnya. Dengan mengunakan kampak, dibuat rakit, digergaji manual. Sekarang, pohon ditebang setiap detik, dengan gergaji metik, diangkut dengan ponton dan truk berkubik-kubik. Lalu-lalang di depan mata kita. Hilir-mudik, bersemayam di pabrik-pabrik. Seketika berubah menjadi kertas dan plastik.


Pesona Maya

Ku tipu wajah dg aplikasi 360 Ku bohongi tuhan dg status ku Ku singkap aib di balik unggahan  Ku semai kesombongan, untuk memetik ...