Ibu....Tadi malam aku anak mu bermimpi tentang dirimu. Ini adalah mimpi yang kesian kali, sejak engkau pergi delapan tahun yang lalu. Engkau hanya menatap dari jauh. Tak sepatah-kata yang engkau ucap. Aku hanya melihat kesedihan yang bergelayut dari cara engkau memandang ku. Tatapan itu menusuk hati. Kesedihan itu aku pahami. Karena aku tak jua mampu menterjemahkan bahwa hidup adalah persimpangan yang akan menuntun kita menuju arah, apakah surga atau neraka yang akan ku tuju.
Kesadaran untuk selalu mengiba dihadapan Allah SWT seperti engkau ajarkan dari detik per detik hidup ku hingga saat-saat engkau menemui tuhan mu, tak juga aku turuti dengan sepenuh hati. Kegundahan mu adalah tipisnya iman yang bersemayam dalam jiwa ku. Godaan duniawi telah mengelabui ku sebagai manusia untuk selalu menyesatkan diri, dalam ruang-ruang yang terpapar keindahan semu.
Masih terlihat nyata oleh ku, ketika tulang-tulang yang menyanggah rusuk mu, pinggang, dan pundak melepuh, memuai, berbulir-bulir menyerupai pasir. Tulang-tulang itu jugalah yang menopang kami dari tak bernama hingga bersinggasana. Tulang itu telah ribuan kali mengelus hidup kami dengan kasih sayang tak terbilang. Cinta menjulang hingga kami tak tak kuasa mengukur tinggi dan dalam pengorbanan mu.
Engkau terbaring miring, menghindar perih yang tak tertanding. Itu aku lihat dari caramu memegang erat tangan kami, saat memanggil nama-nama anak mu. Itu aku lihat dari cara mu menangis. Air matamu menyusuri kerut di sisi mata yang terpejam. Beningnya tak terkalahkan oleh sakit yang engkau derita. Air mata itulah yang engkau simpan berpuluh-puluh tahun, yang tak pernah kami temukan sebelum engkau rapuh di sore itu, ketika tuhan mengambil ajal di tubuh mu yang layu.
Tiada nominal yang akan mampu menebus cinta dan kasih sayang seorang ibu. Dia melahirkan. Dia menjaga. Dia merawat. Dia menuntun, mengajarkan, membimbing, menterjemahkan. Dia mempercantik, memberi, mengasihi, menemani. Dia membelai, dia mengurai, menghangatkan, mendinginkan, mengecup, mengecap. Dia maha pencinta, dia menjelaskan, mendekap, memeluk, membela, melindungi. Dia berdoa, dia mengejakan, melepaskan, menerangi, menyelimuti. Dia membentengi, dia mengakidahkan, memoralkan, dia menanam seluruh cinta disetiap sendi dan aliran darah kita.
Nak....Tahu kah engkau, tiada keabadian dalam perjalanan nafas ini. Keabadian itu hanya milikNYA. Ada masa engkau menjadi teristimewa. Ada juga ruang engkau untuk dihina. Maka berbaik sangkalah kepada kebaikkan maupun keburukkan hidup. Suatu saat engkau akan paham bahwa apa yang engkau semai, akan ada nilai-nilai yang akan engkau petik.
Nak....Coba engkau ambil segelas air. Tuangkan ke tanah yang engkau pijak. Maka air itu sebagian akan meresap dan beberapa akan mengalir mengikuti rendahnya bumi. Lalu pada akhirnya air itu bersatu kembali. Mengerti kah engkau? Bahwa sesungguhnya jarak antara kita hanya sebatas tanah. Tidak bisa kita menduga. Maka doa-doa jugalah yang akan mempersatukan kita.
Akhirnya, ketika sunyi telah membumbung tinggi. Bagi nyawa-nyawa yang telah ditinggal ibu, akan selalu berharap untuk menepi menyusuri mimpi di malam-malam yang lainnya. Mimpi merindukan sang pencinta. Mimpi melihat, memeluk telapak kaki yang bersurga. Mimpi dekapan tulus dari sang bunda. Mimpi untuk memohon ampun atas dosa-dosa.
Kami percaya, keabadian cinta, di belahan bumi manapun, di tanah, benua, selat, dan peradaban apapun, ibu adalah malaikat yang dicipta dalam konteks yang nyata, selalu bersemayam dalam setiap langkah dan kehidupan kita. Selamat Hari Ibu, wahai perempuan-perempuan suci. Ampunilah kami.***