27 Mai 2012 - 07.51 WIB > Dibaca 555 kali | Komentar
Perbuatan baik akan selalu melahirkan kebaikan-kebaikan. Kebaikan adalah keburukan yang diterjemahkan dalam ruang yang positif. Antara kebaikan dan ketidakbaikan adalah sama. Sama-sama melahirkan sejarah pembelajaran. Banyak kebaikan yang tercipta dari sesuatu yang buruk. Sebab sebaik apapun sebuah keburukan dan seburuk apapun sebuah kebaikan akan selalu ada pengetahuan. Tentang keburukan, tentang kebaikan.
Sebagai manusia, kita dilahirkan ke dunia dari ‘’proses keburukan’’. Andaikan Adam tak berbuat buruk terhadap kecintaannya pada Hawa yang dipuja, maka kita entah berada di mana.
Romantisme keburukan dan kebaikan dunia akan selalu mengikuti kita. Dia akan selalu berada di dua sisi yang berjarak tipis. Di saat keinginan untuk dicintai, maka di dinding lain, keinginan untuk membenci siap menanti. Bila rasa memiliki yang begitu dalam, di pojok lain ketidakinginan rasa mempunyai begitu dangkal. Proses pemahaman diri terhadap dosa, akan melahirkan pahala-pahala yang berbeda.
Ketika kebaikan disemai di ladang keburukan, maka benih yang dituai adalah buah-buah baik. Ranum. Menggoda untuk disantap hati. Perputaran waktu ini akan melahirkan berjuta-juta kebaikan. Tidak menjadi sama di saat tampang keburukan diserakkan di rahim bumi.
Buah keburukan juga akan menjuntai seperti rambai, tumbuh masam, tapi tetap memiliki nilai. Seperti nilai Hawa memakan buah khuldi di surga. Ada pembelajaran dan ada penyesalan yang memberikan jejak tentang pertaubatan. Penyesalan dan pertaubatan inilah yang mestinya menjadi arah untuk kita sebagai manusia mampu menggapai nilai-nilai.
Riau sebagai sebuah ladang tempat berpijak bagi banyak puak, telah banyak melahirkan makna-makna kebaikan. Bergunung-gunung limpahan pembelajaran yang telah meleleh dan menetes dari zaman berzaman. Tentang nasionalisme yang dieja Sultan Syarif Kasim yang berbilang I dan II. Tentang M Boya yang mati di perairan Indragiri demi harga diri. Tentang Hang Tuah meninggalkan kaumnya demi menegakkan marwah bangsa. Tentang Ismail Suko yang menantang gelombang dan arus kekuasaan Jawa.
Namun, menghapal Riau kekinian adalah membaca huruf-huruf tak beraturan. Antara Kampar menyalip Rokan Hulu, menelikung Rokan Hilir, menyepi di Pelalawan. Antara Indragiri, angkuh di hilir, senyap di hulu, bergemuruh di Kuantan. Bengkalis meredupkan Mandau, melepaskan Meranti, menyembunyikan Dumai.
Pekanbaru angkuh meniti takdir ketika ditasbihkan menjadi Ibu sebuah provinsi. Padahal huruf-huruf itu masih bercerita tentang langit bumi lancang yang berwarna kuning. Arus air dari sengkayan-sengkayan yang dulu menyatukan Riau, kini seperti mengalir tak tentu menuju muara yang mana. Semua bergegas menuju tempat yang semu.
Membaca Riau saat ini adalah menghitung angka-angka. Tentang Talang Mamak yang tak mampu lagi tamak. Tentang hutan yang tak lagi belantara. Tentang hewan yang tak lagi buas dan liar. Tentang sungai yang tak lagi kuasa menahan jernih. Tentang gelombang yang tak mampu tinggi. Bahkan tentang awan yang turun menjilat bumi mengawini asap-asap.
Menerjemahkan Riau adalah menunggu karma-karma. Ketika ditinggikan tak ingat tentang arti rendah. Ketika dijulang lupa makna akan pengorbanan. Ketika didahulukan tak menoleh ke belakang. Ketika dituakan tak mengakui proses terciptanya muda. Ketika menerima seperti tak pandai berterima. Ketika diterangkan, makna gelap dilupakan. Bahkan di saat bebas, lupa filosofi di penjara. Ya... Allah ampunilah kami.***
Edwir Sulaiman
Koordinator Liputan
Sebagai manusia, kita dilahirkan ke dunia dari ‘’proses keburukan’’. Andaikan Adam tak berbuat buruk terhadap kecintaannya pada Hawa yang dipuja, maka kita entah berada di mana.
Romantisme keburukan dan kebaikan dunia akan selalu mengikuti kita. Dia akan selalu berada di dua sisi yang berjarak tipis. Di saat keinginan untuk dicintai, maka di dinding lain, keinginan untuk membenci siap menanti. Bila rasa memiliki yang begitu dalam, di pojok lain ketidakinginan rasa mempunyai begitu dangkal. Proses pemahaman diri terhadap dosa, akan melahirkan pahala-pahala yang berbeda.
Ketika kebaikan disemai di ladang keburukan, maka benih yang dituai adalah buah-buah baik. Ranum. Menggoda untuk disantap hati. Perputaran waktu ini akan melahirkan berjuta-juta kebaikan. Tidak menjadi sama di saat tampang keburukan diserakkan di rahim bumi.
Buah keburukan juga akan menjuntai seperti rambai, tumbuh masam, tapi tetap memiliki nilai. Seperti nilai Hawa memakan buah khuldi di surga. Ada pembelajaran dan ada penyesalan yang memberikan jejak tentang pertaubatan. Penyesalan dan pertaubatan inilah yang mestinya menjadi arah untuk kita sebagai manusia mampu menggapai nilai-nilai.
Riau sebagai sebuah ladang tempat berpijak bagi banyak puak, telah banyak melahirkan makna-makna kebaikan. Bergunung-gunung limpahan pembelajaran yang telah meleleh dan menetes dari zaman berzaman. Tentang nasionalisme yang dieja Sultan Syarif Kasim yang berbilang I dan II. Tentang M Boya yang mati di perairan Indragiri demi harga diri. Tentang Hang Tuah meninggalkan kaumnya demi menegakkan marwah bangsa. Tentang Ismail Suko yang menantang gelombang dan arus kekuasaan Jawa.
Namun, menghapal Riau kekinian adalah membaca huruf-huruf tak beraturan. Antara Kampar menyalip Rokan Hulu, menelikung Rokan Hilir, menyepi di Pelalawan. Antara Indragiri, angkuh di hilir, senyap di hulu, bergemuruh di Kuantan. Bengkalis meredupkan Mandau, melepaskan Meranti, menyembunyikan Dumai.
Pekanbaru angkuh meniti takdir ketika ditasbihkan menjadi Ibu sebuah provinsi. Padahal huruf-huruf itu masih bercerita tentang langit bumi lancang yang berwarna kuning. Arus air dari sengkayan-sengkayan yang dulu menyatukan Riau, kini seperti mengalir tak tentu menuju muara yang mana. Semua bergegas menuju tempat yang semu.
Membaca Riau saat ini adalah menghitung angka-angka. Tentang Talang Mamak yang tak mampu lagi tamak. Tentang hutan yang tak lagi belantara. Tentang hewan yang tak lagi buas dan liar. Tentang sungai yang tak lagi kuasa menahan jernih. Tentang gelombang yang tak mampu tinggi. Bahkan tentang awan yang turun menjilat bumi mengawini asap-asap.
Menerjemahkan Riau adalah menunggu karma-karma. Ketika ditinggikan tak ingat tentang arti rendah. Ketika dijulang lupa makna akan pengorbanan. Ketika didahulukan tak menoleh ke belakang. Ketika dituakan tak mengakui proses terciptanya muda. Ketika menerima seperti tak pandai berterima. Ketika diterangkan, makna gelap dilupakan. Bahkan di saat bebas, lupa filosofi di penjara. Ya... Allah ampunilah kami.***
Edwir Sulaiman
Koordinator Liputan