Tuesday, October 28, 2014

Menanti Karma


27 Mai 2012 - 07.51 WIB > Dibaca 555 kali | Komentar
 
Menanti Karma
Perbuatan baik akan selalu melahirkan kebaikan-kebaikan. Kebaikan adalah keburukan yang diterjemahkan dalam ruang yang positif. Antara kebaikan dan ketidakbaikan adalah sama. Sama-sama melahirkan sejarah pembelajaran. Banyak kebaikan yang tercipta dari sesuatu yang buruk. Sebab sebaik apapun sebuah keburukan dan seburuk apapun sebuah kebaikan akan selalu ada pengetahuan. Tentang keburukan, tentang kebaikan.

Sebagai manusia, kita dilahirkan ke dunia dari ‘’proses keburukan’’. Andaikan Adam tak berbuat buruk terhadap kecintaannya pada Hawa yang dipuja, maka kita entah berada di mana.

Romantisme keburukan dan kebaikan dunia akan selalu mengikuti kita. Dia akan selalu berada di dua sisi yang berjarak tipis. Di saat keinginan untuk dicintai, maka di dinding lain, keinginan untuk membenci siap menanti. Bila rasa memiliki yang begitu dalam, di pojok lain ketidakinginan rasa mempunyai begitu dangkal. Proses pemahaman diri terhadap dosa, akan melahirkan pahala-pahala yang berbeda.

Ketika kebaikan disemai di ladang keburukan, maka benih yang dituai adalah buah-buah baik. Ranum. Menggoda untuk disantap hati. Perputaran waktu ini akan melahirkan berjuta-juta kebaikan. Tidak menjadi sama di saat tampang keburukan diserakkan di rahim bumi.

Buah keburukan juga akan menjuntai seperti rambai, tumbuh masam, tapi tetap memiliki nilai. Seperti nilai Hawa memakan buah khuldi di surga. Ada pembelajaran dan ada penyesalan yang memberikan jejak tentang pertaubatan. Penyesalan dan pertaubatan inilah yang mestinya menjadi arah untuk kita sebagai manusia mampu menggapai nilai-nilai.

Riau sebagai sebuah ladang tempat berpijak bagi banyak puak, telah banyak melahirkan makna-makna kebaikan. Bergunung-gunung limpahan pembelajaran yang telah meleleh dan menetes dari zaman berzaman. Tentang nasionalisme yang dieja Sultan Syarif Kasim yang berbilang I dan II. Tentang M Boya yang mati di perairan Indragiri demi harga diri. Tentang Hang Tuah meninggalkan kaumnya demi menegakkan marwah bangsa. Tentang Ismail Suko yang menantang gelombang dan arus kekuasaan Jawa.

Namun, menghapal Riau kekinian adalah membaca huruf-huruf tak beraturan. Antara Kampar menyalip Rokan Hulu, menelikung Rokan Hilir, menyepi di Pelalawan. Antara Indragiri, angkuh di hilir, senyap di hulu, bergemuruh di Kuantan. Bengkalis meredupkan Mandau, melepaskan Meranti, menyembunyikan Dumai.

Pekanbaru angkuh meniti takdir ketika ditasbihkan menjadi Ibu sebuah provinsi. Padahal huruf-huruf itu masih bercerita tentang langit bumi lancang yang berwarna kuning. Arus air dari sengkayan-sengkayan yang dulu menyatukan Riau, kini seperti mengalir tak tentu menuju muara yang mana. Semua bergegas menuju tempat yang semu.

Membaca Riau saat ini adalah menghitung angka-angka. Tentang Talang Mamak yang tak mampu lagi tamak. Tentang hutan yang tak lagi belantara. Tentang hewan yang tak lagi buas dan liar. Tentang sungai yang tak lagi kuasa menahan jernih. Tentang gelombang yang tak mampu tinggi. Bahkan tentang awan yang turun menjilat bumi mengawini asap-asap.

Menerjemahkan Riau adalah menunggu karma-karma. Ketika ditinggikan tak ingat tentang arti rendah. Ketika dijulang lupa makna akan pengorbanan. Ketika didahulukan tak menoleh ke belakang. Ketika dituakan tak mengakui proses terciptanya muda. Ketika menerima seperti tak pandai berterima. Ketika diterangkan, makna gelap dilupakan. Bahkan di saat bebas, lupa filosofi di penjara. Ya... Allah ampunilah kami.***



Edwir Sulaiman
Koordinator Liputan

Ada Apa Dengan Mu Riau?


30 Juni 2013 - 09.01 WIB > Dibaca 1245 kali | Komentar
 
Ada Apa dengan Mu Riau?
Kesalahan apa yang telah kami cipta, sehingga cerita-cerita hanya tentang keburukan.   Tentang kebohongan, tentang tipu muslihat, tentang asap, tentang banjir, tentang  kemunafikan fikiran dan hati. Ceritakanlah Riau, ada apa dengan mu?  Sudah separah inikah dosa-dosa yang telah kami buat. Sehingga tiada maaf yang dapat  memberikan pengampunan atas kealpaan kami. Tidakkah dulu kebaikkan selalu menghampiri kami.

Kebaikan itulah yang melahirkan Sultan Syarif Kasim, Ismail Suko, Hang Tuah, Tuanku  Tambusai, hingga M Boya di Indragiri sana. Mengapa saat ini kami hanya kuasa melahirkan  kepiluan? Mengapa harus kami yang memerankan skenario antagonis itu. Berjuta-juta hati melihat  kami. Berjuta-juta kemarahan juga harus kami tanggung. Dari sabang hingga ke Selat Malaka.  Menusuk Singapura.

Bahkan Dulsan dan Laniem, penghuni negeri kami, menjadi bisu di tengah  kepungan api yang berasap membakar kebun sawitnya. Mungkinkah, penyebabnya kami teramat bangga dengan kebaikan tak bertuan. Merasa benar  di antara kisi-kisi kesalahan. Mendemonstrasikan keburukan dalam bungkus yang molek  bermerek benar. Memajang egoisme di balik senyum sepi yang ditanam menjulang tinggi.

Atau, apakah kami teramat cuai? Tentang dosa yang dimodifikasi menyerupai pahala-pahala.  Kebenaran ada ketika kebaikan tak mampu lagi memberi nilai-nilai. Kami seperti menzalimi  diri sendiri. Kami memaki-maki dengan kata-kata suci, bahwa hidup tak pernah ada kematian.  Padahal, ruang tak berpintu, di Salemba, Cipinang, Suka Miskin, dan lainnya telah memberi   tanda-tanda, ada kewajiban yang mesti ditebus ketika dosa-dosa menampakkan wujudnya.

Air mata apa lagi yang harus kami siapkan. Untuk sekadar memberi pengharapan. Setiap  tahun-tahun pergantian, harus ada tumbal keburukan yang menindih kehidupan. Malu. Kami  harus menanggung itu. Riau, Pelalawan, Inhu, Kampar, Rokan Hulu, Siak, apakah tak cukup  mengingatkan penyesalan kami tentang dosa-dosa.

Riau adalah kita. Berbaris, bertautan membentuk bujur sangkar, segi tiga, kubus, balok  dan ruang-ruang. Kita yang telah mengisinya. Kita jua telah memberi warna. Meskipun pengalaman sejarah tidak banyak memberi pengajaran. Sehingga kita alpa akan bait-bait arti  hidup. Bahwa waktu-waktu harus mampu mendewasakan pikiran kita.

Ada Apa Dengan Mu Riau? Dalam ruang yang berbeda. Di sekat-sekat zaman. Di antara pertempuran keinginan dan  nafsu. Birahi dunia kami selalu mengalahkan logika-logika. Ini bukan sebuah pertanda alam.  Apalagi Tuhan yang telah bermaha-maha menghukum kita. Ini juga bukan azab, laknat, atau  pembalasan. Ini hanya sebuah tragedi, tentang mengapa kita tak bisa membaca tanda-tanda.

Tapi sudahlah. Perjalanan ini harus terus begerak. Tiada kuasa kita untuk menahannya.  Sebab, hari-hari adalah segerumulan kecil waktu-waktu yang akan kembali dan kembali  menggilas peradaban. Detik ini, keburukan mungkin mencumbui kami. Detik berikut juga kami  tak mengerti akan seperti apa. Ada apa dengan mu Riau?......


Edwir Sulaiman
Redaktur Pelaksana

Cinta Dan Keseimbangan


10 Februari 2013 - 08.18 WIB > Dibaca 492 kali | Komentar
 
Cinta dan Keseimbangan
Berabad-abad lampau, Nabi Adam menggadaikan harga diri dihadapan Tuhan hanya untuk mendapatkan pengakuan cinta dari Hawa. Buah khuldi terlarang yang ranum, telah menjerat Adam untuk diusir meninggalkan surga. Meninggalkan kenikmatan akhirat. Meninggalkan keabadian. Adam adalah awal perumpamaan kekuatan cinta untuk membuat bumi membiak, beranak pinak, bertunas-tunas hingga membentang berbenenua-benua. Andaikan Adam dan Hawa tidak mengenal cinta. Maka kita ada entah di mana.

Sebagai manusia kita adalah produk dari sebuah proses cinta. Kasih sayang orangtua yang menjulang telah melahirkan nyawa-nyawa. Hakikat dan idealnya sesuatu yang suci akan menciptakan kesucian-kesucian lainnya. Namun karena ketiadaan keseimbangan, maka cinta dan kesucian diri sering terjebak pada arus ketidakbaikan.

Hamka berpandangan, cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus, tumbuhlah oleh kerana embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur, di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji.

Mahatma Ghandi mengungkapkan cinta tidak pernah meminta, ia  senantiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta di situ ada kehidupan; manakala kebencian membawa kepada kemusnahan.

Cinta yang membabi buta akan melahirkan keburukan--kemalangan. Cinta memerlukan keseimbangan, untuk menaklukkan kebencian. Cinta bukan hak prerogatif hubungan antara dua manusia berlainan kelamin. Cinta teramat universal.  Bahkan Allah telah memberikan kita maklumat, tentang cinta dan keseimbangan. Ketika kita hanya mencintai dunia tanpa memberi ruang cinta yang sama ke sang pencipta, maka tiada surga yang akan menanti di akhir masa. Begitu sebaliknya, jika kita teramat cinta kepada sang khaliq dengan mendiamkan kehidupan dunia, neraka jua akan menjadi tempat kita.

Dalam konteks bernegara, ketika pemimpinnya memiliki cinta terhadap rakyatnya maka kemuliaan, kemakmuran, keharmonisan, kebaikan, keadilan akan selalu mengikuti setiap peradaban dunia. Sebaliknya, cinta pemimpin yang semu akan senantiasa untuk membunuh atau terbunuh. Sadam Husein di Irak, Muamar Khadafi di Libiya, Hitler di Jerman, Soekarno dan Soeharto di Indonesia.

Banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, kabut asap, konflik hewan dan manusia, adalah akibat ketiadaan keseimbangan cinta kita terhadap lingkungan. Hutan tak lagi memblukar, luluh tumbang rapi demi alasan ekonomi. Binatang tidak lagi merasa buas, tanah hutan yang teduh, telah menjadi panas. Madu-madu lebah tak lagi manis, sebab sialang tak kuasa tumbuh menjulang.

Cinta itu harus ada setiap masa dari detik ke menit, meniti jam, membentuk hari-hari. Menjelma menjadi bulan, bertahun-tahun. Cinta dan keseimbangan tidak hanya di tanggal 14 Februari. Apalagi mengharapkan imbalan-imbalan pengakuan. Menjadi pencinta sejati itu memang tak mudah seperti cintanya Nabi Muhammad terhadap umatnya. Namun kita bisa memulai untuk membangun cinta dan keseimbangan di rumah tangga, keluarga, tetangga, di kantor, di komunitas, atau di ruang dan waktu apapun. Karena cinta yang tulus akan melahirkan keseimbangan untuk menuntun kita menjadi berharga, baik di awal apalagi di akhir masa.

Dale Carnagie berujar, satu-satunya cara agar kita memperolehi kasih sayang, ialah jangan menuntut agar kita dicintai, tetapi mulailah memberi kasih sayang kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan.***


Edwir Sulaiman
Redaktur Pelaksana

Kemiskinan Menahun


16 Februari 2014 - 08.35 WIB > Dibaca 809 kali | Komentar
 
Kemiskinan Menahun
Kebodohan itu semacam energi kotor tertanam dalam diri namun puluhan ribuan raga tak kuasa untuk membersihkanya. Bodoh itu tidak menyiksa diri, namun menyiksa hidup yang tak lazim. Bodoh adalah sebuah kenyataan, yang bisa dimengerti, bisa dicicipi dengan alam pikiran kita. Noda-noda kebodohan dan kepintaran hanya memberi tanda antara bisa dan tak bisa.

Ketidakbisaan biasanya tercipta dari kemalasan untuk mengulang-ulang. Ketidakmampuan mengulang-ulang ini memberi ruang. Ruang inilah yang diisi oleh ketidaktahuan. Ruang inilah yang memberi batas. Batas inilah yang harus dimengerti. Ketidakmengertian juga sama dengan bodoh. Bodoh yang menahun akan tiada memberi pengharapan apa-apa. Selain tentang kita tak mengerti, lalu  sepi dan akhirnya mati.

Kebodohan ini bukan terlahir, tapi dicipta oleh banyak faksi. Soal ketiadaan kemauan hati, soal ketidakadaan naluri, soal sempitnya motivasi, tentang matinya semangat diri. Namun yang paling hakiki bodoh itu disebabkan oleh kemiskinan yang telah merubah pola dan gerak kerja otak kita.

Kemiskinan dalam zaman-zaman terdahulu hingga saat ini adalah tetap sama. Hanya melahirkan nestapa. Kemiskinan merenggut sel-sel otak optimis untuk tumbuh mekar. Kemiskinan telah membonsaikan naluri. Kemiskinan tak mampu mengangkut darah secara seksama untuk mencapai punca kejayaan otak dalam tempo sesingkat-singkatnya. Kemiskinan telah mengkerdilkan semangat untuk otot tumbuh sempurna. Kemiskinan telah menjerat kita untuk terus berada dalam ruang dan waktu yang tiada bermutu.

Kemiskinan telah memaksa kita untuk tidak bisa banyak mengambil pilihan-pilihan waktu. Siang dan malam adalah kepastian yang sama terus berulang-ulang. Warna kemiskinan hanya ada antara hitam dan putih. Kemiskinan memaksa kita untuk hanya mengerti hari ini makan apa dan besok apa yang mau dimakan.

Kemiskinan ini berjelaga, di ruang-ruang dusun, kampung, desa bahkan kota yang tak jauh dari peradaban kita. Dalam kesempatan yang lain Kemiskinan ini menyiksa dan membawa bencana. Jika ada manusia miskin menjadi tidak bodoh, itu adalah pemberontakkan jiwa-jiwa yang dipaksa untuk sadar. Bahwa kemiskinan ini tidak abadi. Namun revolusi jiwa ini hanya bisa dihitung dengan jari.

Data BPS memberikan arahan. Jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada di bawah Garis Kemiskinan) di Riau September 2013 sebesar 522, 53 ribu jiwa. Jika dibandingkan dengan penduduk miskin pada September 2012 yang berjumlah 481,31 ribu jiwa (8,05 persen), jumlah penduduk miskin di Riau mengalami kenaikan sebanyak 41,22 ribu jiwa. Selama periode September 2012-September 2013, penduduk miskin di daerah perdesaan diperkirakan bertambah 34,92 ribu jiwa, sementara di daerah perkotaan diperkirakan bertambah 6,3 ribu jiwa.

Sebagai sebuah provinsi, Riau yang mempunyai sumber daya baik alam sadar dan tak sadar di sekujur tanah, air, laut, dan langit, belum kuasa memberi kejayaan bagi penghuninya. Kecemerlangan masa lampau yang dieja oleh Sultan Syarif Kasim, Hang Tuah, Tuanku Tambusai, tak mampu kita baca dengan logika-logika sempurna. 522,53 ribu jiwa (8,42 persen) anak, saudara, tetangga, sekampung, sekota, sepermainan, masih bergulat di bawah langit hari-hari kemiskinan. Asap adalah produk nyata dari sebuah kebodohan efek dari kemiskinan kita.

Hutan tak belukar, hewan tak liar dan buas. Sungai enggan deras, mendangkal. Danau-danau tak berpenghuni, laut dari Bagan hingga ke muara Indragiri seperti taman bagi ikan teri, tiada lagi tenggiri apalagi ikan pari. Ini jua adalah produksi dari sebuah kebodohan dan kemiskinan kita yang tak kuasa memberdayakan potensi diri.

Ketika kita bodoh, maka kita mendekatkan diri ke langit kemiskinan. Disaat kita miskin maka kita mengantarkan diri untuk berada di bilik kebodohan. Formula untuk memenggal dan menenggelamkan kebodohan serta kemiskinan itu adalah pendidikan. Di sinilah peran pemimpin baru Riau untuk meramu formula itu menjadi obat mujarab. Orang-orang miskin tak bangga akan gedung-gedung megah. Acara-acara wah. Mereka hanya bangga melihat anak-anaknya sekolah. Lalu, anak-anak itu meninggalkan lubuk kemiskinan dan kebodohan orang tuanya.      


Edwir Sulaiman
Redaktur Pelaksana

Bebal


28 September 2014 - 08.14 WIB > Dibaca 564 kali | Komentar
 
Bebal
Edwir Sulaiman
Namanya Baito. Lahir dan tumbuh dalam keluarga sederhana di Kampung Besar Seberang Rengat Indragiri Hulu. Tidak kaya, tidak miskin, tidak tinggi, tidak rendah. Warna penutup dagingnya tidak putih, juga tidak hitam. Sekolah tidak tamat. SD dilalui 10 tahun. SMP kelas 2 setelah empat tahun, dia akhirnya menuntaskan karirnya sebagai pelajar.

Baito tidak bodoh. Tidak juga pintar. Namun yang membuat Baito begitu terkenal saat sekolah dulu adalah sikap bingal, (keras kepala), degil, dan bebal. Setiap guru menerangkan mata pelajaran dia selalu telat memahami. Bukan karena dia tak mampu menterjemahkan apa yang disampaikan, namun dia tidak peduli. Sikap tidak peduli inilah yang membuat dirinya selalu tinggal kelas. Sikap tak mau belajar, tak ingin memperbaiki diri, tak kuasa menolak masa depan inilah yang menjadikan Baito harus tertinggal dan menerima kenyataan tentang kemalangan hidup.

Sikap tidak mau mengambil hikmah, mengambil pembelajaran, dan bersikap bebal inilah sepertinya yang mewabah di Bumi Lancang Kuning. Bukan tidak mengerti, bukan tidak paham, bukan pula tidak mengetahui, namun hasrat keakuanlah yang membuat tragedi kebebalan telah mengharuskan kita menyantap malu-malu yang dipajang seantero negeri.

Hari ini kita kembali memahat kisah tentang kenestapaan. Kisah tentang kekalahan, cerita bertema duka yang dibuat, diukir, dibangun di tepi jurang di tanah luas milik kita sendiri. Kedukaan ini tidak datang bermasa-masa, tapi pelan-pelan. Bahkan aromanya belum hilang ditelan angin. Masih terasa hangat ketika kita harus tertegun memandang pilihan kita bersimpuh di kursi-kursi yang rapuh.

Entah dengan cara apa kita harus memahami kemalangan ini.Padahal Air mata sudah tumpah membanjiri Riau, berulang-ulang. Berjejer dari Inhu, Pelalawan, Siak, Rohul, Kampar, hingga menuju negeri bernama Riau. Namun itu tidak jua menyadarkan kita, betapa beningnya telah merusak keruh kepedihan hidup. Diantara keinginan untuk menjadi baik, tenggelam di tinggi hati. Kita seperti duka yang telah terbungkus kebaikkan.

Tiada lagi kebanggaan yang bisa membawa kita untuk mengukir sejarah. Kita hanya mampu menciptakan malu. Memproduksi asap, menggunduli hutan, membuat banjir, laman tempat bermain, kini semakin kotor oleh kita sendiri. Meskipun kita menyadari kenestapaan itu terjadi, tapi kita tak peduli. Kita tetap saja menari ketika yang lain memanen tragedi.

Riau adalah kita. Berbaris, bertautan membentuk bujur sangkar, segi tiga, kubus, balok dan ruang-ruang. Kita yang telah mengisinya. Kita jua telah memberi warna. Meskipun pengalaman sejarah tidak banyak memberi pengajaran. Sehingga kita alpa akan bait-bait arti hidup. Bahwa waktu-waktu harus mampu mendewasakan pikiran kita. Kenyataanya, kita tetap tak mampu menjadi seperti Soekarno, Hatta, Sultan Syarif Kasim II apalagi Sang Muhammad SAW, yang membuat hidup adalah ruang maha luas untuk menjadi semakin baik.

Kita masih saja mementaskan drama sunyi di panggung rumah sendiri. Kita berbalas pantun ketika yang lain memainkan strategi. Kita menjadi lupa bahwa pementasan ini hanya sebuah cerita. Endingnya tetap kita yang terkalahkan. Kita yang terbebalkan. Kita yang tertegun sinis disudut-sudut kampung yang tetap sunyi.

Dimanalah kemampuan kita untuk menterjemahkan kebebalan ini. Apakah kita terlanjur menjadi bodoh?. Kita teramat bangga dengan kebaikan tak bertuan.

Sedih. Air mata apa lagi yang harus kita siapkan. Untuk sekadar memberi pengharapan. Setiap tahun-tahun pergantian, harus ada tumbal keburukan yang menindih kihidupan. Kita seperti menzalimi diri sendiri. Kita memaki-maki dengan kata-kata suci, bahwa hidup tak pernah ada kematian. Padahal, ruang tak berpintu, di Salemba, Cipinang, Suka Miskin, Sialang Bungkuk dan lainnya telah memberi tanda-tanda, Ada kewajiban yang mesti ditebus ketika dosa-dosa menampakkan wujudnya. Kadang entahlah. Kita memang bebal.....***


Edwir Sulaiman
Redaktur Pelaksana

Jadilah Pemimpin (Bukan) Di Langit


15 September 2013 - 08.31 WIB > Dibaca 550 kali | Komentar
 
Jadilah Pemimpin (Bukan) di Langit
JIKA sesuatu dilandasi oleh niat yang tidak baik. Maka kemalangan akan terus menggelayut, mengikuti setiap perputaran waktu. Di antara siang dan malam, bulan dan tahun, bahkan abad ke abad nilai yang ditanamkan tetap tidak menghasilkan apa-apa. Tercela. Terhina.

Kekuasaan sebenarnya tidak abadi. Keabadian hanya milik pencipta. Karena keabadian bukan milik kita? Maka sudah sepantasnyalah hak itu jangan disia-siakan.

Ketika menjadi pemimpin rumah tangga. Bertanggungjawablah untuk menafkahi istri dan anak-anak dengan nafkah-nafkah yang baik. Disaat menjadi ketua RT/RW jadilah ketua yang merukuni bukan memecah. Ketua yang memberi bukan menerima apalagi meminta-minta. Bila diberikan kekuasaan untuk memimpin sebuah desa/kelurahan, idealnya adalah kepala desa/lurah yang bermarwah bukan bermewah-mewah. Kepala Desa yang mampu menjadi pelita ketika warga dalam kegelapan.

Begitu juga ketika tuhan memberikan kesempatan untuk memimpin sebuah kecamatan. Jadilah camat yang cakap, bukan perangkap. Disaat kita menjadi wali kota/bupati embanlah amanah untuk menjadi wako/bupati yang berempati, berorientasi, bukan mengantarkan peti mati untuk rakyat.

Ketika jutaan masyarakat memberikan kepercayaan untuk menjadi pemimpin disebuah provinsi, maka peganglah amanah itu dengan tafakur. Bukan menjadi pemimpin yang munafik. Mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram.

Berikanlah seluruh kemampuan untuk membawa perubahan ke arah yang lebih baik bukan membawa ke arah yang lebih buruk. Buatlah program-program pembangunan yang benar-benar terlihat terbilang, cemerlang, dan gemilang. Bukan program pembangunan pincang, gemerlap, mercusuar tapi di dalamnya kosong.

Rancang dan manfaatkan sumber pendapatan daerah untuk sesuatu yang benar-benar menjadi prioritas, dibutuhkan rakyat, berfaedah, tidak mubazir, dan minim kepentingan. Bukan pembangunan dengan orientasi mendapatkan sanjungan, penghargaan, dan gagah-gagahan, yang ujung-ujungnya keuntungan.

Sebuah keniscayaan jika sesuatu dimulai dengan kebaikan. Maka akhir dari itu akan lahir berjuta-juta kebaikan. Sebaliknya jika sesuatu itu dimulai dari niat yang tidak baik. Maka akhirnya akan tumbuh nilai-nilai yang berbentuk keburukan. Keburukan itu seperti virus atau kanker ganas yang terus menyebar dan akhirnya akan melumpuhkan kita. Sebab antara baik dan ketidakbaikan nilainya berbeda. Raja Ali Haji dikenang bukan karena dia mendapatkan banyak penghargaan. Tapi dia dikenal sebagai ulama, sejarawan, pujangga. Sultan Syarif Kasim dikenang bukan karena kekayaannya dan bangunan mewah istananya. Dia dikenang karena menyumbang harta kekayaannya untuk pemerintah Republik Indonesia.

Kita rindu akan kelahiran tokoh-tokoh di atas. Namun kenyataannya saat ini kita hanya mampu melahirkan para pahlawan bukan untuk daerah dan bangsa tapi pahlawan untuk kepentingannya. Sehingga tidak usah aneh, heran, terkejut, dan tertegun jika seorang RT/RW, kepala desa/lurah, camat, bupati/wali kota, gubernur dan bahkan presiden sekalipun di negeri junjungan ini diakhir-akhir masa jabatanya menuai bala.

Hari ini, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Riau akan melaksanakan rapat pleno penghitungan suara Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Gubernur Riau periode 2013-2018. Apapun keputusan, apakah Pilkada satu putaran ataupun berputar-putar, sejatinya agenda politik yang dibungkus dalam merek produk demokrasi ini, menginginkan lahirnya seorang pemimpin yang menjadi pengayom, tauladan, dan mampu membawa masyarakat Riau dalam kesejahteraan lahir bhatin. Pemimpin Riau yang membumi. Jangan jadikan langit sebagai singgasana. Karena suatu saat kita pasti akan jatuh.

Akhirnya mengutip Gurindam 12 milik Raja Ali Haji, ‘’Barang siapa khianat akan dirinya, apalagi kepada lainnya. Kepada dirinya ia aniaya, orang itu jangan engkau percaya. Hendaklah berjasa, kepada yang sebangsa. Hendaklah jadi kepala, buang perangai yang cela. Hendaklah memegang amanat, buanglah khianat.***


Edwir Sulaiman
Redaktur Pelaksana

Memahat Marwah Di Atas Langit


19 Mai 2013 - 07.48 WIB > Dibaca 344 kali | Komentar
 
Memahat Marwah di Atas Langit
Perawakannya kecil. Sepeda sankinya juga tak besar. Jilbabnya selalu bercorak biru muda. Suaranya, melengking. Tak sebanding dengan tubuhnya yang ringkih. Ibu Hasnah selalu kami memanggilnya. 27 tahun lalu di kelas dua SDN 011 Kampung Besar Seberang Rengat yang lapuk, dia mengatakan, pendidikan itu seperti mata. Pendidikan itu adalah cahaya.

Saat itu kami, apalagi saya tidak paham makna apa yang ada di balik mata dan cahaya. Karena memang dia tidak menerjemahkan secara lengkap. Dan kalaupun dijelaskannya saat itu, saya pastikan kami, terutama saya tidak mungkin akan mengerti maksudnya.
Setelah berjuta-juta menit mengikuti peradaban kehidupan, barulah saya memahami, bahwa pendidikan itu menuntun kita untuk tetap berada dalam jalan yang benar. Pendidikan menjadi penerang dalam kegelapan. Pendidikan itu seperti matahari, seperti bulan, seperti bintang. Pendidikan itu mengakat derajat, pendidikan itu mengakat marwah. Bersyukurlah bagi orang-orang yang telah terdidik.

Dengan pendidikan jugalah, Riau sebagai sebuah provinsi terbentuk. Digagas oleh H Wan Ghalib, H Abdul Hamid Yahya, T Kamarulzaman, Zaini Kunin, Ridwan Taher, H Abdullah Hasan dan HM Amin, serta orang-orang terdidik lainya, melalui Kongres Rakyat Riau I tahun 1956, terwujudlah mimpi menjadi Bumi Lancang Kuning sebuah provinsi otonom terlepas dari Provinsi Sumatera Tengah.

Begitu juga gubernur yang memimpin Riau. Pasca reformasi sudah tiga periode pemimpin Riau berasal dari orang Riau sendiri yang terdidik. Dari zaman H Saleh Djasit hingga HM Rusli Zainal. Bupati/wali kota juga sama, dipimpin oleh orang Riau asli yang terdidik. Mestinya orang-orang terdidik ini lebih berorientasi untuk memerioritaskan pembangunan dunia pendi dikan. Dengan harapan masyarakat Riau secara keseluruhan mendapatkan pendidikan yang layak. Sehingga marwah masyarakat Riau bisa terangkat.

Beberapa pekan lalu, saya berada di Desa Mentulik di Kabupaten Kampar. Dari Pekanbaru untuk mencapai desa ini memerlukan waktu sekitar satu setengah jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan roda empat. Jalan menuju desa yang terletak dipinggiran sungai Kampar ini adalah jalan tanah. Panas berdebu, hujan becek. Dalam benak saya saat itu, bagaimanalah anak-anak di desa ini jika ingin melanjutkan sekolah ketingkat yang lebih tinggi. Harus menempuh perjalanan panjang dan melelahkan.

Hampir di seluruh kabupaten/kota kondisi ini sangat gampang ditemui. Selain persoalan infrastruktur, juga masalah ketersediaan fasilitas penunjang pendidikan yang masih minim.  Jika melihat data Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Riau, penghujung tahun 2012, ada 11.043 ruang kelas yang tergolong rusak.Dari jumlah tersebut, 6.985 ruang kelas di antaranya tergolong rusak ringan. Sementara 4.058 ruang kelas lainnya tergolong rusak berat.

Ruang kelas rusak berat terbanyak ada di tingkat sekolah dasar (SD). Dimana, dari 21.137 ruang kelas di SD negeri se Riau, 2.334 ruang diantaranya tergolong rusak berat. Sementara di SD swasta jumlah yang rusak berat mencapai 164 ruang kelas. Begitu juga ruang kelas di tingkat SMP. Dimana, dari 4.802 SMP negeri, 265 ruang di antaranya dinyatakan tergolong rusak berat. Sementara, 724 ruang lainnya tergolong rusak ringan. Lalu, di SMP swasta, 150 ruang rusak berat dan 185 ruang tergolong rusak ringan. Hal yang sama juga terjadi untuk ruang kelas SMA.Ironis.

Dua hari yang lalu, dan hampir setiap hari saya melihat gedung-gedung yang dibangun oleh pemerintah di Pekanbaru. Menjulang. Dengan desain modern, berdiri kokoh. Ada berbentuk bundar dengan puluhan ribu tempat duduk, ada bujur sangkar dengan ornamen Selembayung. Ada  Corak dan warna mengusung konsep minimalis tapi dengan anggaran maksimalis. Gedung-gedung itu, saat ini membisu, diam dan kaku. Setelah riuh beberapa pekan, lalu sunyi untuk waktu yang jauh.

Saya tidak tahu keberadaan Ibu Hasnah saat ini. Apakah berumur panjang atau menepi di samping ilahi.

Entahlah Ibu Hasnah....maafkan kami tak sempurna mengartikan mata dan cahaya. Karena kami saat ini hanya mampu memahat marwah di atas langit, bukan di bumi tempat kami berpijak.***


Edwir Sulaiman
Redaktur Pelaksana

Pesona Maya

Ku tipu wajah dg aplikasi 360 Ku bohongi tuhan dg status ku Ku singkap aib di balik unggahan  Ku semai kesombongan, untuk memetik ...