Saturday, August 23, 2014

YULI (sudah cukup untuk takut)

Hari ini aku telah memahat kisah tentang kenestapaan. Menyusuri pelan-pelan, sisi-sisi duka yang terukir mengikuti dari hari ke hari sebelumnya. Tiada cela, aliran keinginan hati mengalir dibatasnya. Semua tanpak seperti apa yang dipuja. Setiap detik adalah pertobatan untuk selalu menyanjung mu. Keabadian yang tak nyata telah membiak menjadi kebenaran-kebenaran salah.

Aku tak menyalahkan kebenaran yang kita yakini. Kita adalah jiwa-jiwa yang terjajah oleh masa lalu. Tentang pengabdian, tentang loyalitas, tentang darah, tentang keinginan, tentang apa yang diraih. Namun kita juga tak pernah untuk memahami, bahwa zaman-zaman akan habis pada waktunya. Itu tak kuasa kita nafikan. Itu tak mampu kita cegah. Sejarah adalah waktu yang tak mampu kita lahirkan. Kemenangan dan kekalahan ini adalah bagian dari sejarah tentang dimana kita berada. Ketika pada saatnya kita kalah, maka kemenangan adalah sesuatu yang tabu. Jika kemenangan yang kita cumbui, maka kita lupa akan arti kekalahan

Ketakutan yang telah membius mu adalah propaganda dari rasa kehilangan sebuah kemenangan. Kehilangan memang akan membuat ceruk tersendiri di dasar hati. Kehilangan menghampakan apa yang telah diraih. Kehilangan membosai arti perjuangan. Kehilangan seperti quldy yang dimakan Hawa di surga yang entah dimana.

Kita pada hakikinya adalah mahluk-mahluk kehilangan. Karena keabadian bukanlah milik kita. Juga bukan punya mereka yang saat ini sedang berpesta atas kemenangannya. Kita pernah kehilangan hidup dirahim bunda. Kita kehilangan waktu-waktu balita. Ketika dewasa kita kehilangan disaat mulai mengenal cinta. Kehilangan terbesar ketika kita tak kuasa menolak takdir. Kekalahan ini adalah takdir. Kekalahan ini adalah nestapa yang semua jiwa akan mengalaminya.

Sudah cukup untuk takut. Sebab ketakutan tidak akan pernah cukup untuk diusaikan. Ketakutan itu adalah riak dari sebuah kehilangan. Dia akan bergerak perlahan. Mengombang-ambing membentuk arus, menyusur tepian, lalu pecah dan menjadi ombak untuk menjadikan kita terus bergerak menuju dari menang ke kalah dari kalah ke menang. Yuli.....


Wednesday, August 20, 2014

Sesat di Gelap yang Terang

Percayalah. Setiap detik peradaban ini tiada akan memberikan laluan kita untuk berhenti mencapai apa yang tak pernah kita percayai. Aku tidak banyak mengiba untuk kamu mengerti. Aku bahkan tidak ingin terlalu berharap apapun tentang pertemuan itu. 

Jika pada akhirnya kamu termaklumi dengan kenyataan yang ada. Itu bukan aku yang menjelaskan. Ini semua hanya permainan waktu-waktu. Waktulah yang menggerakkan keinginan kita yang sama. Waktu jua yang memaksa kita untuk tak beranjak dari peradaban ini. Ketika kita dipaksa untuk tersesat, maka kesesatan itu adalah perbuatan waktu-waktu. Tiada kuasa kita untuk menemui kesesatan itu. Kita juga tak akan mampu melawan sesuatu yang tak nyata. Kesesatan yang tercipta bukan sesuatu yang nyata. Ini hanya fatamorgana diantara ada dan ketiadaan kita.

Tuhan yang kita percaya. Tuhan yang telah mencoba melindungi atas keyakinan kita. Tuhan yang bermaha-maha telah membunuh logika-logika duniawi. Sang pencipta yang kita tak pahami. Sang pencipta yang hanya mampu menyalahkan sebuah kebenaran yang tak pasti. Tuhan kita sembah dalam diam dan mati. Ternyata juga tak mampu memahami kesesatan ini. Bukan bermaksud apalagi mengikrarkan untuk melawan keinginan alam, kita memang tak mengerti akan arti kesesatan.

Pernah kita mendiamkan kesesatan dan memetik nikmat yang tersangkut dalam birahi kita. Diantara gelap yang tak hitam, disela-sela tamaram yang meredup, nafas-nafas yang pasrah menuju pusara kenikmatan. Silih berganti nyawa-jiwa menjemput syahwat. Melepaskan berjuta-juta energi untuk mencapai singgasana yang tak kekal. Disis-sisi paha ranum dan mengkal. Pada waktunya kita terkulai tak mampu menyeka dosa.

Ruang dan waktu tiada insan yang tahu. Kemana arah tertuju digelap masa mencoba menghambat keinginan-keinginan untuk sesat. Kita percaya kepada tuhan yang entah siapa mencipta. Kita pada titik ini kembali dalam bentuk yang sama. Sama-sama mencoba memahi arti kesesatan. Surga dan neraka adalah jalan sesat yang tak pernah ada. Dosa dan pahala adalah kesesatan yang tak terterjemahkan dalam logika-logika. Kesesatan itu nyata. Senyata kita mengenal tuhan yang telah dipaksa untuk disembah oleh nabi-nabi yang juga sama sesat seperti kita.

Pesona Maya

Ku tipu wajah dg aplikasi 360 Ku bohongi tuhan dg status ku Ku singkap aib di balik unggahan  Ku semai kesombongan, untuk memetik ...