Thursday, August 22, 2013

Rusli Zainal

Pekanbaru, 22 Agustus 2013
masih sama....


    Keabadian hati untuk mengungkap kegelisahan tentang dosa-dosa yang bergelayut disekitar kita adalah sebuah keniscayaan. Kebaikan yang menetes-netes dipunca keburukan tak pernah mampu membasahi keringnya hati. Kita seperti dikutuk untuk selalu berbuat keji. Entah dimanalah keinginan menjadi berharga pergi dan menjauh. Setiap detik pertarungan hati hanya melahirkan haru. Haru yang tak membekas apa-apa. Haru yang hanya bisa menjelaskan tentang dosa, bahwa perjalanan ini tidak akan memberikan makna lain. Selain dosa dan kembali ke dosa.
   Kita telah jemu. Kita dipaksa menjilat keinginan sendiri. Kita jatuh dalam ruang yang sama namun berbeda dalam tujuan. Kita seperti bintang tak terang, tak menjadi utama, seperti bulan apalagi matahari. Kita hanya mengerti tentang dosa-dosa. Sedangkan pahala, hanya milik mereka yang tak mengerti tentang dosa-dosa.
   Kita pernah ingin menjadi Rusli Zainal, kita pernah mau menjadi Nazarudin, kita juga berharap menjadi Saleh Djasit. Tapi kita tak pernah ingin menjadi diri kita sendiri. Kita larut dalam pesona pahala, padahal itu adalah dosa yang diberi warna-warni. Lihatlah Ahcmad. Setiap langkah-langkah pijakanyanya adalah surga. Padahal dibalik itu, neraka yang ia bangun dan rangkai. Meskipun surga kita tak tahu, apalagi neraka yang akan menjahanamkan kita. Sebelum kebencian ini menjadi nyata, nikmatilah keindahaan itu dengan dosa. Karena antara dosa dan pahala hanya kita yang menilainya.

Sunday, August 4, 2013

Pemimpin Langit



Masih seperti tahun-tahun yang lalu, aku seperti dikutuk untuk terus bermimpi. Menjadikan bumi wadah berdiri. Sementara langit kepala ku tegak. Jangan salahkan siapa-siapa. Jika dalam perjalanan takdir ini aku menjadi seperti itu. Rakyat bumi yang menjadikan aku terawang-awang dalam biru yang terang. Namun jika ditelaah lebih dalam. Aku telah mampu membawa perubahan dari alam bumi ke alam langit untuk negeri ini.

Lihatlah taman peradaban bumi seperti apa yang pernah aku janjikan kini tampak gemerlap. Gedung berdiri congkak hampir menyentuh pundak-ku. Bahkan kaca-kaca menjulang itu memantulkan sinar yang membuat aku terang dalam melangkah. Jujur aku takut kegelapan nyata. Kegelapan itu hitam. Meskipun aku menyadari ada di dalam diriku yang lebih hitam.

Jalan-jalan berliku-berkelok-bergelombang adalah jejak untuk selalu dikenang. Ribuan roda-roda berpacu, bercumbu untuk lebih intim dengan aspal-aspal separoh jadi. Bagiku, ini adalah pembuktian bahwa aku juga memahami sesuatu yang tak tuan paham.


Hutan telah aku sulap menjadi sawit-sawit yang genit siap selalu untuk dipetik. Hutan juga telah aku cumbui dengan lenggak-lenggok akasia, karet, dan beragam rupa pucuk-pucuk hijau daun yang indah terhampar membentang bumi.
Sementara ramin, jati, rengas, kulim, rasamala, dan tembusu biarlah mengalah. Apalagi rotan tak perlu kita segan menghilangkannya.

Setiap awal dan penghujung abad, aku juga telah tanamkan budaya gemerlap. Liatlah tepuk sorai, ketawa bangga beberapa penduduk bumi Lancang ini menyambut beragam parade, seni, budaya, olahraga bahkan olahtubuh. Semua ini adalah pembuktian, bahwa aku adalah pemimpin yang kompleks, visioner membawa cemerlang, terbilang, dan gemilang.

Sirip-sirip ikan yang merenangi lautan, sungai, danau, bahkan parit-parit hutan yang bersawit kini lebih agresif. Tidak ada lagi pembeda antara air tawar, air asin. Semua sama, karena banjir yang aku inginkan untuk menyatukan mereka. Bagiku, satu lebih baik dari dua.

Patung dan tugu-tugu kekuasaan ku terus berdiri di bawah pondasi-pondasi syahwat kepemimpinan ku.
lautan, danau, sungai terus tumbuh, mengalir, beriak, bergelombang, tidak ada yang salah tuan. Itu sama persis ketika aku masih menjadi pemimpin di langit kampung ku.

Aku adalah pemimpin yang memiliki jiwa untuk terus memimpin. Meskipun pada akhirnya aku harus diturunkan ke bumi. Langit tetap menjadi singgasana. Jangankan tuan-tuan, Tuhan saja sudah puluhan muslihat aku tak jujuri.

Aku Punya Teman


28 Januari 2011 pukul 0:39
Aku punya teman:
Hidungnya panjang..
Matanya bulat sebundar pandanganya tentang dunia..
Dia mati tahun lalu..

Aku punya teman;
Mobilnya mewah..
Rumahnya gagah..luas bak istana
Dia menangis... bulan depan

Aku punya teman;
Jabatannya Eselon II
Proyeknya berpuluh-puluh
Dia stroke kemarin...

Aku punya teman;
Bodinya bak biola
Tinggi dg kulit mulus tak terbakar mentari
Dia telat...sudah empat bulan

Aku punya teman;
Kedua Orang tuanya pemimpin negeri
Mobilnya ceper-ceper digarase
Dia malu..lalu bunuh diri

Aku punya teman;
Tinggal dibawah jembatan
Atap rumbia, beralaskan tanah
Dia gila...memakan lantai bapaknya

Aku punya teman;
Miliki taman Sawit dan karet
Mulai berbuah pasir..hingga buah zakar
Dia sekarat...minggu lalu


Teman-teman-ku berkata:
Kami punya teman;
Orangnya baek, sopan, dan taat beribah
Tidak miskin..tidak kaya..tidak gila..tidak stroke..
tidak sekarat..tidak menghamili..tidak sedih...
Dia bernama Edwir Sulaiman SE MP@yahoo.com

Pesona Maya

Ku tipu wajah dg aplikasi 360 Ku bohongi tuhan dg status ku Ku singkap aib di balik unggahan  Ku semai kesombongan, untuk memetik ...