Pada saatnya kita harus tertuntun untuk menuju satu titik. Ketika pilihan-pilihan tidak memberikan makna, maka ketika itu harus ada yang dikorbankan. Pengorbanan ini bukan tak menyakitkan. Namun kesakitan itu adalah wajib untuk dirasai. Sama halnya ketika kedukaan menghampiri hati. Memang dari kelahirnya, sebuah pilihan adalah kata lain dari pilu.
Jalan yang ditempuh memang bukan tak panjang. Ribuan waktu dalam ruang yang sama telah kita eja. Dari huruf dan angka-angka itu dibentuk menjadi kalimat-kalimat. Makna yang dilahirkanya juga memberikan kedewasaan dalam mencintai dan membenci tentang keabadian. Paragraf yang menyusuri sisi-sisi gelap dan terang juga telah membentuk lembaran-lembaran baru. Itupun kita sadari, bahwa sejarah tentang perjalanan ini memang melelahkan. Seperti lelah ketika kita memberi nama perjuangan ini.
Aku masih mengingat jelas tentang simbol-simbol yang tak terucap soal perjuangan. Bagaimana kita mencoba untuk memutar waktu-waktu. Mengeringkan laut, merendahkan bukit-gunung. Memutihkan makna hitam, membirukan langit, menghapus hujan dan meredupkan matahari. Menghidupkan kematian dan mematikan kesakitan yang merobek hati. Menerangkan malam, memanaskan pagi. Memeriahkan sepi, mengoyak sunyi.
Aku juga telah merangkai bulan-bulan. Dari Januari yang perih, Februari yang ngeri, hingga menyempit ke Desember yang getir. Tiada ruang kita untuk tidak berduka, karena duka itu telah membangunkan ketidakmampuan kita membaca alam. Bahwa perjuangan ini memang harus tidak memberikan makna apa-apa. Selain toleransi hidup yang harus kita pupuk, soal kegagalan dan kemunduran.
Wednesday, July 24, 2013
Subscribe to:
Comments (Atom)
Pesona Maya
Ku tipu wajah dg aplikasi 360 Ku bohongi tuhan dg status ku Ku singkap aib di balik unggahan Ku semai kesombongan, untuk memetik ...
-
Kematian adalah batas terakhir dari kehidupan di dunia. Kematian adalah pasti. Kematian adalah milik pribadi-pribadi bernyawa dan berjiwa....
-
Percayalah. Setiap detik peradaban ini tiada akan memberikan laluan kita untuk berhenti mencapai apa yang tak pernah kita percayai. Aku tida...
-
Air mata ini tidak menyadarkan, betapa beningnya telah merusak keruh kepedihan hidup. Diantara keinginan untuk menjadi baik, tenggelam ...