Friday, June 28, 2013
tak ada keabadian
Air mata ini tak mengalir. Tak ada basah yang menjejaki rupa. Tulang-tulang tua itu merapuh melahirkan pedih. Aku lihat dari kulitnya yang mengendur. Nadi tak lagi menderas menghanyutkan darahnya. Tuhan, jika kematian lebih baik untuk tidak aku melihat penderitaannya, maka cabutlah nyawanya. Jiwaku berkecamuk dalam sekam yang tak padam. Didepan mataku, diantara satu dua nafasnya, akhirnya tuhan menjemput. Tiga tahun sudah dia yang pernah aku sebut emak, pergi untuk menyusul cinta yang ada di almarhum Abah. Air dimataku juga tak tumpah. Tapi membanjiri jiwa.
Satu tahun sebelumnya, hati ku cemas. Gamang menanti meskipun pasti. Gelisah menahan datangnya sebuah cinta. Ku pegang erat tanganya. Ku usap setiap kesakitanya. Bahkan aku usir perih yang berawal dari nikmat. Setelah komat mendarat ketelinga kiri mungilnya. Berakhir jua penantian sembilan bulan dalam rindu redam. Senyum manis istriku membius sakit yang baru saja menghampirinya. Air mataku tak juga menderas. Meskipun tangisnya menyibak timbunan, aku telah menjadi Ayah.
Antara kematian dan kelahiran adalah siklus hidup yang tak memiliki kepastian waktu. Namun pasti akan kita hadapi. Setiap kematian akan melahirkan jiwa-jiwa lainnya. Tidak ada keabadian yang menyertai kita sebagai manusia. Dari bentuk pertanggungan dari perjanjian hidup, sudah sewajarnya kita harus memahami bahwa kita adalah mahluk-mahluk yang sama. Sama dalam kesempatan kematian dan hidup.
Kealpaan kita selama ini untuk memahami ketidakabadian hidup dihasut oleh sikap egoisme keduniaan. Padahal dalam perjanjian kita dan tuhan sebelum dilahirkan, sudah tertera dalam gumpalan darah yang membentuk jiwa. Bahwa setiap perbuatan akan ada imbalan yang disebut pahala dan dosa. Ini akan ada pertanggungjawabkan dalam ruang iman dan keyakinan kita.
Seharusnya dengan adanya dua alam kelahiran dan kematian membuat kita menjadi bijak dalam mengarungi kehidupan. Sebagai anak kita sering terjebak untuk mendurhakai takdir. Pendurhakaan ini tidak berdiri sendiri. Juga bukan tidak kita sadari. Tapi terjadi dari proses ketidakmatangan kita sebagai orang yang diberikan kesempatan untuk tua dalam menterjemahkan, mengapa kita menjadi anak.
cinta dan keseimbangan hati
Cinta dan Keseimbangan
Berabad-abad lampau, Nabi Adam menggadaikan harga diri dihadapan tuhan hanya untuk mendapatkan pengakuan cinta dari sang Hawa. Buah Qoldy terlarang yang ranum, telah menjerat Adam untuk diusir meninggalkan surga. Meninggalkan kenikmatan akhirat. Meninggalkan keabadian. Adam adalah awal perumpamaan kekuatan cinta untuk membuat bumi membiak, beranak pinak, bertunas-tunas hingga membentang berbenenua-benua. Andaikan Adam dan Hawa tidak mengenal cinta. Maka kita ada entah dimana.
Sebagai manusia Kita adalah produk dari sebuah proses cinta. Kasih sayang orang tua yang menjulang telah melahirkan nyawa-nyawa. Hakekat dan idealnya sesuatu yang suci akan menciptakan kesucian-kesucian lainnya. Namun karena ketiadaan keseimbangan, maka cinta dan kesucian diri sering terjebak pada arus ketidakbaikkan.
Hamka berpandangan, cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit,bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus,tumbuhlah oleh kerana embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur,di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji.
Mahatma Ghandi mengungkapkan Cinta tidak pernah meminta, ia senantiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta di situ ada kehidupan; manakala kebencian membawa kepada kemusnahan.
Cinta yang membabi buta akan melahirkan keburukkan--kemalangan. Cinta memerlukan keseimbangan, untuk menaklukkan kebencian. Cinta bukan hak prerogatif hubungan antara dua manusia berlainan kelamin. Cinta teramat universal.
Bahkan Allah telah memberikan kita maklumat, tentang cinta dan keseimbangan. Ketika kita hanya mencintai dunia tanpa memberi ruang cinta yang sama ke sang pencipta, maka tiada surga yang akan menanti di akhir masa. Begitu sebaliknya, jika kita teramat cinta kepada sang khaliq dengan mendiamkan kehidupan dunia, neraka jua akan menjadi tempat kita.
Dalam konteks bernegara, ketika pemimpinnya memiliki cinta terhadap rakyatnya maka kemuliaan, kemakmuran, keharmonisan, kebaikan, keadilan akan selalu mengikuti setiap peradaban dunia. Sebaliknya, cinta pemimpin yang semu akan senantiasa untuk membunuh atau terbunuh. Sadam Husein di Irak, Muamar Khadafi di Libiya, Hitler di Jerman, Soekarno dan Soeharto di Indonesia.
Banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, kabut asap, konflik hewan dan manusia, adalah akibat ketiadaan keseimbangan cinta kita terhadap lingkungan. Hutan tak lagi memblukar, luluh tumbang rapi demi alasan ekonomi. Binatang tidak lagi merasa buas, tanah hutan yang teduh, telah menjadi panas. Madu-madu lebah tak lagi manis, sebab Sialang tak kuasa tumbuh menjulang.
Cinta itu harus ada setiap masa dari detik ke menit, meniti jam, membentuk hari-hari. Menjelma menjadi bulan, bertahun-tahun. Cinta dan keseimbangan tidak hanya di tanggal 14 Februari. Apalagi mengharapkan imbalan-imbalan pengakuan. Menjadi pencinta sejati itu memang tak mudah seperti cintanya Nabi Muhhammad terhadap umatnya. Namun kita bisa memulai untuk membangun cinta dan keseimbangan di rumah tangga, keluarga, tetangga, di kantor, di komunitas, atau di ruang dan waktu apapun. Karena cinta yang tulus akan melahirkan keseimbangan untuk menuntun kita menjadi berharga, baik di awal apalagi di akhir masa.
Dale Carnagie berujar, satu-satunya cara agar kita memperolehi kasih sayang, ialah jangan menuntut agar kita dicintai, tetapi mulailah memberi kasih sayang kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan.
Berabad-abad lampau, Nabi Adam menggadaikan harga diri dihadapan tuhan hanya untuk mendapatkan pengakuan cinta dari sang Hawa. Buah Qoldy terlarang yang ranum, telah menjerat Adam untuk diusir meninggalkan surga. Meninggalkan kenikmatan akhirat. Meninggalkan keabadian. Adam adalah awal perumpamaan kekuatan cinta untuk membuat bumi membiak, beranak pinak, bertunas-tunas hingga membentang berbenenua-benua. Andaikan Adam dan Hawa tidak mengenal cinta. Maka kita ada entah dimana.
Sebagai manusia Kita adalah produk dari sebuah proses cinta. Kasih sayang orang tua yang menjulang telah melahirkan nyawa-nyawa. Hakekat dan idealnya sesuatu yang suci akan menciptakan kesucian-kesucian lainnya. Namun karena ketiadaan keseimbangan, maka cinta dan kesucian diri sering terjebak pada arus ketidakbaikkan.
Hamka berpandangan, cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit,bersih dan suci. Cuma tanahnyalah yang berlain-lainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus,tumbuhlah oleh kerana embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipu, langkah serong dan lain-lain perkara yang tercela. Tetapi jika ia jatuh kepada tanah yang subur,di sana akan tumbuh kesuciaan hati, keikhlasan, setia budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji.
Mahatma Ghandi mengungkapkan Cinta tidak pernah meminta, ia senantiasa memberi, cinta membawa penderitaan, tetapi tidak pernah berdendam, tak pernah membalas dendam. Di mana ada cinta di situ ada kehidupan; manakala kebencian membawa kepada kemusnahan.
Cinta yang membabi buta akan melahirkan keburukkan--kemalangan. Cinta memerlukan keseimbangan, untuk menaklukkan kebencian. Cinta bukan hak prerogatif hubungan antara dua manusia berlainan kelamin. Cinta teramat universal.
Bahkan Allah telah memberikan kita maklumat, tentang cinta dan keseimbangan. Ketika kita hanya mencintai dunia tanpa memberi ruang cinta yang sama ke sang pencipta, maka tiada surga yang akan menanti di akhir masa. Begitu sebaliknya, jika kita teramat cinta kepada sang khaliq dengan mendiamkan kehidupan dunia, neraka jua akan menjadi tempat kita.
Dalam konteks bernegara, ketika pemimpinnya memiliki cinta terhadap rakyatnya maka kemuliaan, kemakmuran, keharmonisan, kebaikan, keadilan akan selalu mengikuti setiap peradaban dunia. Sebaliknya, cinta pemimpin yang semu akan senantiasa untuk membunuh atau terbunuh. Sadam Husein di Irak, Muamar Khadafi di Libiya, Hitler di Jerman, Soekarno dan Soeharto di Indonesia.
Banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, kabut asap, konflik hewan dan manusia, adalah akibat ketiadaan keseimbangan cinta kita terhadap lingkungan. Hutan tak lagi memblukar, luluh tumbang rapi demi alasan ekonomi. Binatang tidak lagi merasa buas, tanah hutan yang teduh, telah menjadi panas. Madu-madu lebah tak lagi manis, sebab Sialang tak kuasa tumbuh menjulang.
Cinta itu harus ada setiap masa dari detik ke menit, meniti jam, membentuk hari-hari. Menjelma menjadi bulan, bertahun-tahun. Cinta dan keseimbangan tidak hanya di tanggal 14 Februari. Apalagi mengharapkan imbalan-imbalan pengakuan. Menjadi pencinta sejati itu memang tak mudah seperti cintanya Nabi Muhhammad terhadap umatnya. Namun kita bisa memulai untuk membangun cinta dan keseimbangan di rumah tangga, keluarga, tetangga, di kantor, di komunitas, atau di ruang dan waktu apapun. Karena cinta yang tulus akan melahirkan keseimbangan untuk menuntun kita menjadi berharga, baik di awal apalagi di akhir masa.
Dale Carnagie berujar, satu-satunya cara agar kita memperolehi kasih sayang, ialah jangan menuntut agar kita dicintai, tetapi mulailah memberi kasih sayang kepada orang lain tanpa mengharapkan balasan.
tangan langit
Gemuruh Petar Petir Berputar-putar
Asap mengepul menghamili ledakan...duaaarrrr
Burung Langit Menukik Lantai Bumi
Disaat Aku masih bermimpi Basah
Gemuruh Petar Petir Modar-modar
Satu nyawa Melayang hidup dilangit Atap
Aku Terbuai Eksklusifitas Burung-burung
Satu Klik...ratusan Klik menjadi Gambar
Gemuruh Petar Petir Berdarah-darah
Kaki-kaki tak berhati-tak henti-henti
Menendang, memijak, seperti burung tak jinak
Dihalaman Bumi, aku Terkecik Tangan Langit
Thursday, June 20, 2013
7 Hari 7 Ragu
Tujuh hari sudah aku mengenal kehidupan ini. Tujuh hari yang menenangkan. Seperti tiada sangka, tiada duga, tiada duka, dosa, dan pahala. Aku menjadi seperti lebih berarti. Antara mati dan hidup adalah persoalan waktu-waktu. Dibalik benda keras ini akan menjadi lembut. Di ruang pengab ini aku seperti lepas. Membumikan diri, mengeja-eja tentang misteri. Inilah hidup yang tak pernah aku pahami ketika diri dan jiwa masih bersatu dengan langit dan bumi.
Memang, terkadang sepi menyelimuti. Bahkan menusuk-nusuk jiwa hingga ke tulang hati. Tapi ini aku pahami sebagai sebuah rindu. Bagiku kerinduan ini menjadi rasional ketika orang-orang dibalik tembok sana ingin menyentuh telapak dan jari ku. Meskipun diantara mereka ada tulus dan sangat banyak hanya sekedar mengiba-ibakan diri.
Bahkan aku bisa merasakan, ketika air mata jatuh menetes dipundakku, saat pelukan rindu menggugu, terlihat air sedih itu berwarna-warni. Hanya secuil air mata yang aku rasa dan lihat berwarna putih, bening, dingin, dan menyejukkan. Sudahlah, sekali lagi aku coba pahami ini adalah permainan duniawi. Sama persis ketika aku memerankannya tujuh hari sebelum ini.
Ayat-ayat jugalah yang menjadikan aku seperti ini. Tujuh hari yang sakti telah membuat aku bisa menghitung hari-hari. Senin adalah penyesalan tentang kepongahan. Selasa adalah kebohongan yang terbungkus mirip kebenaran. Rabu seperti mati yang direnovasi. Kamis mengiris hati. Jumat pertobatan sunyi. Sabtu jiwaku menggugu-gugu. Hanya Minggu yang menjadikan aku ragu. Entahlah.....jutaan waktu sepertinya telah berjejer untuk aku lalui. Di balik ruang-ruang yang sama dengan hari-hari yang serupa.
Memang, terkadang sepi menyelimuti. Bahkan menusuk-nusuk jiwa hingga ke tulang hati. Tapi ini aku pahami sebagai sebuah rindu. Bagiku kerinduan ini menjadi rasional ketika orang-orang dibalik tembok sana ingin menyentuh telapak dan jari ku. Meskipun diantara mereka ada tulus dan sangat banyak hanya sekedar mengiba-ibakan diri.
Bahkan aku bisa merasakan, ketika air mata jatuh menetes dipundakku, saat pelukan rindu menggugu, terlihat air sedih itu berwarna-warni. Hanya secuil air mata yang aku rasa dan lihat berwarna putih, bening, dingin, dan menyejukkan. Sudahlah, sekali lagi aku coba pahami ini adalah permainan duniawi. Sama persis ketika aku memerankannya tujuh hari sebelum ini.
Ayat-ayat jugalah yang menjadikan aku seperti ini. Tujuh hari yang sakti telah membuat aku bisa menghitung hari-hari. Senin adalah penyesalan tentang kepongahan. Selasa adalah kebohongan yang terbungkus mirip kebenaran. Rabu seperti mati yang direnovasi. Kamis mengiris hati. Jumat pertobatan sunyi. Sabtu jiwaku menggugu-gugu. Hanya Minggu yang menjadikan aku ragu. Entahlah.....jutaan waktu sepertinya telah berjejer untuk aku lalui. Di balik ruang-ruang yang sama dengan hari-hari yang serupa.
Friday, June 7, 2013
Mendekorasi Dosa Menjadi Pahala
Memang tak mudah. Apalagi ini menyinggung marwah. Tapi sudahlah. Perjalanan ini harus terus begerak. Tiada kuasa kita untuk menahanya. Sebab, hari-hari adalah segerumulan kecil waktu-waktu yang akan kembali dan kembali menggilas peradaban. Detik ini, kebaikan mungkin mencumbui kita. Detik berikut juga kita tak mengerti akan seperti apa.
Riau adalah kita. Berbaris, bertautan membentuk bujur sangkar, segi tiga, kubus, balok dan ruang-ruang. Kita yang telah mengisinya. Kita jua telah memberi warna. Meskipun pengalaman sejarah tidak banyak memberi pengajaran. Sehingga kita alpa akan bait-bait arti hidup. Bahwa waktu-waktu harus mampu mendewasakan pikiran kita. Kenyataanya, kita tetap tak menjadi seperti Soekarno, Hatta, apalagi Sang Muhammad SAW, yang menjadikan hidup adalah ruang untuk menjadi semakin baik.
Kita teramat bangga dengan kebaikan tak bertuan. Merasa benar diantara kisi-kisi kesalahan. Mendemonstrasikan keburukan dalam bungkus yang molek bermerek benar. Memajang egoisme di balik senyum sepi yang ditanam menjulang tinggi.
Mendekorasi dosa menyerupai pahala-pahala. Kebenaran ada ketika kebaikan tak mampu lagi memberi nilai-nilai. Kita seperti menzalimi diri sendiri. Kita memaki-maki dengan kata-kata suci, bahwa hidup tak pernah ada kematian. Padahal, ruang tak berpintu, di Salemba, Cipinang, Suka Miskin, dan lainnya telah memberi tanda-tanda, Ada kewajiban yang mesti ditebus ketika dosa-dosa menampakkan wujudnya.
Sedih. Air mata apa lagi yang harus kita siapkan. Untuk sekadar memberi pengharapan. Setiap tahun-tahun pergantian, harus ada tumbal keburukan yang menindih kihidupan. Malu. Kita harus menanggung itu. Riau, Pelalawan, Inhu, Kampar, Rokan Hulu, Siak, tak cukupkah tanda-tanda mengingatkan kita tentang dosa-dosa.
Riau adalah kita. Berbaris, bertautan membentuk bujur sangkar, segi tiga, kubus, balok dan ruang-ruang. Kita yang telah mengisinya. Kita jua telah memberi warna. Meskipun pengalaman sejarah tidak banyak memberi pengajaran. Sehingga kita alpa akan bait-bait arti hidup. Bahwa waktu-waktu harus mampu mendewasakan pikiran kita. Kenyataanya, kita tetap tak menjadi seperti Soekarno, Hatta, apalagi Sang Muhammad SAW, yang menjadikan hidup adalah ruang untuk menjadi semakin baik.
Kita teramat bangga dengan kebaikan tak bertuan. Merasa benar diantara kisi-kisi kesalahan. Mendemonstrasikan keburukan dalam bungkus yang molek bermerek benar. Memajang egoisme di balik senyum sepi yang ditanam menjulang tinggi.
Mendekorasi dosa menyerupai pahala-pahala. Kebenaran ada ketika kebaikan tak mampu lagi memberi nilai-nilai. Kita seperti menzalimi diri sendiri. Kita memaki-maki dengan kata-kata suci, bahwa hidup tak pernah ada kematian. Padahal, ruang tak berpintu, di Salemba, Cipinang, Suka Miskin, dan lainnya telah memberi tanda-tanda, Ada kewajiban yang mesti ditebus ketika dosa-dosa menampakkan wujudnya.
Sedih. Air mata apa lagi yang harus kita siapkan. Untuk sekadar memberi pengharapan. Setiap tahun-tahun pergantian, harus ada tumbal keburukan yang menindih kihidupan. Malu. Kita harus menanggung itu. Riau, Pelalawan, Inhu, Kampar, Rokan Hulu, Siak, tak cukupkah tanda-tanda mengingatkan kita tentang dosa-dosa.
Monday, June 3, 2013
Memahat Marwah di Atas Langit
Perawakannya kecil. Sepeda sankinya juga tak besar. Jilbabnya selalu bercorak biru muda. Suaranya, melingking. Tak sebanding dengan tubuhnya yang ringkih. Ibu Hasnah selalu kami memanggilnya. 27 tahun lalu di kelas dua SDN 011 Kampung Besar Seberang Rengat yang lapuk, dia mengatakan, pendidikan itu seperti mata. Pendidikan itu adalah cahaya.
Saat itu kami, apalagi saya tidak paham makna apa yang ada dibalik mata dan cahaya. Karena memang dia tidak menterjemahkan secara lengkap. Dan kalaupun dijelaskanya saat itu, saya pastikan kami, terutama saya tidak mungkin akan mengerti maksudnya.
Setelah berjuta-juta menit mengikuti peradaban kehidupan, barulah saya memahami, bahwa pendidikan itu menuntun kita untuk tetap berada dalam jalan yang benar. Pendidikan menjadi penerang dalam kegelapan. Pendidikan itu seperti matahari, seperti bulan, seperti bintang. Pendidikan itu mengakat derajat, pendidikan itu mengakat marwah. Bersyukurlah bagi orang-orang yang telah terdidik.
Dengan pendidikan jugalah, Riau sebagai sebuah provinsi terbentuk. Digagas oleh H Wan Ghalib, H Abdul Hamid Yahya, T Kamarulzaman, Zaini Kunin, Ridwan Taher, H Abdullah Hasan dan HM Amin, serta orang-orang terdidik lainya, melalui Kongres Rakyat Riau I tahun 1956, terwujudlah mimpi menjadi Bumi Lancang Kuning sebuah provinsi otonom terlepas dari Provinsi Sumatera Tengah.
Begitu juga gubernur yang memimpin Riau. Pasca reformasi sudah tiga periode pemimpin Riau berasal dari orang Riau sendiri yang terdidik. Dari zaman H Saleh Djasit hingga HM Rusli Zainal. Bupati/wali kota juga sama, dipimpin oleh orang Riau asli yang terdidik. Mestinya orang-orang terdidik ini lebih berorientasi untuk memprioritaskan pembangunan dunia pendidikan. Dengan harapan masyarakat Riau secara keseluruhan mendapatkan pendidikan yang layak. Sehingga marwah masyarakat Riau bisa terangkat.
Beberapa pekan lalu, saya berada di Desa Mentulik di Kabupaten Kampar. Dari Pekanbaru untuk mencapai desa ini memerlukan waktu sekitar satu setengah jam perjalan dengan menggunakan kendaraan roda empat. Jalan menuju desa yang terletak dipinggiran sungai Kampar ini adalah jalan tanah. Panas berdebu, hujan becek. Dalam benak saya saat itu, bagaimanalah anak-anak di desa ini jika ingin melanjutkan sekolah ketingkat yang lebih tinggi. Harus menempuh perjalanan panjang dan melelahkan.
Hampir diseluruh kabupaten/kota kondisi ini sangat gampang ditemui. Selain persoalan infrastruktur, juga masalah ketersediaan fasilitas penunjang pendidikan yang masih minim.
Jika melihat data Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Riau, penghujung tahun 2012, ada 11.043 ruang kelas yang tergolong rusak.Dari jumlah tersebut, 6.985 ruang kelas diantaranya tergolong rusak ringan. Sementara 4.058 ruang kelas lainnya tergolong rusak berat.
Ruang kelas rusak berat terbanyak ada di tingkat sekolah dasar (SD). Dimana, dari 21.137 ruang kelas di SD negeri se Riau, 2.334 ruang diantaranya tergolong rusak berat. Sementara di SD swasta jumlah yang rusak berat mencapai 164 ruang kelas.
Begitu juga ruang kelas di tingkat SMP. Dimana, dari 4.802 SMP negeri, 265 ruang diantaranya dinyatakan tergolong rusak berat. Sementara, 724 ruang lainnya tergolong rusak ringan. Lalu, di SMP swasta, 150 ruang rusak berat dan 185 ruang tergolong rusak ringan. Hal yang sama juga terjadi untuk ruang kelas SMA.Ironis.
Dua hari yang lalu, dan hampir setiap hari saya melihat gedung-gedung yang dibangun oleh pemerintah di Pekanbaru. Menjulang. Dengan disain modern, berdiri kokoh. Ada berbentuk bundar dengan puluhan ribu tempat duduk, ada bujur sangkar dengan ornamen Selembayung. Ada Corak dan warna mengusung konsep minimalis tapi dengan anggaran maksimalis. Gedung-gedung itu, saat ini membisu, diam dan kaku. Setelah riuh beberapa pekan, lalu sunyi untuk waktu yang jauh.
Ibu Hasnah jika saat ini kau telah menghadapi sang ilahi, maafkanlah kami yang tak sempurna mengartikan mata dan cahaya. Karena kami saat ini hanya mampu memahat marwah di atas langit, bukan di bumi tempat kami berpijak.
Subscribe to:
Comments (Atom)
Pesona Maya
Ku tipu wajah dg aplikasi 360 Ku bohongi tuhan dg status ku Ku singkap aib di balik unggahan Ku semai kesombongan, untuk memetik ...
-
Kematian adalah batas terakhir dari kehidupan di dunia. Kematian adalah pasti. Kematian adalah milik pribadi-pribadi bernyawa dan berjiwa....
-
Percayalah. Setiap detik peradaban ini tiada akan memberikan laluan kita untuk berhenti mencapai apa yang tak pernah kita percayai. Aku tida...
-
Air mata ini tidak menyadarkan, betapa beningnya telah merusak keruh kepedihan hidup. Diantara keinginan untuk menjadi baik, tenggelam ...
