Wednesday, November 28, 2012
Membangun Jalan ke Langit
Kampung Besar Seberang Rengat, 25 tahun yang lalu, menjadi kampung pengasingan. Adalah Sungai Indragiri yang dipaksa menjadi saksi bisu soal keterisoliran dari sebuah peradaban. Tiada lampu, jalan setapak, dengan ujung-ujung rumput di setiap sisi menguning karena terus dipijak. Ironisnya 100 meter dari bibir Sungai lainya, jalan-jalan peradaban tumbuh layak. Lampu terang, aspal menghitam, memberi keintiman roda-roda mencumbi bumi. Ketika ingin mencicipi sebuah peradaban, kami hanya memerlukan tiga menit sampan didayung memotong sungai.
Lemahnya arus dan ''sejengkal jarak'' Indragiri tak mampu menyadarkan pemilik kampung bernama Indragiri Hulu, apakah lagi kami. Bahwa keterisoliran ini bukan sebuah takdir. Ini hanya bagian dari ironi. Barulah, setelah besi, batu, semen, pasir membentuk diri menjadi beton mengangkangi Sungai Indragiri, peradaban itu menghampiri kami. Walaupun perlu jutaan hari menanti itu.
Melampaui bukit pikiran, ada langit kesadaran. Ia yang sadar, akan belajar dari kesalahan-kesalahan, lalu kesalahan itu dimodifikasi untuk menjadi sebuah kebenaran. Kebenaran adalah jalan yang harus dituju. Kebodohan yang maha bodoh adalah mengulangi kesalahan di jalan yang sama.
Setiap peradaban adalah kumpulan jalan-jalan sejarah yang disatukan oleh waktu-waktu. Membaca Pekanbaru sama halnya membaca jalan-jalan peradaban di Riau. Dari Jalan Senapelan, Bom Baru, hingga menjelma menjadi Jenderal Sudirman, mengawini Gajah Mada, menikahi Diponegoro. Dari Nangka ke Tuanku Tambusai. Dari Harapan Raya menjadi Imam Munandar. Ketika Arifin Ahmad menusuk Arengka, Soekarno-Hatta membelah diri ke HR Soebrantas, berkaloborasi dengan SM Amin.Jalan-jalan peradaban Pekanbaru ini, terus melahirkan jalan-jalan lain yang bersandar dan bercabang-cabang di badan jalan induknya. Hanya Jalan Yos Sudarso di negeri Rumbai yang masih tertatih menahan beban kecemburuan, lambat terperhatikan.
Jalan-jalan bermerek protokol, dengan badan yang lebar, permukaan rata, membujur molek, tidak bergelombang memberikan daya pikat untuk ruko, hotel, mal, dan pusat perkantoran memagari setiap sisi jalan. Lihatlah betapa rapatnya bangunan-bangunan modern yang membentengi kanan-kiri jalan. Setiap tahun jalan-jalan utama ini selalu berganti kulit, aspal yang tebal, meskipun tiada robek yang terlihat. Melintasi jalan-jalan ini, seperti berjalan di atas awan.
Keironisan akan terlihat, bila kita telah meninggalkan permukaan jalan-jalan utama ini. Ketika haluan berbelok, berputar, di simpang-simpang kecil, diujung-ujung jalan sempit, di gang-gang tak bernama, gelombang ketidaknyamanan mulai menyapa. Lubang seperti kolam-kolam kecil merata, bagaikan dipaksa menjadi penghias jalan yang beraspal tipis. Mulai dari Kaharuddin Nasution simpang Pasir Putih, Surabaya, Kartama, Sidodadi, Tengku Bay (Utama), Kelapa Sawit, bahkan beberapa titik di Soekarno-hatta.
Ini belum dihitung jalan-jalan penghubung dari satu perumahan ke perumahan lainnya, dipelosok Okura, Pembatuan Kulim, Palas dan diceruk-ceruk ruang yang tak bernama. Kecuali jika jalan yang didiami petinggi-petinggi negeri, maka permukaannya sama mengkilat dengan jabatan yang disandangnya. Tak peduli, apakah disepanjang jalan itu hanya dirinya saja yang mendiaminya.
Dari data 2.600 Km jalan milik Pemko, 850 Km dari jalan tersebut belum tersentuh aspal. Yang masuk katagori bagus hanya 1.266 KM, sedangkan yang ditakdirkan kondisi sedang 541 KM. Jikalah anggaran yang terbatas menjadi sebuah alasan pembenaran, mengapa jalan-jalan kota tak seindah bentuknya, sebagai penghuni kota, ini bisa kita paksa maklumi. Tetapi rasa pemakluman itu akan tertindih, jika kita mendengarkan niat dan keinginan sang pemimpin untuk merenovasi gedung kantor Wali Kota, merombak kediamannya beserta wakil. Merubuhkan kantor wakil-wakil kita, membangun tugu-tugu angkuh, membeli mobil dinas mewah, mengadakan seminar-seminar tak jelas ujung pangkalnya. Berpijaklah ke bumi wahai pemimpin yang kami pilih. Jangan membangun jalan di langit. Tak kuasa kami untuk menggapainya.
Sebagai ibu dari sebuah provinsi, Pekanbaru adalah representasi, suri tauladan, contoh, pengayom, serta petunjuk jalan sejarah bagi daerah lain yang berada di bawah langit Lancang Kuning. Jika ibu kota saja belum mampu memberikan laluan prioritas antara kepentingan banyak dengan kepentingan sedikit. Bagaimana dengan kondisi jalan-jalan peradaban di Talang Mamak, Akib, Sakai, Bonai, Subayang, Tambak, Kuala Kampar, Kuala cinaku, Rokan, Lubuk Dalam? ***
Subscribe to:
Comments (Atom)
Pesona Maya
Ku tipu wajah dg aplikasi 360 Ku bohongi tuhan dg status ku Ku singkap aib di balik unggahan Ku semai kesombongan, untuk memetik ...
-
Kematian adalah batas terakhir dari kehidupan di dunia. Kematian adalah pasti. Kematian adalah milik pribadi-pribadi bernyawa dan berjiwa....
-
Percayalah. Setiap detik peradaban ini tiada akan memberikan laluan kita untuk berhenti mencapai apa yang tak pernah kita percayai. Aku tida...
-
Air mata ini tidak menyadarkan, betapa beningnya telah merusak keruh kepedihan hidup. Diantara keinginan untuk menjadi baik, tenggelam ...