Sunday, July 22, 2012

Menanti Karma-karma



Perbuatan baik akan selalu melahirkan kebaikan-kebaikan. Kebaikan adalah keburukan yang diterjemahkan dalam ruang yang positif. Antara kebaikan dan ketidakbaikkan adalah sama. Sama-sama melahirkan sejarah pembelajaran. Banyak kebaikan yang tercipta dari sesuatu yang buruk. Sebab sebaik apapun sebuah keburukan dan seburuk apapun sebuah kebaikan akan selalu ada pengetahuan. Tentang keburukkan, tentang kebaikkan.
Sebagai manusia, kita dilahirkan ke dunia dari ''proses keburukkan''. Andaikan Adam tidak berbuat buruk terhadap kecintaanya kepada Hawa yang dipuja, maka kita entah berada dimana. Apakah surga akan berada di akhirat, atau hanya berada disebuah telapak kaki hawa. Ketika Hawa tergoda dari keburukan Iblis, maka Adam memahami itu sebagai cinta. Sebab keburukkan yang disematkan bagi Iblis, adalah kebaikan untuk memenuhi hasrat jiwa bagi Hawa yang dicintai Adam.
Romantisme keburukkan dan kebaikan dunia akan selalu mengikuti kita. Dia akan selalu berada di dua sisi yang berjarak tipis. Disaat keinginan untuk dicintai, maka didinding lain, keinginan untuk membenci siap menanti. Bila rasa memiliki yang begitu dalam, di pojok lain ketidakinginan rasa mempunyai begitu dangkal. Proses pemahaman diri terhadap dosa, akan melahirkan pahala-pahala yang berbeda.
Ketika kebaikan disemai di ladang keburukkan. Maka benih yang dituai adalah buah-buah baik. Ranum. Menggoda untuk disantap hati. Perputaran waktu ini akan melahirkan berjuta-juta kebaikkan. Tidak menjadi sama disaat tampang keburukkan di serakkan di rahim bumi. Buah keburukkan juga akan menjuntai seperti rambai, tumbuh masam, tapi tetap memiliki nilai. Seperti nilai Hawa memakan buah qoldy di surga. Ada pembelajaran dan ada penyesalan yang memberikan jejak tentang pertaubatan.Penyesalan dan pertaubatan inilah yang mestinya menjadi arah untuk kita sebagai manusia mampu menggapai nilai-nilai.
Riau sebagai sebuah ladang tempat berpijak bagi banyak puak, telah banyak melahirkan makna-makna kebaikan. Bergunung-gunung limpahan pembelajaran yang telah meleleh dan menetes dari zaman berzaman. Tentang nasionalisme yang dieja Sultan Syarif Kasim yang berbilang I dan II. Tentang M Boya yang mati di perairan Indragiri demi harga diri. Tentang Hang Tuah meninggalkan kaumnya demi menegakkan marwah bangsa. Tentang Ismail Suko yang menantang gelombang dan arus kekuasaan Jawa.
Namun, menghapal Riau kekinian adalah membaca huruf-huruf tak beraturan. Antara Kampar menyalip Rokan Hulu, menelikung Rokan Hilir, menyepi di Pelalawan. Antara Indragiri, angkuh di Hilir, Senyap di Hulu, bergemuruh di Kuantan. Bengkalis meredupkan Mandau, melepaskan Meranti, menyembunyikan Dumai. Pekanbaru angkuh meniti takdir ketika ditasbihkan menjadi Ibu sebuah provinsi. Padahal huruf-huruf itu masih bercerita tentang langit Bumi Lancang yang berwarna kuning. Arus air dari sengkayan-sengkayan yang dulu menyatukan Riau, kini seperti mengalir tak tentu menuju muara yang mana. Semua bergegas menuju tempat yang semu.
Membaca Riau saat ini adalah menghitung angka-angka. Tentang Talang Mamak yang tak mampu lagi tamak. Tentang hutan yang tak lagi belantara. Tentang hewan yang tak lagi buas dan liar. Tentang sungai yang tak lagi kuasa menahan jernih. Tentang gelombang yang tak mampu tinggi. Bahkan tentang awan yang turun menjilat bumi mengawini asap-asap.
Menterjemahkan Riau adalah menunggu karma-karma. Ketika ditinggikan tak ingat tentang arti rendah. Ketika dijulang lupa makna akan pengorbanan. Ketika didahulukan tak menoleh kebelakang. Ketika dituakan tak mengakui proses terciptanya muda. Ketika menerima seperti tak pandai berterima. Ketika diterangkan, makna gelap dilupakan. Bahkan disaat bebas, lupa filosofi dipenjara. Yallah ampunilah kami dan pemimpin kami yang belum kuasa membaca arti hidup pasti akan mati.***



Menanti Karma-karma



Perbuatan baik akan selalu melahirkan kebaikan-kebaikan. Kebaikan adalah keburukan yang diterjemahkan dalam ruang yang positif. Antara kebaikan dan ketidakbaikkan adalah sama. Sama-sama melahirkan sejarah pembelajaran. Banyak kebaikan yang tercipta dari sesuatu yang buruk. Sebab sebaik apapun sebuah keburukan dan seburuk apapun sebuah kebaikan akan selalu ada pengetahuan. Tentang keburukkan, tentang kebaikkan.
Sebagai manusia, kita dilahirkan ke dunia dari ''proses keburukkan''. Andaikan Adam tidak berbuat buruk terhadap kecintaanya kepada Hawa yang dipuja, maka kita entah berada dimana. Apakah surga akan berada di akhirat, atau hanya berada disebuah telapak kaki hawa. Ketika Hawa tergoda dari keburukan Iblis, maka Adam memahami itu sebagai cinta. Sebab keburukkan yang disematkan bagi Iblis, adalah kebaikan untuk memenuhi hasrat jiwa bagi Hawa yang dicintai Adam.
Romantisme keburukkan dan kebaikan dunia akan selalu mengikuti kita. Dia akan selalu berada di dua sisi yang berjarak tipis. Disaat keinginan untuk dicintai, maka didinding lain, keinginan untuk membenci siap menanti. Bila rasa memiliki yang begitu dalam, di pojok lain ketidakinginan rasa mempunyai begitu dangkal. Proses pemahaman diri terhadap dosa, akan melahirkan pahala-pahala yang berbeda.
Ketika kebaikan disemai di ladang keburukkan. Maka benih yang dituai adalah buah-buah baik. Ranum. Menggoda untuk disantap hati. Perputaran waktu ini akan melahirkan berjuta-juta kebaikkan. Tidak menjadi sama disaat tampang keburukkan di serakkan di rahim bumi. Buah keburukkan juga akan menjuntai seperti rambai, tumbuh masam, tapi tetap memiliki nilai. Seperti nilai Hawa memakan buah qoldy di surga. Ada pembelajaran dan ada penyesalan yang memberikan jejak tentang pertaubatan.Penyesalan dan pertaubatan inilah yang mestinya menjadi arah untuk kita sebagai manusia mampu menggapai nilai-nilai.
Riau sebagai sebuah ladang tempat berpijak bagi banyak puak, telah banyak melahirkan makna-makna kebaikan. Bergunung-gunung limpahan pembelajaran yang telah meleleh dan menetes dari zaman berzaman. Tentang nasionalisme yang dieja Sultan Syarif Kasim yang berbilang I dan II. Tentang M Boya yang mati di perairan Indragiri demi harga diri. Tentang Hang Tuah meninggalkan kaumnya demi menegakkan marwah bangsa. Tentang Ismail Suko yang menantang gelombang dan arus kekuasaan Jawa.
Namun, menghapal Riau kekinian adalah membaca huruf-huruf tak beraturan. Antara Kampar menyalip Rokan Hulu, menelikung Rokan Hilir, menyepi di Pelalawan. Antara Indragiri, angkuh di Hilir, Senyap di Hulu, bergemuruh di Kuantan. Bengkalis meredupkan Mandau, melepaskan Meranti, menyembunyikan Dumai. Pekanbaru angkuh meniti takdir ketika ditasbihkan menjadi Ibu sebuah provinsi. Padahal huruf-huruf itu masih bercerita tentang langit Bumi Lancang yang berwarna kuning. Arus air dari sengkayan-sengkayan yang dulu menyatukan Riau, kini seperti mengalir tak tentu menuju muara yang mana. Semua bergegas menuju tempat yang semu.
Membaca Riau saat ini adalah menghitung angka-angka. Tentang Talang Mamak yang tak mampu lagi tamak. Tentang hutan yang tak lagi belantara. Tentang hewan yang tak lagi buas dan liar. Tentang sungai yang tak lagi kuasa menahan jernih. Tentang gelombang yang tak mampu tinggi. Bahkan tentang awan yang turun menjilat bumi mengawini asap-asap.
Menterjemahkan Riau adalah menunggu karma-karma. Ketika ditinggikan tak ingat tentang arti rendah. Ketika dijulang lupa makna akan pengorbanan. Ketika didahulukan tak menoleh kebelakang. Ketika dituakan tak mengakui proses terciptanya muda. Ketika menerima seperti tak pandai berterima. Ketika diterangkan, makna gelap dilupakan. Bahkan disaat bebas, lupa filosofi dipenjara. Yallah ampunilah kami dan pemimpin kami yang belum kuasa membaca arti hidup pasti akan mati.***



Membangun Jalan ke Langit



Kampung Besar Seberang Rengat, 25 tahun yang lalu, menjadi kampung pengasingan. Adalah Sungai Indragiri yang dipaksa menjadi saksi bisu soal keterisoliran dari sebuah peradaban. Tiada lampu, jalan setapak, dengan ujung-ujung rumput di setiap sisi menguning karena terus dipijak. Ironisnya 100 meter dari bibir Sungai lainya, jalan-jalan peradaban tumbuh layak. Lampu terang, aspal menghitam, memberi keintiman roda-roda mencumbi bumi. Ketika ingin mencicipi sebuah peradaban, kami hanya memerlukan tiga menit sampan didayung memotong sungai.
Lemahnya arus dan ''sejengkal jarak'' Indragiri tak mampu menyadarkan pemilik kampung bernama Indragiri Hulu, apakah lagi kami. Bahwa keterisoliran ini bukan sebuah takdir. Ini hanya bagian dari ironi. Barulah, setelah besi, batu, semen, pasir membentuk diri menjadi beton mengangkangi Sungai Indragiri, peradaban itu menghampiri kami. Walaupun perlu jutaan hari menanti itu.
Melampaui bukit pikiran, ada langit kesadaran. Ia yang sadar, akan belajar dari kesalahan-kesalahan, lalu kesalahan itu dimodifikasi untuk menjadi sebuah kebenaran. Kebenaran adalah jalan yang harus dituju. Kebodohan yang maha bodoh adalah mengulangi kesalahan di jalan yang sama.
Setiap peradaban adalah kumpulan jalan-jalan sejarah yang disatukan oleh waktu-waktu. Membaca Pekanbaru sama halnya membaca jalan-jalan peradaban di Riau. Dari Jalan Senapelan, Bom Baru, hingga menjelma menjadi Jenderal Sudirman, mengawini Gajah Mada, menikahi Diponegoro. Dari Nangka ke Tuanku Tambusai. Dari Harapan Raya menjadi Imam Munandar. Ketika Arifin Ahmad menusuk Arengka, Soekarno-Hatta membelah diri ke HR Soebrantas, berkaloborasi dengan SM Amin.Jalan-jalan peradaban Pekanbaru ini, terus melahirkan jalan-jalan lain yang bersandar dan bercabang-cabang di badan jalan induknya. Hanya Jalan Yos Sudarso di negeri Rumbai yang masih tertatih menahan beban kecemburuan, lambat terperhatikan.
Jalan-jalan bermerek protokol, dengan badan yang lebar, permukaan rata, membujur molek, tidak bergelombang memberikan daya pikat untuk ruko, hotel, mal, dan pusat perkantoran memagari setiap sisi jalan. Lihatlah betapa rapatnya bangunan-bangunan modern yang membentengi kanan-kiri jalan. Setiap tahun jalan-jalan utama ini selalu berganti kulit, aspal yang tebal, meskipun tiada robek yang terlihat. Melintasi jalan-jalan ini, seperti berjalan di atas awan.
Keironisan akan terlihat, bila kita telah meninggalkan permukaan jalan-jalan utama ini. Ketika haluan berbelok, berputar, di simpang-simpang kecil, diujung-ujung jalan sempit, di gang-gang tak bernama, gelombang ketidaknyamanan mulai menyapa. Lubang seperti kolam-kolam kecil merata, bagaikan dipaksa menjadi penghias jalan yang beraspal tipis. Mulai dari Kaharuddin Nasution simpang Pasir Putih, Surabaya, Kartama, Sidodadi, Tengku Bay (Utama), Kelapa Sawit, bahkan beberapa titik di Soekarno-hatta.
Ini belum dihitung jalan-jalan penghubung dari satu perumahan ke perumahan lainnya, dipelosok Okura, Pembatuan Kulim, Palas dan diceruk-ceruk ruang yang tak bernama. Kecuali jika jalan yang didiami petinggi-petinggi negeri, maka permukaannya sama mengkilat dengan jabatan yang disandangnya. Tak peduli, apakah disepanjang jalan itu hanya dirinya saja yang mendiaminya.
Dari data 2.600 Km jalan milik Pemko, 850 Km dari jalan tersebut belum tersentuh aspal. Yang masuk katagori bagus hanya 1.266 KM, sedangkan yang ditakdirkan kondisi sedang 541 KM. Jikalah anggaran yang terbatas menjadi sebuah alasan pembenaran, mengapa jalan-jalan kota tak seindah bentuknya, sebagai penghuni kota, ini bisa kita paksa maklumi. Tetapi rasa pemakluman itu akan tertindih, jika kita mendengarkan niat dan keinginan sang pemimpin untuk merenovasi gedung kantor Wali Kota, merombak kediamannya beserta wakil. Merubuhkan kantor wakil-wakil kita, membangun tugu-tugu angkuh, membeli mobil dinas mewah, mengadakan seminar-seminar tak jelas ujung pangkalnya. Berpijaklah ke bumi wahai pemimpin yang kami pilih. Jangan membangun jalan di langit. Tak kuasa kami untuk menggapainya.
Sebagai ibu dari sebuah provinsi, Pekanbaru adalah representasi, suri tauladan, contoh, pengayom, serta petunjuk jalan sejarah bagi daerah lain yang berada di bawah langit Lancang Kuning. Jika ibu kota saja belum mampu memberikan laluan prioritas antara kepentingan banyak dengan kepentingan sedikit. Bagaimana dengan kondisi jalan-jalan peradaban di Talang Mamak, Akib, Sakai, Bonai, Subayang, Tambak, Kuala Kampar, Kuala cinaku, Rokan, Lubuk Dalam? ***

Pesona Maya

Ku tipu wajah dg aplikasi 360 Ku bohongi tuhan dg status ku Ku singkap aib di balik unggahan  Ku semai kesombongan, untuk memetik ...