Wednesday, May 25, 2011

Ini Tentang XIII

Jikalah detik ini berpisah dari waktu
Maka tak kan pernah menit meniti dunia
Detik dan menit adalah kitayang mencumbuinya
Hingga melahirkan berjuta waktu-waktu
Jadi jangan terlalu angkuh dengan hari ini
Sebab masih ada esok, lusa, minggu, bulan, tahun, dan abad-abad

Ini hanya tentang kapan, bila, dimana, kemana, dan apa
Rahasia waktu adalah rahasia sang pencipta
Tak elok jika kita memaksakan untuk mengerti
Apalagi kesombongan itu melarutkan kita menjadi seperti dia

Sudahlah...
Ini hanya tentang kalah dan menang
Kemenangan kita adalah kekalahan kita jua
Sebab waktu-waktu akan terus melilit kita
Dari menang ke kalah dari kalah kemenang

Monday, May 9, 2011

Surat Hawa untuk Adam




Dear Adam

Ini mungkin adalah tulisan terakhir yang aku pahatkan di setiap jejak telapak kaki-mu yang aku temui. Bukan aku jemu. Tidak juga aku lelah. Apalagi putus asa, menanti. Tapi ini adalah cinta. Ini adalah pengorbanan. Aku ingin lebih sedikit untuk memahami. Bahwa penantian-penantian ini tidak mutlak harus  berujung kepertemuan kita.

Biarlah. Aku akan lukis sendiri didinding hati ku.Tidak lagi di jejak langkahmu. Sebagai mahluk yang tercipta dari sedikit tulang yang ada di rusukmu, aku berjuang untuk mengerti. Sebab tulang-tulangmu tidak hanya buat aku. Apalagi tulang lembut yang tersembunyi didadamu.

Lantunan dan untaian doa-doa yang terlanjur aku titip, tak usah kamu hiraukan lagi. Sekali lagi jangan pedulikan. Doa-doa itu menurutku hanya akan memperlambat tujuanmu untuk mencari kebahagian yang tak kuasa aku berikan. Setiap rukuk, sujud, dan lantunan ayat-ayat, kini tak lagi aku menyebut-nyebut namamu.

Aku tidak kecewa. Aku juga tidak kesepian. Apalagi sampai aku marah dan benci. Namun jika ada air yang membasahi perjalananmu. Anggap sajalah itu sebagai penyejuk. Sebab akupun tak paham. Mengapa setiap aku ingin menghapus setiap jejak kakimu di bumi ini. Air selalu mencurah keluar dari sudut kedua mataku.

Aku terlanjur banyak belajar dari hubungan ini. Tentang kesetiaan. Tentang kasih sayang. Tentang kepedihan. Tentang kejemuan. Tentang kepasrahan saat tidak ada lagi pilihan. Tentang semua janji yang pernah kamu ucapkan ketika kita dicampakkan tuhan dari surga yang kita cipta sendiri. Bahkan tentang penghianatan.

Jika kau tanya apakah saat ini aku punya pengharapan? Sumpah. Demi Allah. Sedikitpun aku tak berharap apa-apa. Apa lagi itu hanya sebuah pengharapan. Berabad-abad waktu sudah. Berjuta-juta bulan penantian telah menghantarkan aku pada sebuah titik kesadaran. Sesungguhnya kesendirianku adalah kesendirian yang membatu karang. Tak pecah dihempas gelombang. Apalagi hanya setitik air yang menetes dimataku.

Sebagai mahluk yang sedikit memberi harum dalam taman hidupmu. Izinkan aku untuk terus merawat dan menjaga taman-taman impian yang masih terselip dijiwa. Akan aku biarkan terus di situ. Sampai suatu masa ada bunga yang tumbuh, tapi bukan kuntum seperti yang kamu janjikan terdahulu.


Neraka Jahanam, Jumat 22 April 2011
pukul 00.58 WNJ

TTD


Hawa

Thursday, May 5, 2011

Awas Politik Tak Kejam

Manusia tercipta dan terlahir dari sebuah kesepakatan politik. Sebab bagi ku politik adalah kumpulan-kumpulan kesepakatan antara dua belah pihak. Bukan hanya penciptaan manusia saja, bahkan keberadaan dunia ini adalah buah dari kesepakatan politik dari sang pengcipta dengan umatnya.

 Ketika Adam menginginkan seorang wanita untuk membunuh kesepiannya tak kala hidup di Surga, dia melakukan pendekatan dengan tuhan. Setelah melalui sebuah proses lobi yang panjang, kesepakatan akhirnya tuhan sang diberi kuasa, mengabulkan permintaan Adam dengan menciptakan Hawa dari secuil bagian tubuhnya.

Begitu juga ketika Adam melanggar kesepakatan koalisi dengan Tuhan. Perdebatan dan perbedaan pandangan bermunculan, disaat Iblis sebagai oposisi mampu menggiring pikiran politik Adam dan Hawa untuk mengkritisi kebijakan serta aturan Tuhan di ranah Surgawi.

Meskipuan koalisi antara Tuhan dan Adam tidak menimbulkan perpecahan, namun tentu dari setiap kesepakatan politik memiliki sanksi-sanksi yang mengharuskan si pembuat kesepatan untuk secara demokratis menerima resiko itu. Akhinya sebagai sebuah konsekwensi, Adam dan Hawa dipindahkan proses kenikmatan hidupnya dari Surga ke Dunia.
Sementara Iblis dari awal penciptaannya hingga saat ini tetap menjadi oposisi dari kerajaan tuhan dengan umat-umatnya.

Disaat Adam dan Hawa memulai kehidupan baru di Dunia, disaat itu pula kehidupan politiknya dalam konteks lebih regional dimainkannya. Sehingga kesepakatan politik antara Adam dan Hawa untuk selalu setia dan mendampingi sehidup semati membuahkan hubungan-hubungan secara psikologis dan biologis. Hubungan ini melahirkan benih-benih kehidupan lainya. Begitu seterusnya dan kita sebagai nur dari insan-insan berhati serta bernur-ani eksis hingga bermiliar-miliar kehidupan, sejarah, dan peradaban. Singkatnya, tidak manusia, tidak binatang, tidak tumbuhan, kita adalah mahluk bernyawa yang tercipta dari sebuah kesepakatan politik.

Sedangkan Iblis dengan setan, hantu, dan mahluk ghaib lainya tetap menjadi oposisi mengkritisi kehidupan kita. Mengevaluasi setiap sesat dan merangkul setiap dosa. Sedangkan Malaikat tetap menjadi penjaga keadilan. Ketika salah ditempatkan yang salah dan kebenaran diberi ruang kebenaran. Malaikat adalah pengadilan yang teradil. Memiliki satu fungsi tidak berafiliasi ke manusia, iblis, dan sejenisnya. Malaikat tetap menjadi pengawas bagi kesepakatan politik Tuhan dan Adam (sebagai manusia).

Jika kita sebagai mahluk bernur-ani (hati bercahaya) adalah produk-produk politik? Lalu mengapa kita takut untuk masuk dan bermain dalam ruang itu. Politik itu sangat-sangat menggairahkan. Politik membangkitkan segala birahi kehidupan. Politik adalah kumpulan-kumpulan kesenangan dunia dan surgawi. Politik seperti cahaya yang akan memberi penerangan dari setiap gelap yang akan menghampiri kita. Politik adalah wanita dan lelaki yang molek tak berbusana. Politik adalah kesejahteraan abadi.Politik itu tidak jahat apalagi kejam.

Ketika politik tampak dipermukaan tidak bersahabat. Penuh tipu muslihat. Menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Mendewakan jabatan dan kepentingan. Menenggelamkan persahabatan. Menikam dari belakang. Menggungting dalam lipatan. Menggadaikan kemampuan nurani untuk berinteraksi. Menjadi musang berbulu domba. Berhati culas. Menjadi pragmatis, oportunis, dan skeptis. Bahkan menjadi pembunuh. Itu karena kita terjebak dalam permainan sang Iblis sebagai oposisi. Terlena bujuk rayu seperti Adam yang memetik buah Quldy.

Bukankah Tuhan telah memberikan peraturan-peraturan kesepakatan berkoalisi dengan manusia. Tuhan juga telah memperbaharui kesepakatan itu. Mulai dari kesepakatan koalisi Zabur, Taurat, Injil, dan terakhir Al-quran. Jika saja kita sebagai manusia tidak melanggar kesepakatan itu, tentulah tidak ada konsekwensi dan dampak politik yang akan kita terima di dunia dan akhirat. Di dalam Al-quran semua terkandung mana yang tak boleh mana yang halal. Mana yang harus dibuat dan tak dilakukan. Dari titik mana kita melangkah, berlari, berjuang, dan berdiri. Al-quran adalah produk politik yang memberikan batasan-batasan kita untuk bermain politik di dunia ini.

Sekali lagi politik itu tidak kejam. Yang kejam itu adalah orang-orang yang melanggar kesepakatan dari perjanjian koalisi antara tuhan dan manusia. 

Monday, May 2, 2011

Air Mata Putri Raja Indragiri



Oleh EDWIR SULAIMAN

    Disaat pikiranku kosong menjelajah bebas ke sudut-sudut kampung halaman, aku melihat seorang putri raja duduk di kursi singgasana yang patah di tengah danau yang dulu digalinya, tepat dibibir aliran sungai Indragiri.
     Dengan rangkaian daun-daun rengas, angsana, kasturi, kulim, ramin, akasia, sebagai penutup tubuhnya yang tak berbusana. Tidak ada mahkota dirambut hitam yang terurai menyentuh bibir. Diujung rambutnya, basah dengan air yang mencucur dari matanya.
    Ketika sadar akan pandanganku putri itu terkejut, terpaku dan heran melihat kehadiranku lalu dia bercakap-cakap,’’Jangan mendekat padaku. Aku adalah putri dari raja danau ini,’’. Dan akupun bertannya, Apakah engkau sudah lama tinggal di Danau yang sunyi ini? Jujurlah siapa engkau mengapa engakau terlihat sedih, hingga air matamu menjadikan banjir melanda kampungku?.
    Aku adalah putri dan disampingku ini adalah raja dari leluhurmu yang telah membangun danau ini. Menanami rengas, akasia, meranti, kulim, sungkai, rotan, batu bara, minyak, sampai mengaliri sungai Indragiri. Memahat jati diri indragiri.Aku putri yang kehilangan jiwa, kehilangan kesucian karena keturunanku telah mendustai perjuangan kami.
     Sebelum putri raja itu memajang kalimat-kalimat sedihnya akupun menjawab,’’Kesedihanmu, kegundahanmu wahai sang putri raja adalah kesedihan nyata yang tak terbilang dengan banyak kata. Kegelisahanmu sesuatu yang terlihat di depan mu saat ini. Kesedihan mendalam rakyat termasuk aku yang telah jauh meninggalkan kampung ini,’’.
     Tanah Indragiri ini, baik di hulu maupun di hilir tidak lagi subur disemai bagi rengas, akasia, kulim, meranti, sungkai, ramin, rotan, batu bara, minyak untuk tumbuh. Lihatlah daun-daun itu sudah mengering. Batang-batang dan akarnya telah hanyut menjadi buih-buih dan lalu hilang terbawa arus ke muara yang tak bernama.
     Hanya satu yang tersisa saat ini wahai tuan putri. Rakyatmu bernama Talang Mamak masih hidup dalam kesendiriannya. Masih mencari jati diri.  Mengais rezeki dibalik eskapator, traktor, sinso, pemilik keturunanmu. Di hutan-hutan yang tak lagi hijau oleh dedaunan.
     Hutan yang engkau warisi kini telah berubah fungsi. Liatlah asap yang membumbung dibalik bukit Tiga Puluh, itu adalah pabrik sawit, pabrik kayu, yang sedang membakar daun-daun rengas, akasia, sungkai, ramin, kulim, dan batu bara. Jangan kau berharap untuk melihat sialang-sialang yang berbuah madu di pohon yang engkau pelihara. Kini lebah itu telah beranjak ke negeri seberang. Terbang dengah membawa sejuta sedih.
    Jika kau membuka gulungan koran yang mengapung disela-sela kiambang ditempat engaku duduk itu. Bacalah. Isinya adalah tentang keturunan dan rakyatmu yang menyia-nyiakan amanat dari tuhan. Banyak yang bukan hak dijadikan miliknya. Tidak saja taman hutan yang kau tinggalkan sudah punah ranah. Bahkan lampu-lampu penerangan untuk menyinari jalan setapak di depan danau ini, juga menjadi sesuatu yang harus dimiliki.
     Tak terbilang dengan angka, tak tersebut dengan kata, tak berbekas dengan tanda, tak tampak dengan mata, bahkan hatipun tertutup dengan kabut keserakahan. Semua menjadi tampak sama. Antara yang hak dan yang bukan hak telah membaur menjadi satu dan diberi nama korupsi.
     Lihatlah jembatan itu. Tengoklah bangunan istana itu. Perhatikan turap dibibir sungai atau menolehlah dibalik gedung wakil rakyat dan gedung pemerintahan kerajaan yang kau tinggalkan itu. Ada banyak sekali tipu untuk melegalkan muslihat yang sedang dirancang oleh wakil-wakil yang kami pilih kemarin.
      Tuan putri raja yang cantik jelita, ada 23 miliar rengas, ramin, akasia, sungkai, punak, sawit, batu bara, minyak, yang dibagi-bagi merata oleh wakil-wakil kami itu. Itu belum seberapa tuan Putri raja, tanah disebarang sana yang kau gali dan bersihkan 200 tahun kemarin.  Kini sekitar 116 miliar kubik sudah menjadi pemilik pribadi dari segelintir hulubalang, penasehat kerajaan, bahkan penunggang kuda raja juga mendapatkan bagian. Dengan dalih untuk pinjaman. Tanah talang mamak yang kau serahkan untuknya kemarin, juga sudah hilang menjadi milik beberapa orang rakyatmu.
     Ironis. Itulah kata yang pantas untuk menggambarkan nasib rakyatmu kini sang putri. Ketika air mata emak dan abah kami dikampung menetes menahan perihnya hidup. Ditempat lain, pemimpin negeri ini tertawa dalam kemunafikan melihat dirinya sendiri. Meskipun mereka dihadapkan karma atas apa yang mereka perbuat.
     Kalaulah tuan putri menanyakan harapan atas apa yang menjadi keinginan sebagian besar rakyat yang kau tinggalkan? Bila melihat kondisi terkini, maka harapan-harapan untuk hidup sejahtera seperti zaman kerajaan yang tuan putri pimpin terdahulu, sepertinya hal itu jauh panggang dari api.
     Tuan putri bisa melihat rakyat yang ada di Rakit Kulim, kuala cinaku, kelayang, Kampung Boso, Rantau Mapesai, tambak, telok erong, teluk bagos, kauantan babu, pekan heran, talang jerinjing, siberida, dan hampir sebagian besar daerah kerajaan Indragiri hulu ini masih hidup dalam alam susah. Berharap kepada pemimpin, sama halnya harapan digantungkan kepada pungguk yang terus merindu bulan.
     Lihatlah pendayung becak yang melintasi danau ini. Setiap putaran rodanya adalah pedih yang tak tertahan menyusuri jalan-jalan yang tampak sama meskipun sudah beberapa dasawarsa kau tinggalkan.
      Dulu! Membaca Indragiri Hulu adalah kumpulan butiran-butiran sejarah masa silam. Tentang sejarah kekuasaan, singgasana, nasionalisme, kepahlawanan, hingga harapan kemakmuran. Melukis Indragiri sama halnya menggores garis-garis lurus yang didalamnya mengandung banyak benih perjuangan. Yang melahirkan pemikiran, kemenangan, bahkan telah menjadi lumbung pemimpin untuk negeri junjungan.
       Kini? Membaca Indragiri Hulu adalah membaca tentang korupsi, manipulasi, kolusi, dan pengembang biak-an faham feodalisme, se-saudara, se-kampong, se-marga, se-suku yang ujungnya menjadikan se-penjara.
       Lima sampai enam bulan ke depan, kerajaan tuan putri ini akan kembali melaksanakan pemilih ‘’raja’’ untuk menakhodai negeri ini lima tahun ke depan. Coba perhatikan baliho atau sepanduk yang membentang dari tiang listrik di depan danau, yang berwarna kuning, biru, merah, hijau itu. Tuan putri pasti bisa mencium aroma kebohongan. Wangi semerbak yang dihembuskan calon pemimpin itu hanya untuk menutupi bau busuk yang tersimpan.
     Celakanya tuan putri, rakyat kerajaan ini selalu terlena dengan wangi-wangi berbentuk bantuan rumah ibadah, baju kaos, sembako, kalender, dan sebagainya. Padahal wewangian yang disebar oleh calon pemimpin itu berasal dari ramin, akasia, batu bara, sawit, sungkai, dan minyak yang tuan raja semai terdahulu.  
      Jadi jika tuan putri dan raja bersedih melihat apa yang terjadi terhadap bekas daerah kekuasaan kerajaan Indragiri ini, adalah kesedihan seluruh rakyat tuan putri. Kesedihan dimana tidak ada lagi bangga yang menyeruak, seperti kebanggaan raja menaklukkan congkaknya penjajahan tempo dulu. Bangga melihat hutan subur, sungai mengalir sampai batas muara, lenggak lenggok penari rentak bulian memecahkan  tandan mayang. Kebanggaan itu kini tinggal sejarah.
     Hari-hari hanya diisi tentang kabar ditangkapnya, ditahanya, dijadikanya tersangka mantan dan wakil rakyat kerajaan ini. Perhatikanlah headline koran itu. ‘’Mantan Bupati jadi Tersangka’’. Sakit rasanya tuan putri melihat itu.

Pesona Maya

Ku tipu wajah dg aplikasi 360 Ku bohongi tuhan dg status ku Ku singkap aib di balik unggahan  Ku semai kesombongan, untuk memetik ...