Saturday, April 16, 2011

Puji-Puja Setelah Mati Tak Berguna

Kematian adalah batas terakhir dari kehidupan di dunia. Kematian adalah pasti. Kematian adalah milik pribadi-pribadi bernyawa dan berjiwa. Kematian pedih. Kematian menyakitkan bagi yang ditinggal. Kematian menuntaskan segala prahara dunia. Kematian juga menakutkan, meskipun yang ditakutkan tidak tahu kapan hadir. Kematian rahasia sang pemilik nyawa. Kematian bergandengan tangan dengan kehidupan. Kematian milik kita, kamu, dia, serta aku.
    Ketika mati disematkan ke diri, maka tuntas sudahlah seluruh sejarah peradaban dunia. Jika mati adalah jiwa-jiwa kerdil, seperti petani, penjambret, perompak, pemulung, tukang bangunan, cleaning service dan lainya, kematianya hanya seperti angin yang diterbangkan debu.  Paling-paling bendera putih berkibar rendah. Setelah itu hanya tangis yang menggugu dari sanak keluarga.
    Berbeda jika kematian adalah milik  pribadi-pribadi besar. Tokoh masyarakat. Tokoh agama. Tokoh politik. Tokoh publik. Tokoh perjuangan. Kematianya sangat ''bergema'' dan ''meriah''. Berjejer karangan bunga. Ucapan belasengkawa membujur dari media cetak hingga media elektronika. Dari ujung rumah duka sampai ke batas rumah persinggahan terakhir. Segala puji dan puja menjuntai membentuk lingkaran semua tentang kebaikan, kepahlawanan, perjuangan, kedermawanan, kesederhanaan, kejujuran, dan beribu-ribu kata mulia meluncur dari mulut-mulut yang juga pribadi-pribadi besar.
    Memori-memori kebaikan, keironisan, ketangguhan ditumpahkan dalam berbagai bentuk ungkapan belasengkawa. Tidak ada buruk apalagi dosa yang mesti dimaafkan. Tidak ada pencelaan, meskipun hakekat manusia adalah mahluk tercela.  Sudah beribu-ribu jiwa-jiwa besar yang dipanggil satu persatu oleh sang pencipta. Sudah beribu-ribu pula puji-puja mengatarkan jiwa itu ke peristirahatannya yang terakhir.
    Ketika jiwa Soekarno melepaskan diri dari raganya yang tersunyikan. Seketika itu tunas-tunas kepahlawanan menyeruak bak jamur tumbuh. Berpuluh-puluh buku, biografi, autobiografi, dan sisi humanisme Soekarno dipahat dalam lembar-lembar kertas. Paham, pemikiran, ide, dan pandangan Soekarno menjadi sebuah pemikiran yang harus dipelajari serta ditelusuri. Bahkan sampai kepekuburannya dia dikeramatkan.  Padahal ketika jiwa dan raganya masih menyatu. Dia diasingkan. Dia dibunuh dalam kesepian. Dia tak terpikirkan. Dia menderita. Dia sekarat di atas tanah dan air yang dia merdekakan.     

Bersambung....

No comments:

Post a Comment

Pesona Maya

Ku tipu wajah dg aplikasi 360 Ku bohongi tuhan dg status ku Ku singkap aib di balik unggahan  Ku semai kesombongan, untuk memetik ...