Thursday, March 17, 2011

KEHILANGAN

Ada teman berkata...
''knapa nasib mu beberapa tahun belakangan sial..selalu ditimpa kemalangan...selalu kehilangan...sering mendapatkan musibah...dan intinya ga ada baek2nyalah...
Aku sempat berpikir juga...
aku tak langsung menjawab pertanyaan ini...
krn meskipun aku menjawab..
ku yakini jawaban aku tidak bisa dimengerti dan akan sulit dicernanya..
aku sadar kemampuannya untuk menterjemahkan jawaban ku hanya sebatas antara ya dan tidak
tapi akhirnya jawaban ku itu aku berikan juga...

aku bilang...takdir, kematian, kesialan, kemalangan, adalah sesuatu yg abstrak....tidak berpola..apa lagi berpeta..
jadi ku anggap semua itu adalah sebuah lingkaran...yg suatu saat akan dirasakan oleh kita semua...tidak bupati..tidak gubernur..tidak wali kota, tidak presiden...dan apa lagi kita sebagai org2 yang menakdirkan diri sebagai bawahan..persoalannya kapan itu terjadi?...kebetulan saat ini terjadi pada ku...setidaknya aku telah dan sudah melalui saat2 itu...
Soal kehilangan...sesungguhnya jauh sebelum kita lahir..kita adalah mahluk2 yang penuh kehilangan..kita telah kehilangan akan nikmatnya berada dirahim..kita kehilangan saat2 dilhrkan..kita kehilangan masa bayi, balita, anak2, remaja,  bahkan kita kehilangan akan tuhan kita sendiri..

Tuesday, March 15, 2011

Biawak Didadaku


oleh Edwir Sulaiman pada 18 Desember 2010 jam 22:34
Mengapa lambang Negara Garuda?
Mengapa Garuda mesti menjadi simbol negara?
Padahal..sampai saat ini kita tak tau seperti apa binatang itu!
Bagaimana bentuk mata kirinya, bagaimana bentuk raut wajah kirinya?
Karna yang kita tau mata dan wajah kanan.
Bagaimana bentuk punggungnya?
Apakah dia punya pantat atau tidak? Kita tidak tau
Apakah ketidakjelasan ini membuat bangsa kita ikut2 tak jelas?


Mengapa mesti Garuda?
Mengapa tidak Komodo, Biawak, Elang, Rajawali, atau burung walet?
Mengapa tidak ular, kambing, ayam, anjing?
Mengapa tidak semut, harimau, gajah, kucing, atau babi?

Mengapa Garuda harus diagungkan?
Jika memang garuda ada dinegeri pewayangan!
Mengapa garuda yang harus diambil?
Mengapa tidak anoman atau monyet?
Mengapa tidak arwana?
Mengapa tidak Gareng, Petruk, Bagong?
Mengapa tidak sinta yang seksi?

Coba kalo garuda tidak ada..dan diganti Biawak
tentu enak mendengar lagunya...
Biawak...didadaku...$$###***

Orgasme Kekuasaan?


oleh Edwir Sulaiman pada 09 Maret 2011 jam 23:31
Zaman telah berubah. Dari Siti Khadijah ke Siti Aminah. Dari Siti Nurbaya ke ''Siti'' Kartini. Dari emansipasi ke emangsih. Pengetahuan terus berkembang. Dari berjalan kaki kini sudah terbang. Dari tv hitam putih ke televisi LCD. Dari patok lele ke ular tangga. Dari Halma ke PS 2. Perjudian semakin canggih. Dari kim ke Sie Jie. Dari daun remi ke Texas Poker. Kejahatan selalu tumbuh. Dari maling ayam ke maling CD. Dari penjarahan ke berdagang dipenjara. Dari sunat menyunat ke korupsi. 
    Hanya satu yang tak berkembang. Tak berubah. Tak tumbuh. Tak canggih. Yaitu politik. Politik tetap sama. Dari kelahiran manusia sampai dunia mau kiamat, politik hanya mampu melahirkan satu pengertian. Satu bahasa. Satu jiwa. Satu metode. Satu cara. Satu sistem. Bagaimana meraih kekuasaan?
    Kekuasaan inilah roh dari politik. Tak peduli mazhab politik mana yang dianut. Tak tahu diranah manakah kita berada. Apakah di bumi demokrasi, otokrasi, komunisme, oligarkhi. Kekuasaan memang tak akan pernah membuat kita mencapai orgasme politik. Kekuasaan juga tak akan mampu membuat kita terpuaskan dalam konteks apapun kenikmatan yang ada dimuka bumi ini. Kekuasaan ibarat opium, heroin, sabu-sabu, ganja. Selalu menjadi candu untuk terus dan terus menikmatinya.

Pesona Maya

Ku tipu wajah dg aplikasi 360 Ku bohongi tuhan dg status ku Ku singkap aib di balik unggahan  Ku semai kesombongan, untuk memetik ...